Jarak dan Restu
Perjalanan ini aku yang tak mengerti
Begitu berat untuk kulalui…
Ternyata, kini bait lagu itu benar-benar menjadi alur pengingat diantara kita…
Liburan dirumah tak membuatku tenang dan bebas dengan segala beban yang kumiliki sebelumnya. Ada banyak fenomena menjadi sesuatu yang perlu dipikirkan dengan serius, mendalam dan juga dengan pikir panjang.
Suara demi suara memberikan pendapatnya masing-masing…
Mas Rohim :
“Aku paham sama pola pikirnya bapak nduk. Sekarang dipikir-pikir lagi, gini ya. Nggak salah kalau bapak bilangnya nyuruh Evi yang berjuang melanjutkan perjuangannya bapak. Dengan catatan kamu harus tinggal di Bali. Kamu itu satu-satunya anak’e bapak yang memang sudah pinter dari kecil. Kamu dipondokkan, di sekolahkan dengan bekal pendidikan karakter dan intelektualmu, mestine bapak ngeman-ngeman kamu. Melihat adek-adekmu yang masih sedemikian itu, perlu waktu untuk mendewasakan mereka. Apalagi, bapak itu kalau ke anak perempuan mestine akeh abote nduk. Baguslah kalau memang dia mau diajak ke Bali. Karena memang memperjuangkan agomo neng Bali itu gak gampang nduk.
Sebenernya kalau berbicara tentang Sumatra, mas juga punya banyak temen dari Sumatra. Pengembangan pendidikan di Sumatra itu kalau dibarengi dengan intelegency yang tinggi itu cepet nduk. Banyak temen-temennya mas, temen-temen alumni-alumni pondok, dipondok dulunya dia biasa-biasa aja. Tapi ndilalah setelah pulang ke Sumatra dia bisa sukses menyebarkan benih bahkan mendirikan lembaga pendidikan sendiri.
Dulu, sebelum nikah sama mbak, mas juga memikirkan itu nduk. Mungkin jarak itu Cuma hal yang sepele, tapi itu menentukan bagaimana kedepannya. Makanya hal itu perlu dibicarakan secara serius. Kalau memang keputusannya mau tinggal di Bali jangan sampek nanti kedepannya jadi masalah antara kamu dan pasanganmu”.
Hmm.. esoknya aku bercerita kepadamu tentang nasehat mas Rohim. Kukira, kau akan menguatkanku dengan cara mengiyakan permintaan untuk tinggal di Bali. Ternyata, kau memutar fikirku. Kau menghadirkan hal-hal yang selama ini belum pernah terpikir olehku. Dan baru kusadari, ternyata beban terberat jatuh ditanganku. Kau benar, bahwa pemilik otoriterlah yang berhak mengutarakan wewenangnya. Dan kau benar, bahwa aku masih memberatkan perihal tentang ta’dziman wa ikroman sehingga aku hanya bisa sami’na wa atho’na.
Sebelum aku benar-benar paham dengan penggambaran yang kau utarakan, tahukah kamu apa yang kupikirkan? Aku membatin kata dalam hati..
“Mas, semakin kamu memberikan banyak penggambaran, semakin kamu memutar otakku, semakin aku ingin menjadi istrimu”.
Kau bertanya, apakah langkah terdepan yang ada pada penggambaranmu? Selama ini, aku hanya cenderung memikirkan hal-hal yang indah saja. Aku hanya memikirkan hal-hal yang menyenangkan bersamamu. Bahkan saat kau bertanya tentang langkah apa yang harus kupilih terlebih dahulu, hal-hal yang ada dikepalaku adalah tentang pernikahan, karir, dan bagaimana kelak semuanya akan indah bersamamu. Dan kau menggetarkanku saat kau membenahi pemahamanku yang salah. Langkah pertamanya adalah, “lanjut apa enggak?”
Sorenya, kau bercerita tentang obrolanmu dengan ibu tersayangmu. Tentang cerita dari kedua orang tuamu. Dan ternyata hal itu juga memberatkanmu. Dipenghujung senja yang hendak pergi kau menyatakan rasa beratmu untuk meninggalkan Sumatra. Kau mengutarakan rasa bingungmu. Maafkan aku yang belum bisa memberikan jawaban untuk menenangkan resahmu. Karena resahku pula belum terobati detik itu.
Di ba’da maghrib pasca berbuka bersama. Bapak menatapku lekat. Tiba-tiba ditengah diamku, aku merasa beliau tengah memikirkan sesuatu. Aku tak ingin menatap beliau, karena ku yakin ada sesuatu yang benar-benar ingin beliau katakan, dan seolah beliau mencari-cari kata terbaik, kata yang paling tepat untuk diutarakan.
Hingga pada akhirnya kalimat yang kutunggu terucap juga dari lisan bapak. “Vi, Evi wani pacaran karo Ma’shum op owes dipikir tenanan? Sumatra ki uuadoh yo Vi. Bapak mbiyen wes tau ngomong neng Evi lek golek arek ojo adoh-adoh”.
Degup jantungku seolah terhenti, lidahkupun seketika kelu tak dapat mengucapkan sepatah katapun. Bahkan menghadapkan wajah pada beliau saja aku merasa berat. Ya Rahman, apa lagi ini?
Dan respon yang kuberi hanya seutas senyum saja. Senyum kecil yang kecut dan tak mengartikan apapun.
Dan juga pasca tarawih, ibuk menghampiriku dikamar.. “Bapak iku miker nemen lek ditinggal Evi neng Sumatera”. Hm, sudahlah cukup. Mengapa semuanya bertempur dihari ini? Aku tak ingin bicara lagi. Bagaimana ini? Dan juga, kata-kata mas kala itu pula..
“Maafin mas ya nduk. Dulu mas udah meyakinkan nduk mau tinggal di Bali. Tapi sekarang kita lihat nduk, kondisinya genting mana? Dirumahnya mas gak ada siapa-siapa lagi nduk. Ibuk sendirian, kalo mas tinggal di Bali, Ibuk sama siapa?”
Cukup, jangan minta maaf. Adakah yang harus disalahkan diantara kita? Siapa yang salah disini? Dan mungkinkah ini merupakan sebuah kesalahan? Bukan, ini tantangan untuk kita. “Lanjut atau enggak, apa nduk akan ninggalin mas?” aku belum menemukan jawabannya, aku akan bicara, aku akan memutar semuanya, entah apa yang akan kukatakan. Entah nanti apa yang harus ku ucapkan, dan entah kapan aku akan bicara. Bismillah, tekadku kokoh untuk ingin menjadi istrimu, keinginanku masih kuat untuk tinggal di Sumatra. Iya atau tidak, akan kudorong seluruh keberanianku untuk dapat menemukan jawabannya.
Didepan mataku, ada orang yang sudah menungguku selama bertahun-tahun. Namun hatiku tak ada untuknya. Orang yang jaraknya lebih dekat, yang siap akan diriku dalam tenggat waktu yang singkat. Tapi aku memperpanjang waktu seolah tak ingin bertemu dengan dia dimasa depan. Hatiku memilih berjuang untukmu, memilih jarak yang lebih jauh dari seluruh zonasi dan partikel yang menyayangiku. Andai ada mesin waktu, aku ingin mempercepatnya, seolah aku ingin mempersingkatnya. 2, 3, entah berapa tahun lagi waktu yang harus kulewati untuk dapat meraih hari sepenuhnya bersamamu, aku membayangkan hari-hari berdua dan serumah denganmu, ada disampingmu, dan menikmati seluruh kehidupan dimasa mendatang bersamamu.
Sejak awal aku memutuskan membuka hatiku untukmu, hingga pada akhirnya aku benar-benar mencintaimu, aku tak pernah memikirkan bahwa semuanya akan seberat ini. Belum lagi, waktu yang kau butuhkan untuk menuju ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sungguh, semuanya menjadi komplikasi yang membutuhkan tingginya pertimbangan dan kemaslahatan.
Maaf, jika aku sempat menceritakan tentang kita kepada orang lain. Tak ada tujuan lebih, aku hanya ingin belajar, dengan cara mengadopsi kisah-kisah yang pernah terjadi pada kakak tingkat sebelumnya. Dan ternyata, mereka memiliki kisah yang berbeda dengan kita. Dan aku menemukan satu wejangan yang sempat memutar pikirku.
“Pacare samean kan sudah menegaskan berat meninggalkan Jambi, bapaknya samean juga sudah menegaskan harus di Bali. Sekarang keputusannya tinggal ada ditangan samean, samean ambil resiko pasti ada yang dirugikan. Milih memperjuangkan cintanya samean tapi menentang bapak, apa milih mendengarkan bapak tapi melepas pacar. Timbang-timbang mana yang lebih berat dan manfaat”
Dan beberapa hari lalu pula, kau pernah menenangkanku dengan bahasamu.. “Tenang nduk, 2 tahun kedepan bapak e nduk akan berubah pikiran, mas yakin itu”.
Sebenarnya aku ingin bertanya, Dasar apa yang kamu gunakan untuk dapat menyatakan itu. 2 tahun kedepan merupakan jangka yang sama-sama belum kita ketahui terjadinya.
Semua bahasa penenangmu membuatku semakin luruh. “Jika kelak kita memang tak bisa bersama, jangan berubah ya nduk. Tetap jadi nduk seperti yang mas kenal. Nduk yang kuat, yang multitalent, yang baik. Tetep jadi orang baik ya nduk”. Jelas saja pikiranku semakin kalut dengan kata-katamu. Pesan-pesan itu sungguh membuatku merasa jatuh dan tenggelam.
Kau juga bilang, “Wes nduk, gak usah dipiker”. Bagaimana tidak, sayang? Jelas aku memikirkan itu. Aku sudah menghalau resahku tentang itu. Aku me-reset kekhawatiranku, dan aku pasrah dengan seluruh hasil akhir dimasa depan. Pertanyaanmu.. “Apa nduk mau ngelepas mas? Jangan tinggalin mas ya nduk, mas sayang banget sama nduk”. Cukup, semakin banyak kau mengungkapkan rasamu, semakin pilu ulu hatiku.
Mas, aku mencintaimu. Jangan tanyakan kalimat perpisahan, jangan tanyakan kalimat pelepasan. Aku tak ingin memberi jawaban jika itu yang kau tanyakan. Karena tak ada keinginan untuk itu dibenakku.
Dan pada intinya, kita masih butuh waktu. Karena waktu yang dapat menjawab semuanya, jika memang keyakinan dapat menemukan waktu yang tepat, semuanya akan terjawab. “Mas pengen istri nduk”. Sama mas, “Nduk juga pengen suami mas”. Entah itu nanti akan menjadi realisasi atau sekedar mimpi.
Dan dengan ini, ternyata kita mendapat banyak tugas. Tugas untuk menemukan jawaban dari apa yang kita inginkan. Keinginan untuk dapat bersama dan menemukan titik bahagia. Kita harus berdoa, selama melewati masa yang penuh perputaran dan penuh warna. Aku akan mengingat seluruh bahasa penguat dan penenangmu. Tetaplah ada untukku, tetaplah ada disampingku, karena aku mencintaimu.
---Ma’shum Thoyib---