“Ya Allah, aku mencintainya, Dan dia mencintaiku. Jadikanlah kebaikan untuk selalu ada menyertai langkah kami. Kupasrahkan dia padamu karena engkaulah pemiliknya. Jika dia memang telah kau takdirkan untukku, maka kuatkan kami untuk dapat mencapai puncak menuju sunnah-mu. Dan kuatkan hati kami agar kami dapat menghadapi segala bentuk tantangan dan menerima segala hal dengan ikhlas karenamu. Amin Yaa robbal Alamin”.
Kuraup kedua tangan diwajahku dan mengakhiri doa itu. Getar hatiku membuatku lunglai secara berkala. Aku melangkahkan kaki setapak demi setapak dengan pikiran yang banyak beradu. Pertanyaan dan pernyataanpun bertabur dalam benak.
Bagaimana mungkin aku bisa mencintainya? Padahal dulu aku hanya menganggapnya sebagai teman alakadarnya. Bagaimana bisa aku merindukannya? Padahal dulu hampir setiap hari aku bertemu dengannya. Bagaimana bisa aku berharap padanya? Padahal dulu menanggapinya saja aku enggan.
Sekarang…..
Aku mencintainya, aku merindukannya setiap waktu, aku berharap banyak padanya, aku menginginkannya, dan aku mendewakannya. Aku belum pernah merasakan kenyamanan seperti saat aku berada didekatnya, seperti saat berbicara dengannya, dan aku belum pernah mencintai laki-laki seperti bagaimana aku mencintainya.
Aku duduk didepan kamar, membuka dan membaca Al-Qur’an yang masih kupegang ditanganku. Namun, pikiranku berkelana lagi…
Ya Allah, bagaimana kelak aku tinggal bersamanya, aku tidur disampingnya, menyambut bangun tidurnya, makan bersamanya, sholat jama’ah dengannya, mengandung dan melahirkan anaknya. Dan juga, bagaimana dia ada disampingku, mendampingi proses kelahiran anak kami, dan saat anak itu lahir, mungkinkah dia akan mencium keningku? Menyalurkan tenaga dan kehangatan dalam lelahku. Dan saat anak itu menangis, suara merdunya akan melantunkan adzan untuk anak kami.
Masya Allah, terlalu jauhkah anganku? Air mataku menitik dari kelopaknya. Membuat ayat Al-Qur’an yang kubaca terhenti secara tiba-tiba. Lalu, bagaimana kelak dia selalu ada disampingku, menjadi sosok yang benar-benar harus kuhormati, Harus kulayani dengan segenap jiwa dan ragaku. Dan dia akan menjadi tempat teraman, menjadi sandaran ternyaman, dan menjadi segala rasa dalam setiap keadaan.
Beginikah ceritaku? Pada akhirnya aku jatuh sejatuh-jatuhnya padanya. Aku siap dengan seluruh keadaan asalkan aku bersamanya. Dan inikah jawaban dari apa yang pernah dimintanya dulu? Aku masih ingat “Sebelum aku bisa mendapatkanmu, aku memintamu kepada pemilikmu. Aku mendekatkan diri pada penciptamu, semoga kelak Allah menjawab permintaanku”.
Memang benar bahwa semua masih berada di garis permulaan. Perjuangan kita belum ada apa-apanya. Waktu yang harus kita lewati masih sangat panjang, jarak yang harus kita lalui masih sangat jauh. Sekarang semuanya masih berada pada rangkaian angan, dan hanya doa terbaik yang menjadi tempat kita untuk melukis tawakkal. Tugas kita adalah berdoa bersama. Dan tawakkal akan hasil akhir dari seluruhnya.
---Doa dan Harapku untukmu, Ma'shum Thoyib---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar