Senin, 26 Juni 2023

Sajak Senandika

Padamu, wahai sang pelipur lara…

Seperti biasa, tulisan ini tak untuk dipublikasikan kepada khalayak umum pembaca kata tanpa makna..

Namun, Tulisan ini hanya dipersembahkan khusus untuk orang tersayang pemilik tahta hati asmaraloka

Teruntuk, nama yang selalu terpatri dalam senandika…

Sebenarnya, Vihima tak tahu kata apa yang akan ditorehkannya..

Dan juga, rangkaian kata ini ditulis atas permintaan sosok pemilik renjana…

Baik, aku akan ceritakan tentang hari ini saja, bersamanya…

 

Di teriknya mentari yang melelahkan rana

Di gedung kantor IAIDA lantai tiga,

Tepat di depan ruang yang  dikata kantor PBA…

Seorang laki-laki duduk dengan tenang tanpa kata

Entah sudah berapa lama ia berdiam diri disana

Namun, dari rautnya tampak ada kebosanan yang terbaca

Aku sempat bertanya dalam benak, ngapain dia disana?

Namun, tak ku utarakan padanya…

Haha,, sekedar informasi saja. Aku cinta dia…

Tapi, mengapa serasa semua mendadak bisu tanpa suara

Padahal, hatiku berbunga dan bergetar tak beraturan tanpa irama

Akupun turut duduk di area sana

Menyibukkan diri dengan resah, bersandar lelah tanpa suara

Lalu.. kau menyapaku, sekilas saja..

Tapi aku bahagia, kau telah membuka suara dan menghidupkan suasana

Meskipun kaku, meskipun ambigu.. tapi tak apalah, aku bahagia mendengar suaranya..

Dan setelahnya, beberapa orang datang berlalu lalang dengan gusarnya

Merusak suasana penuh drama dalam diam yang diciptakan olehnya

Dan setelahnya.. aku bak sendiri.. diam, berkutat dengan laptop dan lagi-lagi tanpa suara

Jujur saja, sebenarnya ada rasa kesal, dan ingin oktaf karenanya

Namun, kusadari saja.. kuyakin ini bukan kehendaknya

Sudahlah.. kita masih sibuk dengan rasa yang sama

Beginilah melodi tercipta dengan cerita berdinamika

Aku dan kamu dipertemukan dengan ranah yang nuraga

Sempat aku merasa tak dihirau olehnya

Dan ku menghalau berpindah halu menjauh darinya..

Hmmm.. ternyata aku salah terima..

Dia masih merindukanku dengan jiwa kesatrianya..

Diujung pertemuan siang itu.. kita berpeluk singkat dekat anak tangga..

Kukira, kau takkan melakukannya..

Tapi ternyata kau memberanikan diri dengan tegarnya

Terima kasih kecupan singkatnya…

Ditengah lelahku, kau menyempatkannya..

Menggugah nadiku, menyalurkan kasih sayang dan kekuatan yang tak perlu diutarakan

Aku bahagia dengan rasa tak percaya

Membunga citra dan mewarna hampa

Sebenarnya ada yang perlu ku kata…

Pelukannya kurang lama..

Namun, tak apa.. setidaknya, sudah terealisasi secara nyata

Limitasi waktu dan sibuk yang tiada habisnya,

Membuat perjumpaan kita berhenti sementara

Baiklah, semangat selalu mas e nduk yang tersayang...

Tiada kata lain, pokoknya.. aku cinta..

---Ma’shum Thoyib---

 

 

  

Jumat, 23 Juni 2023

Sanam Teri Kasam

               Beberapa hari ini, suasana hati sedang tak stabil. Berkabut abu-abu dengan haru tak menentu. Pikir yang berkelana merajah resah memberat rasa. Lelah, ingin kukata. Namun hal itu tiada layak karena lembaran arunika tak bersuara merubah rana. Aku ingin berkeluh kesah, denganmu wahai Nirwana. Namun, kurasa hal itu tidaklah tepat untuk saat ini. Karena kita tengah berada difase yang sama. Diantara lelah dan resah, sakit dan keluh kesah, dan pusing yang menuntut rebah.

              Kemarin, kita bertukar suara. Setelah beberapa lama memahami waktu sibuk yang kita punya. Kamu bercerita, ditengah gundah yang penuh hara. Tentang perihal yang menjadi ketakutanmu selama ini. Masih di nada paling rendah dengan kata panggilan “Nduk…”, aku sudah bergetar.

Nada getirmu sudah memberikan isyarat tak baik-baik saja. Dan ternyata.. 

“Mas punya sakit yang sudah mas rasain dari lama. Rasa sakit itu sudah ada dari mas MTs. Mas pernah dirawat jalan, dan sekarang kadang masih ngerasain itu nduk”.

Mungkin bahasa lebih tepatnya bukan itu. Aku tak dapat mengulang kalimat persisnya. 

“Karena nduk calon istrinya mas, mas pengen ngomong ini nduk. Nduk harus tahu. Mas nggak mau ngecewain nduk. Mas butuh jawabannya nduk, nduk pikirkan baik-baik. Mas akan terima apapun yang jadi keputusannya nduk”.

              "Sanam Teri Kasam",,, tiba-tiba saja aku mengingat cerita itu. Entah mengapa, fikiranku berputar kesana. Pengorbanan kisah cinta yang penuh tantangan dan rasa yang datang secara serendipity, menumbuhkan kasih sayang mendalam.

“Mas cari orang yang bisa menerima mas apa adanya nduk”

Kau perlu tahu. Bahwa dimataku kamu itu sempurna. Dan jika memang kamu memiliki titik kelemahan, cukup sadari saja bahwa di dunia ini memang tak ada yang sempurna.

Aku tak pernah menuntut kesempurnaan apapun darimu. Cukup kamu dengan seluruh hal yang kamu miliki saja, dan kamu dengan semua hal yang ada pada dirimu saja. Aku bahagia, dengan seluruh yang pernah kau berikan. Aku bersyukur kau ada dan menjadi yang kucinta.

              Kita ingat-ingat lagi ya... Aku juga punya sakit yang sudah ada sejak lama. Telapak tanganku tak sehalus dan semulus perempuan pada umumnya. Namun kau tak pernah risih ataupun merasa jijik menyentuhnya, bahkan kau pernah menggenggamnya. Hariku didepan sana sudah pernah diramal akan berat pada jalannya. Namun, tanpa ragu kau memberiku ketenangan untuk tegar dan tidak takut untuk menghadapi itu semua.

“Mas selalu ada buat nduk”. Dan sekarang, akulah yang akan berkata demikian..

“Nduk akan ada untuk mas."  dan aku siap menerima semuanya.

Kau bertanya lagi….

“Mas punya penyakit yang nggak tau kapan sembuhnya nduk, apa nduk masih mau? Mas takut jadi beban buat nduk, nduk yakin gak menyesal nantinya?”

              Mas, jika nanti aku adalah istrimu, maka akulah yang harus merawatmu. Karena aku yang mengabdikan seluruhnya untukmu. Diriku, luluh dan lantahku untuk ada disampingmu. Sehingga, tak perlu ada penyesalan apapun. Sayang dan cinta akan menjadi asas paling mendasar untuk melewati semuanya. Aku sudah mencintaimu, aku sudah menyayangimu, aku sudah merangkai masa depan jauh bersamamu.  Walau aku tak tahu, semuanya akan benar terlaku atau hanya rancangan halu dan penataan waktu.

                Kita harus hadapi, walau sakit dan sulit. Kita harus lewati, walau banyak tantangan pemberi uji. Ujian kita sudah banyak. Jarak, waktu, pendidikan, karir, semuanya masih ambigu. Tapi kau selalu menenangkanku dengan kata  “Yang kuat ya nduk”.. kita harus jalani, apapun itu, kita harus lewati, bagaimnapun itu, hadapi…

              Kita berdoa saja, jangan bosan-bosan memohon. kau pernah bilang bahwa.. “Allah suka mendengar hambanya merintih”.  Itulah kita, hamba yang lemah. Sudahlah  sayang, jangan khwatirkan apapun, kita pasti bisa. Jangan bosan-bosan berdoa, Allah selalu tahu seberapa tinggi tingkat kemampuan  hambanya.  Kita pasrahkan saja, Allah akan memberikan jawaban dari doa kita diwaktu yang tepat. Semoga engkau selalu dalam lindungannya  dan semoga selalu diberi kesehatan. Amin Yaa Robbal ‘alamin…

Dariku, yang mencintaimu..

Untukmu, yang kucintai…

--Ma’shum Thoyib--

 

Rabu, 07 Juni 2023

Cemburu

 Jum'at malam Sabtu, 02 Juni 2023

            Katanya… “Di dunia ini, gak ada cewek yang gak bisa cemburu. Cemburu itu sifat yang mesti ada dalam diri perempuan”. Dulu, aku tak pernah bisa merasakan itu. Bahkan jika ada yang bilang begitu, aku adalah orang pertama yang menolak keras pernyataan itu.

Dimasa lalu yang pernah ada, aku selalu bisa merubah respon sensitive hatiku dan mengubahnya menjadi ranah yang rasional. Sehingga aku menganggap bahwa rasa cemburu tak harus dimiliki oleh semua orang dan tak harus ada dalam hubungan berpasangan.

            Aku positive thinking saja. Aku menganggap bahwa jika orang yang kucinta sedang diposisi bersama perempuan lain, aku akan melihat apa yang sedang dilakukannya, apa yang dibutuhkannya, apa yang dibicarakan olehnya. Siapapun yang dekat dengannya aku tak peduli. Cukup kupercaya bahwa rasa yang dimilikinya hanya untukku saja. Cukup aku yakin bahwa dihatinya hanya ada aku saja.

            Dulu aku menganggap bahwa rasa cemburu itu dapat diubah menjadi pelajaran menuju kedewasaan, aku menganggap bahwa siapapun yang memiliki rasa cemburu itu kekanak-kanakan. Bukan karena aku tak peduli, bukan karena aku tak mengerti , tapi jika itu sebuah kebutuhan maka tiada yang perlu dipermasalahkan.

            Kamu… mengapa aku tak bisa menghalangi langkahmu untuk dekat dengan perempuan lain. Ku ingat-ingat lagi. Sejak dulu, aku tak pernah melarang siapapun orang yang berelasi denganku untuk dekat dengan perempuan lain jika hanya dalam ranah pertemanan. Aku hanya mengandalkan rasa percayaku untuk nya dan rasa yakinku akan komitmen yang terjalin. Dan mungkin begitu pula hal itu terjadi padamu.

            Tapi, mengapa semuanya terasa berbeda jika kamu yang melakukannya. Dulu, aku dapat bersikap dengan sangat biasa-biasa saja walau harus terjadi didepan mata. Namun, mengapa aku merasa terluka jika dia adalah Ma’shum Thoyib? Aku bercermin berkali-kali, pantaskah jika aku menghadirkan rasa itu?

            Kau pernah cerita tentang Mila, aku menerimanya. Kau pernah cerita tentang ima, aku menerimanya, tentang Faulina, akupun menerimanya. Atau tentang kakak yang bernama Layyin itu. Ku akui, kau memang perwira dengan segala sisi indahmu di mata banyak wanita. Tak heran pula jika kau memiliki banyak pemuja dan dicari banyak kaum hawa, aku sangat menyadari itu. Berkali-kali aku menetralisir rasa dan hatiku jika mendengar cerita-ceritamu. Aku memposisikan diri sebelum menjustice-mu. Dan juga, aku bukanlah perempuan yang mudah men-judge sesuatu.

            Aku selalu bilang bahwa aku baik-baik saja,  Aku tak apa. Tapi maaf, jika itu adalah mbak-mbak an dan adek-adek an, kenapa aku sulit menerimanya? Padahal aku sadar bahwa relasi itu sudah ada sejak lama sebelum aku hadir di duniamu. Dan itulah mengapa aku tak bisa melarangmu untuk jauh dari relasi itu. Akupun tak ingin merusak hubunganmu dengan mbak Layyin.

            Aku sakit melihatmu tertawa dengannya, aku sakit melihat spam chatnya untukmu, aku sakit mendengar ceritamu tentangnya saat makan bersama, jalan bersama, dan bertukar sesuatu dengannya. Perlu kau ketahui, bahwa relasi yang demikian itu tak menutup kemungkinan untuk menciptakan rasa nyaman dan suka. Mungkin bagimu semua akan terkesan biasa-biasa saja. Tapi bagi perempuan manapun yang berada di posisiku ia akan terluka, tidakkah begitu menurutmu? Itulah mengapa aku sakit menerimanya. Karena pertemanan biasa tak sama dengan relasi adek-adek an atau mbak-mbak an.

            Maaf, jika selama ini aku selalu sensitive kala mendengar cerita tentangnya. Bahkan mungkin semuanya lebih kentara saat kamu menceritakan kedekatanmu dengan mbak Layyin dari pada teman-teman yang lain. Aku tak apa, sungguh tak apa jika itu hanya teman tanpa rasa. Namun jika status yang demikian itu, seperti mas  dan mbak Layyin pasti akan lebih mengkhawatirkan.

            Hmm.. tak apa. Aku akan tetap baik-baik saja. Tak apa, aku akan kuat. Tetap jaga rasa dan hatimu saja. Aku percaya denganmu, aku percaya hatimu. Terkadang aku berpikir, apakah aku berhak melarang jika statusnya adalah mbak-mbak an dan adek-adek an? Padahal jika hanya teman biasa kau selalu bertanya dan meminta izin untuk melakukan sesuatu. Sedangkan dalam ranah mbak-mbak an kau tak pernah bertanya. Kau mengujiku dengan kata “wani pora? Gelem pora?”. Tidakkah kau berpikir bagaimana hatiku?

            Sejak dulu hingga kini, dan dari sini, aku baru bisa menyimpulkan bahwa Evi cemburu itu hal yang langka. Jika memang Evi bisa cemburu, berarti karena cintanya mendalam. Aku baru ingat, ternyata.. dulu.. aku pernah cemburu. Sakit hatiku mendalam hingga fikiranku kalut, hingga kondisiku drop dan down, aku jatuh sakit, aku opname, aku dirawat dirumah sakit karena overthinking yang berlebihan dan itu bermula dari sakitnya rasa cemburu. Itulah mengapa aku menghindari jauh-jauh apa itu rasa cemburu. Karena jika itu terjadi maka aku akan menyakiti diri sendiri pula. Sungguh, aku masih bertanya, sedemikian itukah rasa cemburuku? Sudahlah, akan lebih menyakitkan jika diingat-ingat lagi.

            Dan kini, rasa cemburu itu hadir lagi, mungkinkah itu karena dalamnya cintaku padamu?

Sudahlah, Aku hanya harus mengetahui, bahwa hatimu ada untukku dan aku mencintaimu.

--Ma’shum Thoyib--

Selasa, 06 Juni 2023

Runtuh Percaya

Masjid Baitussalam, Karanganyar, Paiton-Probolinggo

Ahad, 28 Mei 2023

              Hari-hariku di Nurul Jadid tiada nikmat. Detik demi detik tak dapat kusingkap dengan bahagia haqiqi karena rasa dan fikiran yang berkelebat. Aku memikirkanmu, aku merindukanmu, aku ingin segera keluar dari sini, aku ingin berbicara denganmu, aku ingin membenarkan pikirmu. Aku berjanji, jika aku sudah keluar dari sini, orang yang akan kuhubungi pertama kalinya adalah kamu.

              Aku mencoba menghubugimu, kau tahu.. aku bergetar hebat sebelum mendengar suaramu. Aku siap menerima semua pertanyaanmu. Bahkan jika kamu harus menyalahkanku, jika kamu harus marah padaku.

“Assalamualaikum”

              Masih diucapan salam, aku sudah bergetar hebat. Aku takut akan kecewamu. Aku takut akan runtuhnya rasa percayamu. Bahkan mendengar bahasamu saja aku menciut.

“Untuk saat ini, mas masih belum bisa nduk. Rasa percaya mas kayak hilang seketika”.

“Itu semua salahmu nduk. Kamu sendiri yang membuat ulah itu”.

              Semua ucapanmu membuatku keluh. Hancurnya percayamu membuatku semakin terpuruk. Aku tak dapat mengelak, aku memang bersalah. Aku lalai membersihkan seluruh memory lamaku. Bahkan percakapan tak berarti apapun yang masih tersisa dan membekas dalam arsip chat whatsappku.

              Aku bahkan tak ingat jika masih menyimpan foto-foto itu. Aku menghapusnya dalam kurun waktu yang belum lama. Itupun karena aku baru saja sadar setelah memeriksa galeryku bahkan ternyata masih ada yang tersisa. Tapi ternyata kau melihat riwayat yang telah kuhapus ditempat sampah media. Aku merasa bahwa aku sudah membersihkan semua tentang dia. Dan juga alasanku mengarsipkan chat itu, karena aku tak ingin chat itu tampak diberanda. Sengaja saja ku sembunyikan karena aku tak ingin terusik. Karena ketika ada pesan yang masuk darinya aku merasa tak nyaman. Sehingga aku menimbunnya di tumpukan arsip. Kenapa hanya dia? Karena memang hanya dia yang kurasa membuatku tak nyaman.

              Pikiran kritismu terlalu jauh dan mendalam. Sehingga pertanyaan demi pertanyaan menghampiri kepalamu secara berkala. Dan muncul perspektif yang melunturkan rasa percayamu terhadapku. Semua pertanyaanmu benar secara logika. Namun, dihatiku hanya ada kamu seorang. Dihatiku, aku menyimpan beribu jawaban. Namun jika memang rasa tak percaya itu datang lebih dulu, apalah daya aku? Percuma, jawaban dan alasanku takkan kau terima.

“Sulit mengembalikannya nduk”

              Baiklah, cukup, sudahlah. Rasa percaya muncul dari diri sendiri. Aku sudah menjelaskan tanpa adanya kebohongan. Hatiku sudah mengungkap jawaban dengan tindakan jujurnya. Jika memang ia tak percaya, aku tak harus memaksa. Aku punya hak dan kewajiban untuk menjawab. Urusan kepercayaan, aku tak boleh memaksakan kehendak.

              Tangisku mengalir tanpa henti. Aku menstabilkan suaraku dengan sebaik-sebaiknya. Aku tak ingin ia tahu aku menangis. Aku sakit, sakit karena tak dipercaya. Dokumentasi masalah yang menjadi bukti ternyata lebih kuat dalam keyakinannya, ternyata isi HP-ku lebih akurat dari pada rasaku. Perjuangan dan ucapanku seolah tak ada harganya. Tangisku dalam mencintainya, doaku, ketulusanku, mungkin tak berarti untuk saat ini. Bagaimana selanjutnya? Aku pasrah saja.

              Disini, aku sendiri. Didepan masjid Jami’ Baitissalam. Dipinggir jalan yang ramai dilintasi kendaraan. Panas, bagai pikiran dan hatiku yang berkecamuk  tak karuan. Aku seolah kehilangan arah, tak tahu bagaimana harus pulang. Aku takut, aku sendiri tanpa teman. Dikejauhan, dinegeri orang, dengan rasa sakit yang getir bertabrakan. Aku diam, tanpa kata. Keramaian dan panasnya kecamatan Paiton seolah sebuah keheningan.

              Kau bertanya.. “Gimana ya nduk?”. Masih saja tentang kepercayaan. Lalu, aku harus bagaimana? Jawabanku pun tiada artinya. Semakin kau tak percaya, semakin aku sakit pula. Dikejauhan, dikesendirian, dibawah teriknya mentari yang menyengat.

              Aku menengadah ke langit yang cerah tanpa suara. Biru dan putih yang berpadu dengan mesra. Namun seolah semuanya meredup. Aku mengingat bagaimana bahagianya keberangkatanku sampai aku berpijak disini bersamamu. Dan sekarang aku harus pulang dengan kesedihanku sendiri yang juga tentangmu. Aku rindu ada disampingmu, menyandar dibahumu, memeluk lengan kekarmu, menatap wajah teduhmu, digenggam olehmu, dan melangkah bersamamu.

              Aku beralasan, izin menutup telepon untuk mencari kendaraan. Padahal aku menangis sejadi-jadinya dikesendirian. Aku hanya ingin menjawab sekenanya saja. Aku tak ingin melawan, aku tak ingin membantah. Jawabanku sudah jujur, aku tak ingin kehilanganmu. Jangan percaya dengan isi HP-ku. Hatiku lebih jujur dari pada HP-ku. Aku menyimpan ketulusan untukmu. Aku tak pernah memiliki niatan untuk mempermainkanmu apalagi menyakitimu. Tapi, mengapa aku tak dapat berkata?

              Ya Allah, tuntun langkahku, tunjukkan jalanku. Aku harus pulang, sembuhkan rasaku, kuatkan hatiku, tenangkan pikirku. Kupasrahkan semuanya pada-Mu. Hatiku milik-Mu, Cintaku milik-Mu, dan Ma’shum Thoyib juga milikmu.

Aku menarik nafas sedalam-dalamnya. Bismillahirrahmanirrahim…

Ya Allah, sampaikan rasaku, sampaikan kata hatiku, dalam derap langkahku, aku merintih merindukannya,

“Ma’shum Thoyib, aku mencintaimu”.  

Rintihan Gelisah

 

Malam benderang di Nurul Jadid, Wilayah Al-Hasyimiyah Daerah LPBA.. tepat di acara Lailatul Munajjamah..

26 Mei 2023

              Pertanyaan itu menamparku. Harusnya aku tak perlu terkaget dengan hal itu. Aku sudah mengira bahwa kau akan menanyakan perihal foto dan chat itu. Foto yang ternyata dulu pernah kusimpan kala sedang sayang-sayangnya, dan juga chat yang sudah terkubur lama, entah kapan terakhir kaliku berkomunikasi  aku masih berusaha mengingatnya.

Kau runtuh percaya, kau jatuh kecewa, kau salah menerka, aku tak pernah memiliki niatan untuk menduakanmu. Aku tak pernah memiliki keinginan untuk menyimpan orang lain. Aku sudah jatuh percaya terhadapmu. Aku sayang dan cinta padamu. Bahkan aku telah menggertak hatiku untuk berjuang menerjang restu demi cintaku terhadapmu.  

              Harus bagaimana aku menjelaskan kepadamu, harus dengan cara apa aku mengolah kata hati dan kata suara untuk meluruskan alur pikirmu dan juga harus dengan jalan mana aku dapat membenarkan kesalah pahamanmu. Aku yakin pasti kamu sedang hancur. Pikiran kritismu sudah membuncah tak karuan, Aku tahu pasti itu menyakitkan bagimu.

              Kau tahu, mengapa aku tak bereaksi apapun setelah kau mengetahui isi hp ku…

Aku sungguh percaya dengan hatimu, aku berusaha biasa-biasa saja dengan hal itu karena aku merasa aku sudah tak memiliki hubungan apapun dengan mereka. Sehingga aku tak mengkhawatirkan apapun. Jika kamu bertanya, aku siap menjawab. aku akan menjawab sebesar rasa yang kupunya. Tak ada lagi nama Ikhsan di hatiku, tak ada lagi nama Halim di benakku. Aku ingin kamu, pada setiap detil waktu ku.

             Saat ini, Kita bertentangan dengan jarak, kita sulit berkomunikasi, kita serba salah.

Mas, jangan salah paham dulu. Aku akan jelaskan. Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku khawatir dengan mu..

              Bagaimana ini? Malamku di Nurul Jadid berselimut dengan ke khawatiran dan kegelisahan. Aku tak tahu harus bagaimana caranya menetralisir rasaku sendiri. Mas, jangan pikirkan itu. Tenangkan dirimu, jangan bawa kearah yang negatif. Mas, bisakah kau mempercayaiku? Tiada sama sekali sedikitpun niatan dalam hatiku untuk mengkhianatimu, mempermainkanmu, dan membuatmu sakit seperti ini.

              Ya Rabb.... wahai sang pemilik hati. Janganlah kau menambahkan fikir gelisah kami. Apa yg harus ku lakukan.. wahai malam pembawa hirup angin kehidupan, sampaikan salamku padanya, bahwa hanya ada dia di dalam hatiku saat ini. Tenangkan fikirnya, kembalikan kepercayaan nya. Dan janganlah kau bebani fikirnya.. aku mencintai dan menyayanginya.

Ya Allah.. kuatkan kami..

Evi Hyma, Ma’shum Thoyib

Akhir Delapan Januari

  Tanggal ulang tahunmu Pernah menjadi salah satu tanggal yang istimewa bagiku Aku juga pernah menjadi orang pertama yang mengucapkan ...