Selasa, 28 Maret 2023

Pakai Hatimu

 

Pakai Hatimu

Ojo karo kui…

Nyapo to kok karo kui…

Amu tenan karo kui…

“Kenapa banyak orang yang bilang gitu ke mas nduk, mas jadi takut”

 

Hmm.. apa yang kau takutan?

Tidakkah kamu lebih mengenalku dari pada mereka?

Mungkinkah, ucapan mereka lebih penting untukmu?

 

Heyy, apa yang kamu pikirkan? Apa yang kamu rasakan?

              Dulu, sebelum aku dan kamu berelasi sedekat ini dan bercita-cita menjadi kita, aku banyak bertanya padamu. “Kenapa aku? Bukankah ada yang lebih baik dari pada aku?”. Namun kau kokoh pendirian, kau tetap bertahan memperjuangkanku sekalipun ada berjuta pertimbangan yang kuberikan. “Aku tuh kalau udah satu ya satu. Meskipun mereka bilang apa aja yang bakale ngelek-ngelek kamu, yo wes gak mempan. Kalau udah suka yo suka. Masio sampek ngerti elek e yo panggah suka”.

Dimana tendensi itu? Masihkah kau mengingatnya?

              Baiklah, jujur saja.  Aku tak pernah tau akan apa yang orang lain pikirkan tentangku. Tapi kau perlu tahu bahwa aku tak pernah menutupi siapa dan bagaimana aku dalam segi apapun. Siapapun dia, aku berteman alakadarnya. Karakterku, sifatku, kekuranganku. Ya, beginilah aku. Jika memang ada penilaian buruk tentangku, maka ku akui saja, kusadari saja, bahwa aku bukan orang yang sempurna.

              Mungkin memang benar bagi mereka bahwa aku yang tak punya apa-apa ini tak pantas bersanding denganmu yang memiliki banyak pemuja. Sehingga ada-ada saja omongan memilukan yang beroda disekitar kita. Kau tahu kan, di bumi Darussalam ini, kita memiliki banyak interaksi dengan orang-orang yang ada disekeliling kita. Mereka memiliki sudut pandang dan cara menilai yang berbeda. Dan, mungkinkah kau akan lebih percaya apa yang mereka katakan? Dari pada apa yang kau lihat dan kau Rasakan?

              Jika sampai disini kau memiliki pertimbangan, tak seharusnya dulu kau memperjuangkan.  Tidakkah sebelumnya kau sudah menganalisa tentang siapa dan bagaimana aku?

              “Aku gak suka sama omongan orang yang cuma katanya-katanya”. Begitulah pendapat yang kupunya. Sehingga aku hanya akan peduli dan percaya pada apa yang kulihat dan kurasakan. Urusan orang lain memiliki penilaian yang berbeda, itu terserah mereka. Karena bisa jadi hal seperti itu muncul dari orang lain yang tak suka pada posisi kita, orang yang tak ingin kita bersama, orang yang menyukaimu, atau mungkin orang yang membencimu bahkan sebaliknya, orang yang menyukaiku atau membenciku.

              Sayang, perjalanan relasi menuju rangkaian cinta hakiki itu tak seterusnya indah. Dan kita masih berada digaris permulaan. Perkataan-perkataan orang tak perlu kau jadikan alasan. Aku tak ingin hal-hal semacam itu akan menambah beban pikirmu. Jika memang apa yang mereka katakan itu berat kau terima dan sulit kau percaya, sampaikan padaku. Apa yang mengganggu fikirmu, Kita bicarakan baik-baik. Aku akan memberikan jawaban jika kau menginginkannya.

              Namun, perlu kau tahu untuk kesekian kalinya bahwa aku adalah orang biasa, yang tak bisa apa-apa, dan tak memiliki apa-apa untuk dibanggakan atau ditinggikan. Sifatku juga tak selamanya baik, aku punya banyak kekurangan dan sisi buruk. Dan kau tak lupa bukan, bahwa setiap manusia memiliki masa lalu yg berbeda. Dan bisa jadi pula sebagian orang menilaiku dari masa laluku yang pernah buruk. Pesanku, ikutilah pikiran ternyamanmu dan pakai hatimu.  

 _-Ma'shum Thoyib-_

 

 

Senin, 27 Maret 2023

Resah yang Tak Apa

 

Resah yang Tak Apa

Resah…

Pada akhirnya aku merasakan itu

Ada apa denganku?

Dalam fase ini,

Kali pertama kurasakan gundah yang menggulana

Berkali-kali otakku mencerna

Tentang hal yang kulihat, kurasa dan ku terka-terka

Mengapa aku begitu tersayat menerima keadaan itu?

Mengapa aku terluka melihatnya duduk dengan orang lain?

Mengapa aku terluka melihatnya tertawa untuk orang lain?

Dan saat panggilan sayang itu teruntai untuknya dari orang lain,

Mengapa aku berat mendengarnya?

Aku menerka semuanya dengan otak terlogisku,

Karenanya aku rela,

Dan aku menerimanya

Lisanku berkata “Tak apa…”

Otakku mencerna semua pernyataan dan keadaan yang terjadi diantara kita

Sehingga yang terucap adalah kata yang sama “Tak apa…”

    Kau, sosok yang memang dibutuhkan semesta

    Kau, pemilik segala macam perwira dalam realita

    Kau, jiwa yang dapat meluluhkan banyak hati kala dekat dengan siapa saja

    Ayolah, aku tak apa. Aku baik-baik saja

Oh ya! satu hal lagi, friendly…

Mengapa kau melarangku bersifat friendly ke laki-laki lain

Tanpa kau sadari, friendly yang kau miliki juga tak pernah kau ukur sendiri

Kau mewanti-wanti, menyadari batasan diri sebagai pengingat limitasi

Aku ingin menuntut,

Mengapa harus demikian?

Namun, aku kesulitan, aku tak dapat berkata

Sehingga semuanya masih tetap berada digaris kata “Tak apa…”

Hati dan otakku bertutur dengan perbedaannya

Otakku tersilap dalam kata “Tak apa”, namun hatiku sulit menerima

Aku tak dapat bertindak,

Mengingat bagaimana besarnya peranmu untuk mereka

Aku diam, masih dengan penuh Tanya

Ada apa denganku?

Mungkinkah aku cemburu?

Iyakah? Benarkah?

Beginikah rasanya?

Aku menahan kuat-kuat air mataku didepanmu kala itu

Menyiratkan muka, seolah aku baik-baik saja

Berkali-kali menarik nafas berat dan sesak yang singkat

Hem, sudahlah. Cukupkan saja….

Jika ada hal yang harus terbagi, “Tak apa..”

Cukup kupercaya bahwa itu bukan rasa

Tapi mengapa?

Mengapa baru sekarang?

Sebelumnya kurasa tak ada yang demikian

Tak ada rasa yang demikian

Resah, meresahkan

Sulit, menyulitkan

Dan pada akhirnya, harus ku akui.. 

Aku cemburu :(

Tapi, Tak apa…

Aku akan bertahan:)

Karena kamu lebih penting dari egoku

Keberadaanmu diduniaku lebih penting dari pada rasa resahku yang perlu penalaran itu

Tak apa, bagiku kau tetaplah nirwana

Yang kupercaya dengan segenap jiwa raga

Meski harus ada kata “Tak apa ..”

Yang kutahu, aku cinta…  

 

_-Ma'shum Thoyib-_

 

Sabtu, 18 Maret 2023

Semangat Sayang

Semangat Sayang

Amanah berat menambah posisimu

Semangat sayaang…

Kukira, itu hanya sekedar canda yang kau ceritakan padaku

Ternyata, semua benar adanya..

Kau dinobatkan menjadi kepala Asrama

Pasti kau sudah tahu, bahwasannya..

Kepala asrama tak hanya jabatan dan peran

Namun juga tanggung jawab yang besar

Tak sekedar ada untuk bersama

Melainkan memikul berat yang tak sekedar pundak

Hari tak selamanya benderang sayang,

Seperti biasanya, kau masih tetap santai dan bersikap tenang-tenang saja

Dihadapan banyak khalayak…

Namun tidak padaku

Mungkinkah memang hanya aku yang tahu tentang hatimu?

Mungkinkah memang hanya aku, orang yang pertama tahu tentang kabar dipilihnya dirimu?

Dua tangan tak cukup untuk bergerilya melaksanakan misi sebagai amanah belaka

Kau membutuhkan orang lain

“Kamu itu disana nggak sendirian, kamu punya anggota dan punya bawahan, gerakkan itu”

“Jangan jadi Lilin, yang bisa menerangi lainnya tapi dirinya meleleh”

Dua kalimat darimu masih menjadi pesan pengingatku

Apakah kau juga menerapkan itu?

Ditengah kesendirianmu yang terkadang tanpa teman

Dicerahnya pagi terkadang juga masih harus kau sendiri yang berjalan

Yaa.. begitulah kepengurusan, kuyakin kau pasti sudah tau tentang itu

Haa.. beginikah cerita kita?

Sekarang kita berada di posisi yang sama

Menjadi kepala dengan tujuan dan basic yang berbeda

Inikah definisi dari persamaan frekuensi?

Aku berkali-kali menggali bukti

Benarkah kita memiliki banyak persamaan?

Namun, hal itu tak dapat kupungkiri dan memang kasat mata

Aku sudah tau banyak hal tentangmu, dan juga kau tahu tentangku

Tangisku malam itu.. haru,

Namun tak ku mengerti mengapa air mataku jatuh kala menatap gambar mu serah terima surat dalam sampul hijau yayasan itu

Aku bahagia, namun aku juga bersedih

Bukan karena luka, bukan juga karena derita

Tapi entah apa..

Yang kutahu hanyalah

Kaulah laki-laki berkharisma, yang telah menjadi dewa

Yang kupuja dalam diam ditengah asmaraloka

Semangat sayang, aku mendukungmu dalam setiap langkah dan doa

--Ma'shum Thoyib--

 

Doa dan Angan

 

              Ya Allah, aku mencintainya, Dan dia mencintaiku. Jadikanlah kebaikan untuk selalu ada menyertai langkah kami. Kupasrahkan dia padamu karena engkaulah pemiliknya. Jika dia memang telah kau takdirkan untukku, maka kuatkan kami untuk dapat mencapai puncak menuju sunnah-mu. Dan kuatkan hati kami agar kami dapat menghadapi segala bentuk tantangan dan menerima segala hal dengan ikhlas karenamu. Amin Yaa robbal Alamin”.

              Kuraup kedua tangan diwajahku dan mengakhiri doa itu. Getar hatiku membuatku lunglai secara berkala. Aku melangkahkan kaki setapak demi setapak dengan pikiran yang banyak beradu. Pertanyaan dan pernyataanpun bertabur dalam benak.

          Bagaimana mungkin aku bisa mencintainya? Padahal dulu aku hanya menganggapnya sebagai teman alakadarnya. Bagaimana bisa aku merindukannya? Padahal dulu hampir setiap hari aku bertemu dengannya. Bagaimana bisa aku berharap padanya? Padahal dulu menanggapinya saja aku enggan.

Sekarang…..

             Aku mencintainya, aku merindukannya setiap waktu, aku berharap banyak padanya, aku menginginkannya, dan aku mendewakannya. Aku belum pernah merasakan kenyamanan seperti saat aku berada didekatnya, seperti saat berbicara dengannya, dan aku belum pernah mencintai laki-laki seperti bagaimana aku mencintainya.

           Aku duduk didepan kamar, membuka dan membaca Al-Qur’an yang masih kupegang ditanganku. Namun, pikiranku berkelana lagi…

Ya Allah, bagaimana kelak aku tinggal bersamanya, aku tidur disampingnya, menyambut bangun tidurnya, makan bersamanya, sholat jama’ah dengannya, mengandung dan melahirkan anaknya. Dan juga, bagaimana dia ada disampingku, mendampingi proses kelahiran anak kami, dan saat anak itu lahir, mungkinkah dia akan mencium keningku? Menyalurkan tenaga dan kehangatan dalam lelahku. Dan saat anak itu menangis, suara merdunya akan melantunkan adzan untuk anak kami.

         Masya Allah, terlalu jauhkah anganku? Air mataku menitik dari kelopaknya. Membuat ayat Al-Qur’an yang kubaca terhenti secara tiba-tiba. Lalu, bagaimana kelak dia selalu ada disampingku, menjadi sosok yang benar-benar harus kuhormati, Harus kulayani dengan segenap jiwa dan ragaku. Dan dia akan menjadi tempat teraman, menjadi sandaran ternyaman, dan menjadi segala rasa dalam setiap keadaan.

        Beginikah ceritaku? Pada akhirnya aku jatuh sejatuh-jatuhnya padanya. Aku siap dengan seluruh keadaan asalkan aku bersamanya. Dan inikah jawaban dari apa yang pernah dimintanya dulu? Aku masih ingat “Sebelum aku bisa mendapatkanmu, aku memintamu kepada pemilikmu. Aku mendekatkan diri pada penciptamu, semoga kelak Allah menjawab permintaanku”.

          Memang benar bahwa semua masih berada di garis permulaan. Perjuangan kita belum ada apa-apanya. Waktu yang harus kita lewati masih sangat panjang, jarak yang harus kita lalui masih sangat jauh. Sekarang semuanya masih berada pada rangkaian angan, dan hanya doa terbaik yang menjadi tempat kita untuk melukis tawakkal. Tugas kita adalah berdoa bersama. Dan tawakkal akan hasil akhir dari seluruhnya. 

 ---Doa dan Harapku untukmu, Ma'shum Thoyib---

 

Bismillah, Aku Yakin

Memory Haul Masyayikh Darussalam, 07-08 Februari 2023

          Sejak awal aku mulai memiliki rasa itu, aku mempertimbangkan banyak hal. Salah satu pertimbangan terberat yang harus kupikirkan matang-matang adalah tentang jarak. Namun, jika itu cinta, apa boleh dikata, tetap saja takkan ada alasan untuk itu.

          Karenanya, kau tahu? Mengapa aku ingin segera memperkenalkanmu dengan orang tuaku? Karena ada pertimbangan-pertimbangan yang harus dipikirkan. Mengingat beberapa hari lalu sebelum pertemuan itu, Ibu bilang dipertukaran suara melalui sambungan telepon. “Lek pengen ngobrol maleh, mbenjeng Haul Insyaallah kulo meriko”. Aku terhenyak mendengar kalimat ibu. Benarkah itu? Ibu bilang bahwa bisa ditemui di acara Haul. Pernyataan itu memberiku kesimpulan singkat bahwa Mas boleh menemui ibuk disaat itu.

          Dan tiba pada hari yang telah ditunggu. Di hari Haul yang meriwehkan itu. Entah mengapa, aku benar-benar ingin memperkenalkannya pada kedua orang tuaku, aku ingin orang tuaku segera tahu, dan segera memberikan jawaban tentang rasaku. Aku ingin orang tuaku tahu siapa laki-laki yang kuinginkan dan laki-laki yang kelak menjadi menantu mereka.

          “Yakin pora, wani pora?” aku juga memiliki rasa itu. Namun, aku tak ingin terlalu berkepanjangan berada dalam keambiguan, sehingga aku memberanikan diri untuk mengenalkannya.

“Buk, saumpami Ma’shum ajengen mriki pripun? Angsal mboten?”.

Aku melihat perubahan ekspresi dari mata beliau yang menampakkan wajah berpikir.

“Takok bapak ki lhoo!”. Jawab ibu mengarahkan pada bapak.

Bapak tersenyum lalu terdiam sejenak. Namun sorot matanya menampakkan wajah berpikir pula. Lalu ibu menambahi “Gak popo mas, kenalan toh ben ngerti”.

Bapak menatapku masih dengan senyumnya yang menyiratkan wajah berpikir. Dan jawaban yang teruntai adalah “Iyo wes gak popo, monggo!”

Bak mendengar gelegar petir yang mengejutkan. Aku bahagia, sesegera mungkin kucari cara untuk menghubunginya. Orang yang kucinta, ia harus bertemu dengan ayah dan ibuku malam ini juga. Setidaknya ada waktu untuk memulai, setidaknya ada jalan untuk saling mengenal.

“Lek gak saiki, kapan meneh?” kalimat yang menjadi prinsip sekaligus pertanyaan itu mengitari kepala dan benakku. Detik waktu berputar dengan teratur menuntun keyakinanku untuk benar-benar mempertemuknnya dengan orang tuaku.

          Aku mencoba berbagai cara untuk menghubunginya, dan dengan segenap raga meyakinkannya untuk bersedia hadir. Terbesit dalam hatiku, bahwa aku tahu dia bisa, aku percaya dia berani, aku yakin dia siap. Sehingga aku memberanikan diri untuk meyakinkannya. Melalui sambungan telepon, aku memintanya untuk segera datang. Entah itu terkesan terpaksa atau apa. Yang kutahu, kita harus bertemu.

          Dengan berbagai pertimbangan yang ada, pada akhirnya dia datang. Dengan penuh kehati-hatian dan teduh tenangnya, dia memberanikan diri dengan seluruh lantahan jiwa raganya. Satu tujuan yang seolah melintas diatas serpihan kaca, yang juga menggejolakkan hati bagai terombang-ambing diatas laut yang berombak, memacu derap langkahnya menuju gedung pendidikan yang menunjukkan bukti rasa keberanian.  

          Aku menunggumu, menunggumu dengan segenap hatiku. Aku siap dengan segala hal yang hendak terjadi. Walau sebenarnya aku tak tahu, kalimat apa saja yang nantinya akan ku untaikan saat kita duduk bersama. Tapi aku yakin, dia bisa memulai semuanya. Urusan pembahasan, dia ahlinya. Kupercayakan saja padanya.

          Detik demi detik pun berlalu, penantianku terjawab juga. Dia yang kutungggu datang dengan perwiranya. Memasang mimik yang masih tampak tenang ditengah keramaian penginapan. Melihat kedatangannya, hatiku berbunga namun sulit dikata. Lalu perlahan senyumnya merekah saat tatapan kami beradu dan saat strategi mulai diatur.  Apakah ini misi? Bukan, lebih tepatnya adalah introduksi.

          Hehe, sapa demi sapa mulai kulontarkan, dan kian lama ekspresinya kian berubah. Gesture-nya pun kian membuncah. Hei, ada apa denganmu? Hal yang belum pernah ku saksikan sebelumnya dari seorang Ma’shum Thoyib. Ternyata dibalik tenang dan confident-nya dia bisa nervous juga. Hehe.. sungguh menggelikan. Berulang kali ia menstabilkan degup jantungnya dan adem-panas dirinya dengan menggosok kedua telapak tangannya lalu meniupnya. Menggemaskan sekali, aku ingin memeluknya.

          Wani pora? Yakin pora? Kalimat itu masih tersimpan menjadi wiridnya. Mungkingkah sepanjaang jalan sebelumnya dia sudah membatin kata itu dalam iring derap langkahnya?

Sudahlah, ayo masuk saja. Ayo duduk bersama, ayo kita bicara, ngalor-ngidul entah apa. Dan ternyata, tak lama setelahnya, ibuku tercinta keluar dari ruang penginapan dan mendapati kami yang tengah berbincang. Seketika dia mengulurkan tangan tanda meminta salam. Lalu, kami masuk bersama dan duduk bersama. Waktu yang kupunya sungguh singkat, aku harus beranjak dan pergi meninggalkan suasana tenteram itu. Ma’shum Thoyib yang kini berhadapan langsung dengan ayahku, yang kelak menjadi suamiku, yang kelak menjadi menantu ayah-ibuku, dan yang kelak tinggal serumah bersamaku. Sungguh aku bahagia menyaksikan itu.

          Namun ternyata semuanya berada diluar rencana. Aku harus pergi. Maafkan aku, aku harus meninggalkanmu. Namun sungguh, pada hakikatnya aku enggan bahkan tak ingin meninggalkanmu. Aku masih ingin menatapmu lebih lama. Mendengar suara tenangmu, mendengar ceritamu, dan bercengkerama bersamamu. 

----00000----

          Esoknya, aku memberanikan diri dengan segenap ragaku. Aku menceritakan banyak hal yang kutahu tentangmu. Sifatmu, karaktermu, kelebihanmu, dan bagaimana perwiranya dirimu. Kuterbangkan kau begitu tinggi dengan seluruh kata manisku. Berharap dengan itu, ibu dapat memberikan penilaian dan pertimbangan tentangmu. Tak cukup pada ibu, bapak sang raja dikeluargaku pun ku pinta untuk memberikan restunya.

“Pripun jawabannya pak?”

Bapak melihat kearahku sembari bertanya balik “Jawaban opo?”

“Nggeh jawabane niku”

“Piye bapak arep memberikan jawaban. Wong dia lhoo ndak mengarah kesana. Coba ae kalau dia bertanya tentang itu, pasti bapak jawab. Lha kalau pembahasannya ndak kesana mosok bapak moro-moro membahas itu”

Benar juga kata bapak. Namun mas bilang katanya bapak sudah di kode. Hanya saja mungkin kepekaan dan pemahaman beliau belum menalar itu. Hingga aku langsung to the point saja..

“Lha terus pripun pak? Angsal mboten?”

Kulihat tatapannya menyiratkan sesuatu akan pertanyaanku. Dan perlahan senyum berat merekah dibibir beliau. Kutepuk perlahan salah satu paha beliau sembari mengiringi kalimatku. “Bapak sien nate sanjang teng Evi. Vi, sok mben lek golek pacar ki iso.o seng lebih dewasa dari pada Evi, yang bisa mengerti Evi, yang benar-benar menerima bagaimana Evi, menerima kekurangannya Evi, memahami bagaimana keluarganya Evi, mengayomi Evi, bisa jadi panutane Evi, dan lebih pinter dari pada Evi. Nggeh niku semuanya ada di Ma’shum pak” ucapku penuh narasi mem-flashback pesan beliau padaku di waktu lampau.

Senyum bapak melebar lagi. ”Seng penting siap manggon neng Bali” Jawab beliau dengan nada lembutnya seolah memberi syarat.

          Aku masih berpikir keras, bagaimana ini? Aku ingin tinggal di Sumatera. Mengembangkan mimpi Ma’shum yang sudah dirancangnya. Pikiranku masih berputar, antara iya dan tidak. Bahkan sampai melangkah hendak pulang akupun belum yakin dengan jawaban bapak. Beliau merangkulku sampai pada tempat dimana motor diparkir. Dan pada salaman perpisahan, bapak memegang kedua pundakku dan menatap kedua mataku seolah menyimpan siratan harap.

“Iyo, seng penting mari sek kuliahe”. Ucap beliau dengan senyum berat.

          Benarkah itu? bapak mengiyakan permintaanku? Aku mencium tangan bapak dengan hati yang masih bergemuruh. Setelahnya, aku melepas kepergian bapak dan ibu dengan haru. Setelah bayangan bapak dan ibuk jauh menghilang dari pelupuk mataku. Tanpa terasa, pikiranku menerawang jauh dicakrawala. Jika benar dan iya, aku akan menikah dengannya. Dia akan menjadi menantu bapak dan ibuku, dan aku akan tinggal bersamanya. Restu pertama telah membuka jalan dan harap. Semog tiada perubahan pikiran kedepannya.

          Aku berjalan dengan hati bahagia, dan juga entah mengapa air mataku menitik tanpa perintah, aku ingin bercerita.  Mas, aku ingin memberitahukan padamu. Mas, semoga kita bisa bersama..

---Ma'shum Thoyib---

Akhir Delapan Januari

  Tanggal ulang tahunmu Pernah menjadi salah satu tanggal yang istimewa bagiku Aku juga pernah menjadi orang pertama yang mengucapkan ...