Padamu, wahai sang pelipur lara…
Seperti biasa, tulisan ini tak untuk dipublikasikan kepada khalayak umum pembaca kata tanpa makna..
Namun, Tulisan ini hanya dipersembahkan khusus untuk orang tersayang pemilik tahta hati asmaraloka
Teruntuk, nama yang selalu terpatri dalam senandika…
Sebenarnya, Vihima tak tahu kata apa yang akan ditorehkannya..
Dan juga, rangkaian kata ini ditulis atas permintaan sosok pemilik renjana…
Baik, aku akan ceritakan tentang hari ini saja, bersamanya…
Di teriknya mentari yang melelahkan rana
Di gedung kantor IAIDA lantai tiga,
Tepat di depan ruang yang dikata kantor PBA…
Seorang laki-laki duduk dengan tenang tanpa kata
Entah sudah berapa lama ia berdiam diri disana
Namun, dari rautnya tampak ada kebosanan yang terbaca
Aku sempat bertanya dalam benak, ngapain dia disana?
Namun, tak ku utarakan padanya…
Haha,, sekedar informasi saja. Aku cinta dia…
Tapi, mengapa serasa semua mendadak bisu tanpa suara
Padahal, hatiku berbunga dan bergetar tak beraturan tanpa irama
Akupun turut duduk di area sana
Menyibukkan diri dengan resah, bersandar lelah tanpa suara
Lalu.. kau menyapaku, sekilas saja..
Tapi aku bahagia, kau telah membuka suara dan menghidupkan suasana
Meskipun kaku, meskipun ambigu.. tapi tak apalah, aku bahagia mendengar suaranya..
Dan setelahnya, beberapa orang datang berlalu lalang dengan gusarnya
Merusak suasana penuh drama dalam diam yang diciptakan olehnya
Dan setelahnya.. aku bak sendiri.. diam, berkutat dengan laptop dan lagi-lagi tanpa suara
Jujur saja, sebenarnya ada rasa kesal, dan ingin oktaf karenanya
Namun, kusadari saja.. kuyakin ini bukan kehendaknya
Sudahlah.. kita masih sibuk dengan rasa yang sama
Beginilah melodi tercipta dengan cerita berdinamika
Aku dan kamu dipertemukan dengan ranah yang nuraga
Sempat aku merasa tak dihirau olehnya
Dan ku menghalau berpindah halu menjauh darinya..
Hmmm.. ternyata aku salah terima..
Dia masih merindukanku dengan jiwa kesatrianya..
Diujung pertemuan siang itu.. kita berpeluk singkat dekat anak tangga..
Kukira, kau takkan melakukannya..
Tapi ternyata kau memberanikan diri dengan tegarnya
Terima kasih kecupan singkatnya…
Ditengah lelahku, kau menyempatkannya..
Menggugah nadiku, menyalurkan kasih sayang dan kekuatan yang tak perlu diutarakan
Aku bahagia dengan rasa tak percaya
Membunga citra dan mewarna hampa
Sebenarnya ada yang perlu ku kata…
Pelukannya kurang lama..
Namun, tak apa.. setidaknya, sudah terealisasi secara nyata
Limitasi waktu dan sibuk yang tiada habisnya,
Membuat perjumpaan kita berhenti sementara
Baiklah, semangat selalu mas e nduk yang tersayang...
Tiada kata lain, pokoknya.. aku cinta..
---Ma’shum Thoyib---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar