Memory Haul Masyayikh Darussalam, 07-08 Februari 2023
Sejak awal aku mulai memiliki rasa
itu, aku mempertimbangkan banyak hal. Salah satu pertimbangan terberat yang
harus kupikirkan matang-matang adalah tentang jarak. Namun, jika itu cinta, apa
boleh dikata, tetap saja takkan ada alasan untuk itu.
Karenanya, kau tahu? Mengapa aku ingin
segera memperkenalkanmu dengan orang tuaku? Karena ada
pertimbangan-pertimbangan yang harus dipikirkan. Mengingat beberapa hari lalu
sebelum pertemuan itu, Ibu bilang dipertukaran suara melalui sambungan telepon.
“Lek pengen ngobrol maleh, mbenjeng Haul Insyaallah kulo meriko”. Aku
terhenyak mendengar kalimat ibu. Benarkah itu? Ibu bilang bahwa bisa ditemui di
acara Haul. Pernyataan itu memberiku kesimpulan singkat bahwa Mas boleh menemui
ibuk disaat itu.
Dan tiba pada hari yang telah
ditunggu. Di hari Haul yang meriwehkan itu. Entah mengapa, aku benar-benar
ingin memperkenalkannya pada kedua orang tuaku, aku ingin orang tuaku segera
tahu, dan segera memberikan jawaban tentang rasaku. Aku ingin orang tuaku tahu
siapa laki-laki yang kuinginkan dan laki-laki yang kelak menjadi menantu
mereka.
“Yakin pora, wani pora?” aku
juga memiliki rasa itu. Namun, aku tak ingin terlalu berkepanjangan berada
dalam keambiguan, sehingga aku memberanikan diri untuk mengenalkannya.
“Buk,
saumpami Ma’shum ajengen mriki pripun? Angsal mboten?”.
Aku
melihat perubahan ekspresi dari mata beliau yang menampakkan wajah berpikir.
“Takok
bapak ki lhoo!”. Jawab ibu
mengarahkan pada bapak.
Bapak tersenyum lalu terdiam sejenak. Namun sorot matanya
menampakkan wajah berpikir pula. Lalu ibu menambahi “Gak popo mas, kenalan
toh ben ngerti”.
Bapak menatapku masih dengan senyumnya yang menyiratkan wajah
berpikir. Dan jawaban yang teruntai adalah “Iyo wes gak popo, monggo!”
Bak mendengar gelegar petir yang mengejutkan. Aku bahagia, sesegera
mungkin kucari cara untuk menghubunginya. Orang yang kucinta, ia harus bertemu
dengan ayah dan ibuku malam ini juga. Setidaknya ada waktu untuk memulai,
setidaknya ada jalan untuk saling mengenal.
“Lek
gak saiki, kapan meneh?” kalimat yang
menjadi prinsip sekaligus pertanyaan itu mengitari kepala dan benakku. Detik
waktu berputar dengan teratur menuntun keyakinanku untuk benar-benar
mempertemuknnya dengan orang tuaku.
Aku mencoba berbagai cara untuk
menghubunginya, dan dengan segenap raga meyakinkannya untuk bersedia hadir.
Terbesit dalam hatiku, bahwa aku tahu dia bisa, aku percaya dia berani, aku
yakin dia siap. Sehingga aku memberanikan diri untuk meyakinkannya. Melalui
sambungan telepon, aku memintanya untuk segera datang. Entah itu terkesan
terpaksa atau apa. Yang kutahu, kita harus bertemu.
Dengan berbagai pertimbangan yang ada,
pada akhirnya dia datang. Dengan penuh kehati-hatian dan teduh tenangnya, dia
memberanikan diri dengan seluruh lantahan jiwa raganya. Satu tujuan yang seolah
melintas diatas serpihan kaca, yang juga menggejolakkan hati bagai
terombang-ambing diatas laut yang berombak, memacu derap langkahnya menuju
gedung pendidikan yang menunjukkan bukti rasa keberanian.
Aku menunggumu, menunggumu dengan
segenap hatiku. Aku siap dengan segala hal yang hendak terjadi. Walau
sebenarnya aku tak tahu, kalimat apa saja yang nantinya akan ku untaikan saat
kita duduk bersama. Tapi aku yakin, dia bisa memulai semuanya. Urusan
pembahasan, dia ahlinya. Kupercayakan saja padanya.
Detik demi detik pun berlalu,
penantianku terjawab juga. Dia yang kutungggu datang dengan perwiranya.
Memasang mimik yang masih tampak tenang ditengah keramaian penginapan. Melihat
kedatangannya, hatiku berbunga namun sulit dikata. Lalu perlahan senyumnya
merekah saat tatapan kami beradu dan saat strategi mulai diatur. Apakah ini misi? Bukan, lebih tepatnya adalah
introduksi.
Hehe, sapa demi sapa mulai
kulontarkan, dan kian lama ekspresinya kian berubah. Gesture-nya pun kian
membuncah. Hei, ada apa denganmu? Hal yang belum pernah ku saksikan sebelumnya
dari seorang Ma’shum Thoyib. Ternyata dibalik tenang dan confident-nya dia bisa
nervous juga. Hehe.. sungguh menggelikan. Berulang kali ia menstabilkan degup
jantungnya dan adem-panas dirinya dengan menggosok kedua telapak tangannya lalu
meniupnya. Menggemaskan sekali, aku ingin memeluknya.
Wani pora? Yakin pora? Kalimat itu
masih tersimpan menjadi wiridnya. Mungkingkah sepanjaang jalan sebelumnya dia
sudah membatin kata itu dalam iring derap langkahnya?
Sudahlah, ayo masuk saja. Ayo duduk bersama, ayo kita bicara,
ngalor-ngidul entah apa. Dan ternyata, tak lama setelahnya, ibuku tercinta
keluar dari ruang penginapan dan mendapati kami yang tengah berbincang.
Seketika dia mengulurkan tangan tanda meminta salam. Lalu, kami masuk bersama
dan duduk bersama. Waktu yang kupunya sungguh singkat, aku harus beranjak dan
pergi meninggalkan suasana tenteram itu. Ma’shum Thoyib yang kini berhadapan
langsung dengan ayahku, yang kelak menjadi suamiku, yang kelak menjadi menantu
ayah-ibuku, dan yang kelak tinggal serumah bersamaku. Sungguh aku bahagia
menyaksikan itu.
Namun ternyata semuanya berada diluar
rencana. Aku harus pergi. Maafkan aku, aku harus meninggalkanmu. Namun sungguh,
pada hakikatnya aku enggan bahkan tak ingin meninggalkanmu. Aku masih ingin
menatapmu lebih lama. Mendengar suara tenangmu, mendengar ceritamu, dan
bercengkerama bersamamu.
----00000----
Esoknya, aku memberanikan diri dengan
segenap ragaku. Aku menceritakan banyak hal yang kutahu tentangmu. Sifatmu,
karaktermu, kelebihanmu, dan bagaimana perwiranya dirimu. Kuterbangkan kau
begitu tinggi dengan seluruh kata manisku. Berharap dengan itu, ibu dapat
memberikan penilaian dan pertimbangan tentangmu. Tak cukup pada ibu, bapak sang
raja dikeluargaku pun ku pinta untuk memberikan restunya.
“Pripun
jawabannya pak?”
Bapak
melihat kearahku sembari bertanya balik “Jawaban opo?”
“Nggeh
jawabane niku”
“Piye
bapak arep memberikan jawaban. Wong dia lhoo ndak mengarah kesana. Coba ae kalau
dia bertanya tentang itu, pasti bapak jawab. Lha kalau pembahasannya ndak
kesana mosok bapak moro-moro membahas itu”
Benar juga kata bapak. Namun mas bilang katanya bapak sudah di
kode. Hanya saja mungkin kepekaan dan pemahaman beliau belum menalar itu.
Hingga aku langsung to the point saja..
“Lha
terus pripun pak? Angsal mboten?”
Kulihat
tatapannya menyiratkan sesuatu akan pertanyaanku. Dan perlahan senyum berat
merekah dibibir beliau. Kutepuk perlahan salah satu paha beliau sembari
mengiringi kalimatku. “Bapak sien nate sanjang teng Evi. Vi, sok mben lek
golek pacar ki iso.o seng lebih dewasa dari pada Evi, yang bisa mengerti Evi,
yang benar-benar menerima bagaimana Evi, menerima kekurangannya Evi, memahami
bagaimana keluarganya Evi, mengayomi Evi, bisa jadi panutane Evi, dan lebih
pinter dari pada Evi. Nggeh niku semuanya ada di Ma’shum pak” ucapku penuh
narasi mem-flashback pesan beliau padaku di waktu lampau.
Senyum
bapak melebar lagi. ”Seng penting siap manggon neng Bali” Jawab beliau
dengan nada lembutnya seolah memberi syarat.
Aku masih berpikir keras, bagaimana
ini? Aku ingin tinggal di Sumatera. Mengembangkan mimpi Ma’shum yang sudah
dirancangnya. Pikiranku masih berputar, antara iya dan tidak. Bahkan sampai
melangkah hendak pulang akupun belum yakin dengan jawaban bapak. Beliau
merangkulku sampai pada tempat dimana motor diparkir. Dan pada salaman
perpisahan, bapak memegang kedua pundakku dan menatap kedua mataku seolah
menyimpan siratan harap.
“Iyo,
seng penting mari sek kuliahe”. Ucap beliau dengan senyum berat.
Benarkah itu? bapak mengiyakan permintaanku? Aku mencium tangan bapak dengan hati
yang masih bergemuruh. Setelahnya, aku melepas kepergian bapak dan ibu dengan
haru. Setelah bayangan bapak dan ibuk jauh menghilang dari pelupuk mataku.
Tanpa terasa, pikiranku menerawang jauh dicakrawala. Jika benar dan iya, aku akan
menikah dengannya. Dia akan menjadi menantu bapak dan ibuku, dan aku akan
tinggal bersamanya. Restu pertama telah membuka jalan dan harap. Semog tiada
perubahan pikiran kedepannya.
Aku berjalan dengan hati bahagia, dan
juga entah mengapa air mataku menitik tanpa perintah, aku ingin bercerita. Mas, aku ingin memberitahukan padamu. Mas,
semoga kita bisa bersama..
---Ma'shum Thoyib---