Kamis, 07 September 2023

Belajar Meraih Sholihah

Belajar Meraih Sholihah

-Vihima-

            Setiap perempuan muslimah didunia ini memiliki potensi menjadi pribadi yang baik, atau bahasa familiarnya adalah sholihah. Menuju ke predikat sholihah, ternyata tak sekedar berperilaku baik sesuai syariat yang diajarkan agama dalam literatur klasikal dan modern saja. Ternyata, menjadi perempuan sholihah harus kuat menghadapi tantangan dan cerdas dalam menyikapi problematika yang terjadi di sekitarnya.

Sejauh ini, selama melewati warna-warninya problematika di panjangnya masa, masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki dalam diriku yang rendah ini. Sebagai seorang santri yang notabene-nya adalah perempuan biasa, yang jauh dari kata sempurna, aku masih harus belajar tentang banyak hal. Utamanya memperbaiki diri.

Hari yang kulalui dari tahun ke tahun kini telah menjejak di usia ke-22. Banyak orang mengatakan, usia yang berada di titik itu adalah “wayae”. Wayae nyapo? Yo, nyapo-nyapo…

Sudah tak asing lagi, kata “wayae” yang dimaksud disini adalah ranah pernikahan. Nah, disinilah muncul pemikiran yang begitu kompleks. Mungkin kebanyakan orang menilai bahwa pernikahan adalah hal menyenangkan yang penuh dengan kebahagiaan.

Namun pada dasarnya, menuju ke ranah pernikahan itu, ada banyak sekali perihal yang harus dipersiapkan. Sebagai perempuan, yang kelak akan menjadi istri dan ibu untuk suami dan anaknya, maka kunci utama dalam keharmonisan keluarga adalah perempuan, perempuan yang harus bisa mengimbangi bagaimana memposisikan suami dan anaknya.  Calon istri dan calon ibu harus belajar dengan sangat telaten tentang bagaimana menyikapi setiap keadaan yang kelak akan terjadi dalam kehidupan di keluarga kecilnya.

Dikutip dari seorang ulama’ yang disampaikan oleh Ning Atina Balqis Izzah yaitu.. “Keutamaan istri sholihah itu lebih baik dari pada dunia seisinya”. Bagaimana tidak? Karena wanita memang memiliki peran yang sangat penting untuk mendampingi langkah suami, dan juga madrasah pertama untuk anak-anaknya.

Dalam hal ini, banyak sekali pelajaran yang harus dipersiapkan. Ditulisan ini pula aku akan menceritakan tentang seseorang. Seorang laki-laki yang kucinta. Sebut saja bahwa dia adalah calon suamiku.

Wahai calon suamiku yang tercinta. Mengapa aku menulis kata yang tercinta? Benar saja, karena hanya dia satu-satunya. Saat ini, dialah yang selalu ada dalam jiwa dan menjadi pelipur lara. Pemberi warna terindah yang selalu kugambar dalam angan masa yang jauh didepan sana.

Kau tahu, pasangan itu adalah pilihan. Awal dari anugerah terindah untuk memulai bahagia hakiki yang menjadi tujuan hidup manusia. Hari dimana setiap kebaikan yang dilakukan bersamanya akan menjadi ibadah. Dan semua akan dimulai dari terbukanya pintu pertama, yaitu menikah.

          Sebelum menikah, perempuan berhak tahu bagaimana calon suaminya. Karena suami adalah pemimpin yang menjadi tokoh terdepan untuk terciptanya keluarga yang baik. Suami membutuhkan sosok pendamping yaitu istri. Dan dari sinilah perlu diteladani bahwa untuk menjadi istri yang baik bagi suami, perempuan harus  belajar. Begitulah pula perjalanan relasi yang sampai saat ini telah terlaku.  Aku masih belajar, memahami setiap hal yang ada pada dirimu. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa perempuan dan laki-laki  adalah dua karakter yang tidak bisa disamakan. Seberapapun tingkat kesamaan frekuensi yang dimiliki pasangan, pasti akan ada perbedaan diantara keduanya. Layaknya aku dan kamu. Ternyata, kita memiliki banyak perbedaan. Kita memiliki cara yang berbeda dalam memahami keadaan, menyikapi rasa, cara berpikir, bahkan cara merindukan.

          Namun, tak dapat dipungkiri, begitulah garis karakter. Lalu, Bagaimana untuk menengahi perbedaan itu? Caranya hanya satu, ialah belajar memahami. Bagiku, belajar memahami karakter seseorang merupakan hal yang sulit. Jika hanya untuk sekedar tahu saja, mungkin tak rumit. Namun jika memahami secara mendalam dan untuk berjalan beriringan, terkadang ada hal yang perlu dipelajari lebih jauh. Kelak, jika kita akan tinggal serumah, pasti akan ada karakter-karakter baru yang berdatangan. Dan kita akan benar-benar tahu tentang pasangan kita kelak ketika kita tinggal serumah.

          Sebelum mencetak karakter untuk anak, perempuan harus memahami karakter suaminya terlebih dahulu. Dan juga, pendidikan karakter anak pula tak cukup jika hanya dari ibunya saja.   Karenanya, mulai sekarang aku memutuskan untuk mempelajari semua tentangmu.

          Tugas utama seorang istri adalah bertanggung jawab pada pekerjaan rumah dan menyebabkan tersalurnya syahwat biologis. Ditengah beratnya tanggung jawab suami, istri harus mengerti keadaan suami. Karena istri merupakan sumber ketenangan bagi suami. Sehingga istri harus mendukung dan membantu suami dalam hal membangun keluarga yang baik.

          Istri sholihah adalah istri yang taat pada suami, istri yang menurut, tidak membantah permintaan suami atau perkataan suami, dan berakhlaq yang baik pada suami. Istri yang baik itu tidak egois dan tidak menuntut suami secara berlebihan.

Belajar dari sosok berharga dihidupku. Ibu Muti’atul Jannah, ibu hebat pemilik pemikiran realistis dan dinamis. Pemilik hati lembut yang mudah menerima hal masuk akal tanpa harus banyak perhitungan. Sebagai wanita hebat, beliau tak pernah banyak protes dengan perintah dan permintaan yang dibuat oleh bapak, beliau selalu menurut dengan perintah dan permintaan bapak, beliau selalu menjadi sosok pendukung dalam semua keputusan baik bapak, dan menjadi sosok pemilik predikat solutif terbaik dengan seluruh pemikiran logisnya, dan juga, beliau adalah sandaran paling meneduhkan dengan seluruh ungkapan tenang dan sifat harmonisnya.

Ibuku, sosok terkuat yang telah melahirkan 3 bocilnya dan pemberi sentuhan sayang yang tak pernah pilih kasih pada ketiga anaknya. Dan beliau pulalah sosok yang tak pernah mengejar apa itu materi duniawi.

          Dulu, bapak dan ibuku tak pernah mengawali relasi dengan status pacaran. Mereka saling mengenal karakter masing-masing pasca menikah. Di awal masa pernikahan, mereka sama-sama membangun usaha dengan banting tulang, dan benar-benar memulai mencari sangu kesana kemari mulai dari titik nol. Dengan latar belakang yang sama-sama orang susah, bapak dan ibu bekerja sama untuk mendirikan semuanya tanpa mengenal keluh kesah. Begitulah kisah harmonis dari kedua pahlawanku. Akankah kisahku nanti juga akan seperti mereka? Kuatkan aku ya Allah.. dalam hal apapun itu untuk melangkah menuju sakinahmu.

          Teruntuk calon suamiku....

“Mas, aku belum tahu bagaimana predikat sholihah dimatamu. Selama ini, semua hal yang pernah kulakukan untukmu dan bersamamu, baik dan burukku dari sisi manapun yang kau temukan, semata-mata karena aku masih belajar. Rentetan peraturan yang kau buat dan kau ajukan, selagi itu baik untukku akan kulakukan. Aku belajar untuk tidak menuntut agar keinginanku kau penuhi dengan baik, aku belajar menahan diri dan hati untuk tidak membantah perkataanmu walau kadang itu sakit, aku belajar untuk memahami karaktermu dengan perlahan walau kadang itu belum tepat, aku belajar memahami keadaanmu ditengah sibuknya posisi, kegiatan, dan relasimu dengan orang-orang di sekitarmu, aku belajar bagaimana mempertanggung jawabkan hal-hal yang telah kuperbuat dan siap menerima resiko yang sudah menjadi pilihanmu. Aku belajar menyiapkan kata terbaik guna menjawab pertanyaanmu untuk menghadapi setiap keadaan agar tak melukaimu dan menimbulkan salah pahammu, aku belajar legowo untuk menerima setiap keputusan dan konsekuensi yang kau berikan, dan aku belajar untuk tetap rendah hati karena menyadari dengan sangat baik bahwa engkaulah kelak tempat pengabdian berselimut ta’dzim yang harus ku utamakan. Dan semua kupertahankan atas dasar rasa sayangku. Aku belajar untuk mempersiapkan masa depan kita kelak kala serumah nanti. Sehingga aku tak harus takut untuk menghadapi perjalanan kehidupan didepan sana bersamamu nanti. Bagaimana saat susah, bagaimana saat tak punya uang, bagaimana saat tak makan, bagaimana saat keinginan tak dituruti, bagaimana menghadapi sakit, dan bagaimana menghadapi yang lainnya”.

          Untuk saat sekarang, modal utama untuk menuju ke puncak kebahagiaan terindah adalah kekuatan. Kekuatan berelasi harus dibendung sejak dini. Karena didunia pernikahan nanti, pasti akan ada lebih banyak lagi cerita berkolaborasi yang akan melemahkan diri. Tak hanya itu, kesabaran hati juga pasti akan diuji, Dengan banyaknya varian masalah, dan juga problematika. Finansial, profesi, pembangunan, hutang, anak, mertua, orang tua, saudara, tetangga, musibah, dan masih banyak lagi.

          Masih ku ingat, pesan ibu tersayangku kala itu...

“Yang namanya cinta iku kabeh ketok’e indah Vi. Opo meneh lak urung nikah. Pasti gambaran seng dibayangne seng indah-indah. Seng pahit iso dadi manis, seng mambu iso dadi wangi, yo iku cinta. Lah sesok, lak wes menikah terus urip bareng dadi bojo, baru elek apik e iso ketok. Mangkane, lek terah urung siap ojo aleman, karena cerita di dalam perjalanan pernikahan iku isine gk seneng-seneng tok

          Dari pesan itu dapat disimpulkan bahwa pernikahan bukanlah ajang untuk bersenang-senang saja, melainkan untuk belajar. Belajar guna meraih puncak kenikmatan dalam ibadah terbaik yang membawa kebahagiaan. Bukan jawaban untuk sekedar mengikuti omongan orang, bukan kompetisi untuk ikut-ikutan, karena dasar pernikahan adalah sebuah kesiapan lahir dan batin.

          Dan aku, aku akan belajar, menyiapkan diri untuk menjadi istrimu. Memperbaiki diri agar dapat meraih gelar sholihah dimatamu dan dimata penciptamu. Terima kasih, sudah mencintaiku dan mengajarkan banyak hal tak terduga padaku. Semoga, semua hal yang terangkai dalam mimpi dan harap akan tercapai menjadi karunia terindah. Sabar, semoga Allah meridhoi kita, dan menyatukan tangan kita di saat yang tepat. Amin Ya Robbal 'Alamin...

 

Dariku, yang mencintaimu...

_Evi Hidayatul Maghfiroh_

 

Akhir Delapan Januari

  Tanggal ulang tahunmu Pernah menjadi salah satu tanggal yang istimewa bagiku Aku juga pernah menjadi orang pertama yang mengucapkan ...