Senin, 17 Juli 2023

Ma'shum Thoyib

 

              Masih ku ingat dawuh dari Ibu Ny.Hj. Handariyatul Masruroh…

“Haamilul Qur’an itu adalah orang-orang pilihan Allah. Orang yang menghafal Al-Qur’an itu sudah dijamin surganya oleh Allah”.  

Dan kamu, Ma’shum Thoyib…

Adalah salah satu dari sekian juta Haamilul Qur’an yang ada didunia. Yang tak lain adalah salah satu insan pilihan Allah yang sudah dijanjikan surga nya. Yang kelak juga akan mengangkat derajat orang-orang yang kau sayangi, dan menyelamatkan mereka menuju jalan ke surga Allah nanti.

              Ma’shum Thoyib, putra didikan bapak Slamet Riyadi dan Ibu Salamah. Pemilik pemikiran cerdas dan kritis, yang juga memiliki banyak kelebihan. Sosok pecinta sholawat, yang sangat mendambakan baginda Nabi. Dan dengan kasih sayangnya yang tinggi, ia dapat menebarkan cinta dan citra sebagai laki-laki yang penyayang.

              Di dunia ini, perihal mencintai dan dicintai adalah hal wajar yang dapat dialami oleh siapapun. Orang yang berada difase itu pasti akan melewati banyak cerita yang berliku. Sama halnya seperti aku dan kamu. Kita telah melewati banyak kisah tak terduga untuk sampai ditahap ini. Dari sekian banyak moment, ada banyak hal yang membuatku terheran.

“Sebenarnya, ada apa denganmu?”

“Bagaimana bisa kau menyukaiku?”

“Mengapa kau berjuang keras untuk mempertahankan perasaanmu?”

            Aku orang biasa, bukan Haamilul Qur’an sepertimu. Aku tak memiliki kelebihan seperti apa yang kau miliki. Aku tak pernah memiliki pemikiran seperti apa yang ada di pemikiranmu. Nasehatmu, waktumu, didikanmu, kelebihanmu, kau kerahkan untuk mencintaiku. Dengan seluruh jiwa besarmu, kau menyayangiku sepenuhnya.

Tentu saja tidak, dengan seluruh hal yang ada pada dirimu aku tak dapat membantahmu. Sejak aku memutuskan untuk mencintaimu, aku belajar untuk mengubah hal-hal yang ada pada diriku. Sifatku, sikapku, tingkah randomnu, dan kebiasaanku. Sehingga aku harus ta’dzim padamu. Aku menyayangimu, dan aku tak ingin kau hilang dari hidupku.

Aku selalu menerima apa yang menjadi keputusanmu, dan aku melakukan apa yang menjadi permintaanmu. Aku menghalau rasa beratku, dan aku tak peduli dengan rasaku sendiri. Yang kutahu, aku mencintaimu. Aku harus nurut, aku tak boleh membantah, dan aku harus kuat selagipun itu bertentangan dengan hal yang ada pada diriku. Karena aku tahu, semuanya semata-mata demi kebaikanku.

Bagiku, kamu sempurna. Dan aku tak peduli dengan apa yang menjadi kekuranganmu. Bahkan, ketika kamu bercerita tentang rasa sakit yang menjadi ketakutanmu, akupun tak peduli. Kau memintaku untuk mengurangi sifat friendlyku, kulakukan. Padahal friendlyku sudah ada sejak dulu. Bahkan terkadang, friendlyku menjadi sifat yang tak kusadari. Kau juga memintaku untuk menetapkan satu prioritas yang harus kujaga, yaitu namamu. sedangkan kau bilang padaku “Mulai sekarang, orang yang harus menjadi prioritasmu Cuma satu nduk, Cuma mas. Tapi kalau nduk minta itu ke mas, mas gak bisa nduk. Kenapa? Karena cinta pertamanya bukan kamu”.

Benar juga. Tapi sepersekian detik otakku mencerna bahwa itu pernyataan yang tak adil. Kau memintaku untuk tidak friendly, tapi kau tak menyadari bagaimana tingkat friendly-mu sendiri. Kau meminta di prioritaskan sedangkan aku bukanlah prioritasmu.

Hm, tapi tak apalah. Mungkin semuanya bukan hal yang harus disama timbangkan. Aku tak perlu menuntut agar semuanya berjalan dengan tingkatan yang setara. Kamu adalah lak-laki yang dibutuhkan banyak orang. Pemilik peran signifikan dikalangan para khalayak kisaran. Dan juga, yang tak bisa kusamakan bahwa, kau adalah pemegang kalam Allah yang harus kau prioritaskan untuk pertama kalinya. Hamblum Minallah-mu lebih penting dan berada diatas segala-galanya. Kau harus mempertanggung jawabkannya lebih dari sekedar bagaimana keluargamu. Karenanya, aku harus menyadari dengan baik, bahwa aku harus benar-benar mengerti dengan posisi dan keadaan yang mengitari.

Sampai disini, aku bertanya lagi, bagaimana bisa kau mempercayakan hatimu untuk memilihku menjadi bagian dari hidupmu? Tidakkah kau salah memilih orang? Dengan seluruh hal yang menjadi kelebihan dan rangkaian masa depan yang sudah tersusun rapi, yang entah kapan semua itu akan terealisasi, yang entah berapa bentuk semuanya akan berdimensi...

Ma’shum Thoyib, aku ada tak sekedar mencintaimu, tapi aku menghormatimu sebagai pemimpin yang kujaga kemuliaannya. Laki-laki yang tak sekedar tambatan hati, melainkan calon suami. Yang harus kuhormati dan ku ta’dzimi, yang juga harus kujaga dengan sepenuh hati.

Aku takut dengan hal yang menjadi amarahmu. Aku takut dengan rasa kecewamu. Aku takut dengan hal-hal yang masih menjadi kesalahanku, dan aku takut jika kelak semua tak sesuai dengan espektasimu dan pada akhirnya aku tak dapat membahagiakanmu.

Aku mengagumimu, aku bangga padamu. Ku harap kau akan  selalu sabar membimbingku yang masih banyak memiliki kekurangan. Aku yang masih membutuhkan banyak nasihat, aku yang masih harus di tuntun untuk melangkah dan aku yang masih harus didampingi dalam memilih keputusan.

Terima kasih sayang, sudah hadir di hidupku, dan menjadi bagian indah dari kisah perjalanan hidupku. Terima kasih untuk tidak menyerah dan kesabaran bertahanmu akan tenggat waktu yang lama. Tetap berdoa untuk kebaikan kita, karena waktu yang harus kita tempuh masih panjang, perjalanan yang harus kita lewati masih jauh, dan masih ada ribuan hal yang perlu dipersiapkan. Dalam derap waktu yang masih harus ditunggu, aku tak bosan bercerita pada sang pencipta, bahwa…

Aku mencintaimu,

---Ma’shum Thoyib---

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Akhir Delapan Januari

  Tanggal ulang tahunmu Pernah menjadi salah satu tanggal yang istimewa bagiku Aku juga pernah menjadi orang pertama yang mengucapkan ...