Tanggal ulang tahunmu
Pernah menjadi salah satu tanggal yang istimewa bagiku
Aku juga pernah menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat kepadamu.
Rela begadang menunggu pukul 00.00
Sambil berharap agar aku masih bisa menemanimu
Pada tahun-tahun berikutnya. Kamu merayakannya bersamaku
Dan kita berdua sangatlah bahagia saat itu.
Kini kita tak lagi bersama. Tangga nada cerita yang berdinamika itu membuncah. Sehingga ritmenya tak lagi beraturan. Kamu tak lagi merayakan hari bahagiamu bersamaku. Dan tanggal yang istimewa itu, Kini hanyalah kenangan. Tapi aku bahagia, pernah menjadi bagian dari ceritamu. Terimakasih atas seluruh cerita yang kau persembahkan untukku.
Dunia tak berpihak pada kita. Jalan cerita, jarak, restu, orang tua, masalah, salah paham, dukungan, kekuatan, waktu, tirakat, doa, semua berlawanan dengan mimpi yang pernah kita bangun bersama. Koneksi, interaksi, informasi, merubah skala yang awalnya indah jadi berantakan, meriak air yang tadinya tenang jadi bergelombang. Namun, perlahan aku sadar bahwa mungkin inilah cerita yang semesta lukiskan untuk kita. Aku dan kamu dipertemukan untuk saling menjaga, mengajari, dan mengkombinasi hal-hal yang dulunya tak ada menjadi ada.
Terimakasih sudah memberikan kasih sayang yang tulus, Terimakasih sudah menjadi orang yang tegas dengan jiwa pemimpin yang perwira, Terima kasih telah mewarnai kisah hampa yang tanpa corak, terimakasih telah mengajarkanku apa arti sabar, menanti, menjaga diri, membangun mimpi, berkorban, berusaha, menahan amarah, manut, menyimpan rasa, dan diam dalam menghadapi segala problematika.
Aku akan selalu ingat itu. Takkan kulupa, karena hadirmu
tak hanya cinta tapi juga guru. Dari sekian drama yang pernah terjadi, diantara
jatuh dan bangun, tangis dan bahagia, murung dan ceria, tenang dan gusar, rindu
dan lara, benar dan salah, ringan dan berat, pada akhirnya aku paham. Bahwa
kita memang tak digariskan untuk bersama. Setelah segala usaha, setelah segala
mimpi, setelah segala perjuangan, nyatanya tetap kalah dengan halangan dan
tantangan. Dan dengan segala media yang memberi petunjuk pada akhirnya aku
menyimpulkan dalam diam bahwa sekarang kita sudah ada di garis masing-masing.
Maafkan
aku, yang tak pernah bisa membuatmu bahagia, maafkan aku yang belum pernah bisa
merealisasikan inginmu, maafkan aku yang terkesan sok-sok an dalam berbicara,
ingkar dalam berjanji, dan jahat, serta tega melakukan semua ini. Namun dibalik
layar yang tak pernah kau tau, ada banyak hal yang sudah ku usahakan untuk
dapat melangkah bersamamu. Namun lagi-lagi cerita berbalik arah. Dan disini,
aku yang salah.
Aku tak mempermasalahkan apapun, apa yang menjadi pemahamanmu tentangku selama ini. Apa yang telah kau percaya dari orang lain tentangku pula. Dan apa-apa yang mungkin menjadi predikat buruk darimu untukku berdasarkan apa yang kau tahu tentangku. Maafkan aku, jika terlalu terlambat untuk mengatakan ini kepadamu.
Dulu, Njenengan yang bilang bahwa aku harus sampaikan jika ada orang baru. Tapi, sebelum ada yang ku sampaikan ternyata media sudah menampakkan cerita yang lebih baru. Terima kasih, dengan itu aku semakin yakin dan legowo bahwa ternyata kita tidak di ridhoi untuk bersama.
Sekali lagi, kulo ingin menyampaikan terima kasih yang
sebanyak-banyaknya. Karena pernah hadir di dunia saya dan mencintai saya dengan
segenap jiwa raga. Maafkan kulo jika memang apa arti diriku selama ini hanya
sia-sia belaka, kulo yang telah menghabiskan waktu, dan hanya membuat luka di
hati njenengan. Walau jauh di balik apa yang njenengan dapatkan dari orang lain
sebenarnya itu tak sepenuhnya terjadi. Namun tak apa, sekarang semua sudah
selesai. Tak perlu ada lagi klarifikasi ataupun validasi.
Syukron katsir untuk 2022-2025 nya. Entah ditanggal yang mana tepatnya, kita tak benar-benar tau kapan memulai dan benar-benar mengakhirinya. Kulo pamit dari hidupnya njenengan mas, semoga apa yang sudah menjadi pencapaian mas barokah dan memberikan feed back yang baik untuk hidup mas.
Sekali lagi,
Diujung delapan januari,
Barokallah fii umrik ilaa yaumil qiyamah.
Semoga sehat-sehat dan selalu dalam lindungan Allah.
Dariku,
Evi Hidayatul Maghfiroh
Teruntuk Starlight