Dear, My future husband
Malam itu, aku tersenyum ditengah ceritamu. Kekhawatiranmu sungguh tinggi, tentang bagaimana aku. Baiklah, akan kujawab disini.
Akankah nduk merendahkan mas?
Mas pernah bilang bahwa nduk akan menjadi ratu jika nduk menikah dengan mas, Maka ada konteks yang harus diubah mas. Tidakkah suami yang seharusnya menjadi raja dalam kehidupan keluarga? Nduk sudah memikirkan itu mas. Tugas istri adalah untuk melayani suami, mematuhi perintah suami, dan menjadi pendamping suami. Pendamping yang bisa mendukung dan mempertimbangkan apa yang menjadi keputusan suami.
Sehingga, istilah istri itu pinter atau nggak,, itu nggak berlaku mas. Karena bagaimanapun semuanya ada ditangan suami. Seberapapun tingkat kepintaran dan kecerdasan seorang istri, itu tidak akan pernah mengalahkan tingginya derajat suami.
Cerita dikit nggeh mas….
Dulu, pas nduk kelas 3 SMA bapak pernah berpesan, “Vi, sok mben lek golek pacar ki iso.o seng lebih dewasa dari pada Evi, yang bisa mengerti Evi, yang benar-benar menerima bagaimana Evi, menerima kekurangannya Evi, memahami bagaimana keluarganya Evi, mengayomi Evi, bisa jadi panutane Evi, dan lebih pinter dari pada Evi”.
Dan mas tahu, semua pesan yang pernah bapak sampaikan itu sudah nduk temukan dan ada dalam diri mas. Mas yang selalu mengerti, yang menerima kekurangannya nduk, padahal nduk jauh dari kata sempurna, mas yang bisa membuat nduk nyaman, yang bisa memahami karakternya nduk, yang bisa mengayomi nduk, yang bisa nasehati nduk, jadi sandarannya nduk, dan bisa mendewasakan nduk. Semuanya ada didalam diri mas, sampai suatu hari nduk pernah berpikir.. “Andai bukan Ma’shum, mungkinkah ada lagi yang seperti dia?”
Nduk belum pernah bilang dan cerita ke mas. Bagaimana nduk meninggikan mas ke orang tuanya nduk, apalagi ke mbak2 dan mas2nya nduk. Nduk pernah bilang ke ibuk.. “Buk, Ma’shum niku hafalan Qur’an, larene pinter, dewasa, bijak, selalu bisa memahami dan mengerti Evi. Ibuk ngertoskan nggeh, sien Evi pernah punya keinginan untuk jadi hafidzoh. Keinginan itu juga tumbuh dari arahannya bapak. Tapi ternyata sampai saat ini Evi dereng saget mewujudkan mimpi itu. Mimpi yang bapak pernah utarakan. Dan misal Evi saget nggadah suami yang hafalan Qur’an, tidakkah niku juga menjadi salah satu hal yang bisa membahagiakan bapak?”
Ibuk diam mendengar itu, entah apa yang ada dipikiran beliau. Tapi, pasti ada pertimbangan didalamnya. Kadang nduk berpikir, “mungkinkah nduk terlalu berani untuk mengungkapkan itu?” Nduk sampai berani cerita ke mas2 dan mbak2nya nduk juga. Padahal, kalau nduk punya hubungan sama seseorang nduk jarang cerita, bahkan nyaris gak mau cerita ke keluarga tentang apa itu rasa, dan bagaimana rasa itu ada. Siapa orang yang suka dan disuka. Tapi sekarang, nduk memberanikan diri mencari opsi dan opini dari keluarga yang tak sekedar bapak dan ibuk, tapi juga mas-mas dan mbak-mbak.
Kita sama-sama belum tahu dan gak pernah bisa menebak bagaimana rancangan kisah kedepannya. Tapi, jika hati punya rasa yakin dan ingin, tidakkah itu menjadi modal untuk dapat bersama?
Mas tahu gak, nduk punya banyak keyakinan bahwa kelak nduk bisa tinggal di Sumatera. Entah keyakinan itu munculnya dari mana nduk juga nggak tau. Nduk pernah bilangkan mas, kalau semuanya bisa diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan dan posisi. Bolehlah kita manut sama bapak ibuk untuk sementara waktu. Nanti Ketika memang keadaan harus diputar untuk tinggal di Sumatera dengan alasan karena kebutuhan keadaan, mungkinkah bapak dan ibuk tidak mengizinkan kita?
Orang tua mana yang gak suka dan gak bangga jika putra-putri nya berguna untuk orang lain? Iyakan mas? Nduk sudah memikirkan itu mas. Hingga pada suatu hari nduk pernah membayangkan, kelak kita akan mengembangkan apa yang memang perlu dikembangkan di Sumatera, lalu kita menempuh channel dan jaringan karir seperti yang mas pernah ceritakan. dan kalau kita tinggal di Sumatera, berarti mudiknya ke Bali. Tapi untuk saat ini, semuanya masih berada di garis hayal mas. Kita harus bersabar, waktu akan menjawab semuanya.
Mas pernah bilang ke nduk bahwa mas takut gak diterima. Atas dasar apa mas memunculkan rasa takut itu? Mas takut gak diterima karena apa? Padahal mas memiliki banyak kelebihan yang gak semua orang punya, mas bisa melakukan sesuatu yang orang lain belum tentu bisa lakukan, dan mas bisa menjadi sosok yang belum tentu semua orang bisa menjadi seperti itu.
Kadang, nduk yang malah minder sama mas. Pernah nduk berpikir, “kenapa aku? Kenapa harus aku? Bagaimana bisa aku? Padahal aku gak bisa apa-apa, kalau dibandingkan dengan Ma’shum, Evi banyak kurangnya. Kenapa gak cewek yang lain aja? Yang sebanding dengan mas”.
Dan ternyata kadang terjadi perbalikan arah, mas malah berpikir bahwa nduk adalah perempuan sempurna, dan mas berpikir bahwa mas gak bisa apa-apa, mas banyak kurangnya, mas gak pinter, dan mas takut direndahkan.
Cukup mas, jangan pikirkan itu. Kita belajar sama-sama. Kita tekuni lagi apa yang sudah menjadi kelebihan yang kita miliki, kita perbaiki kekurangan yang perlu diperbaiki. Tetap semangat untuk jadi orang yang berguna, kita harus saling mensupport, saling mengingatkan, saling mendewasakan, dan tetap menjadi orang baik seperti yang mas pernah bilang ke nduk.
Nduk pernah bilang ke mas, nduk gak minta apa-apa, cukup jadi mas yang seperti ini saja. Nduk suka semua hal yang ada dalam diri mas. Mas bilang nduk sempurna dimata mas, begitu juga sebaliknya, mas juga sempurna dimata nduk. Dan bagi nduk, adanya istri yang cerdas itu bukan untuk melawan atau merendahkan suami, tapi untuk menjadi pendamping terbaik yang bisa mendukung dan mempertimbangkan keputusan suami, menjadi ibu yang bisa mendidik anak-anaknya dengan baik, dan menjadi peran yang baik untuk rumah tangganya.
Mas gak seharusnya berterima kasih hanya karena wujud keberadaan nduk yang seperti ini. Nduk yang seharusnya berterima kasih sama mas yang sudah banyak membawa perubahan baik ke dunianya nduk, mengajarkan banyak hal ke nduk, mengingatkan nduk, sayang dan cinta ke nduk, dan selalu mengerti nduk. Sekali lagi, terima kasih banyak nggeh mas. Nduk sayang Mas..
_ILOVEYOU_