Kamis, 08 Januari 2026

Akhir Delapan Januari

 

Tanggal ulang tahunmu

Pernah menjadi salah satu tanggal yang istimewa bagiku

Aku juga pernah menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat kepadamu.

Rela begadang menunggu pukul 00.00

Sambil berharap agar aku masih bisa menemanimu

Pada tahun-tahun berikutnya. Kamu merayakannya bersamaku

Dan kita berdua sangatlah bahagia saat itu.

Kini kita tak lagi bersama. Tangga nada cerita yang berdinamika itu membuncah. Sehingga ritmenya tak lagi beraturan. Kamu tak lagi merayakan hari bahagiamu bersamaku. Dan tanggal yang istimewa itu, Kini hanyalah kenangan. Tapi aku bahagia, pernah menjadi bagian dari ceritamu. Terimakasih atas seluruh cerita yang kau persembahkan untukku.

Dunia tak berpihak pada kita. Jalan cerita, jarak, restu, orang tua, masalah, salah paham, dukungan, kekuatan, waktu, tirakat, doa, semua berlawanan dengan mimpi yang pernah kita bangun bersama. Koneksi, interaksi, informasi, merubah skala yang awalnya indah jadi berantakan, meriak air yang tadinya tenang jadi bergelombang. Namun, perlahan aku sadar bahwa mungkin inilah cerita yang semesta lukiskan untuk kita. Aku dan kamu dipertemukan untuk saling menjaga, mengajari, dan mengkombinasi hal-hal yang dulunya tak ada menjadi ada.

Terimakasih sudah memberikan kasih sayang yang tulus, Terimakasih sudah menjadi orang yang tegas dengan jiwa pemimpin yang perwira, Terima kasih telah mewarnai kisah hampa yang tanpa corak, terimakasih telah mengajarkanku apa arti sabar, menanti, menjaga diri, membangun mimpi, berkorban, berusaha, menahan amarah, manut, menyimpan rasa, dan diam dalam menghadapi segala problematika.

Aku akan selalu ingat itu. Takkan kulupa, karena hadirmu tak hanya cinta tapi juga guru. Dari sekian drama yang pernah terjadi, diantara jatuh dan bangun, tangis dan bahagia, murung dan ceria, tenang dan gusar, rindu dan lara, benar dan salah, ringan dan berat, pada akhirnya aku paham. Bahwa kita memang tak digariskan untuk bersama. Setelah segala usaha, setelah segala mimpi, setelah segala perjuangan, nyatanya tetap kalah dengan halangan dan tantangan. Dan dengan segala media yang memberi petunjuk pada akhirnya aku menyimpulkan dalam diam bahwa sekarang kita sudah ada di garis masing-masing.

              Maafkan aku, yang tak pernah bisa membuatmu bahagia, maafkan aku yang belum pernah bisa merealisasikan inginmu, maafkan aku yang terkesan sok-sok an dalam berbicara, ingkar dalam berjanji, dan jahat, serta tega melakukan semua ini. Namun dibalik layar yang tak pernah kau tau, ada banyak hal yang sudah ku usahakan untuk dapat melangkah bersamamu. Namun lagi-lagi cerita berbalik arah. Dan disini, aku yang salah.

              Aku tak mempermasalahkan apapun, apa yang menjadi pemahamanmu tentangku selama ini. Apa yang telah kau percaya dari orang lain tentangku pula. Dan apa-apa yang mungkin menjadi predikat buruk darimu untukku berdasarkan apa yang kau tahu tentangku. Maafkan aku, jika terlalu terlambat untuk mengatakan ini kepadamu.

Dulu, Njenengan yang bilang bahwa aku harus sampaikan jika ada orang baru. Tapi, sebelum ada yang ku sampaikan ternyata media sudah menampakkan cerita yang lebih baru. Terima kasih, dengan itu aku semakin yakin dan legowo bahwa ternyata kita tidak di ridhoi untuk bersama.

Sekali lagi, kulo ingin menyampaikan terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Karena pernah hadir di dunia saya dan mencintai saya dengan segenap jiwa raga. Maafkan kulo jika memang apa arti diriku selama ini hanya sia-sia belaka, kulo yang telah menghabiskan waktu, dan hanya membuat luka di hati njenengan. Walau jauh di balik apa yang njenengan dapatkan dari orang lain sebenarnya itu tak sepenuhnya terjadi. Namun tak apa, sekarang semua sudah selesai. Tak perlu ada lagi klarifikasi ataupun validasi.

Syukron katsir untuk 2022-2025 nya.  Entah ditanggal yang mana tepatnya, kita tak benar-benar tau kapan memulai dan benar-benar mengakhirinya. Kulo pamit dari hidupnya njenengan mas, semoga apa yang sudah menjadi pencapaian mas barokah dan memberikan feed back yang baik untuk hidup mas.

Sekali lagi,

Diujung delapan januari,

Barokallah fii umrik ilaa yaumil qiyamah.

Semoga sehat-sehat dan selalu dalam lindungan Allah.


Dariku,

Evi Hidayatul Maghfiroh

Teruntuk Starlight


 

Sanah Hilwah 2026

 

Untukmu, yang tengah bertemu dengan hari kelahiran

Pada malam yang hampir berakhir
Ku untai sebuah jeda
Akan rona yang menuai bahagia
Singkat, tak banyak
Namun ku ingin menyampaikannya

Hay, cahaya bintang paling indah dimataku
Manusia sempurna yang kupuja dengan bangga
Semoga kau selalu dalam lindungan sang pencipta
Dimanapun, dan kapanpun
Selamat atas segala pencapaian manis yang telah terlukis indah
Selamat atas prestasi gemilang yang telah menabur amanah

Walau bukan lagi yang pertama,
Delapan januari masih ku ingat dengan mesra
Berpadu padan dengan mimpi diujung semesta
Mimpi yang bukan lagi tentang kita bersama,
Namun mimpi tentang bahagiamu didepan sana

Tak apa walau mungkin sudah tak searah,
Aku hanya ingin memberi ucapan kecil
Barakallah fii umrik,
Semoga segala cerita tentangmu akan lebih indah lagi
Semoga segala resah dimasa lalu akan segera terobati
Terima kasih, pernah hadir menjadi kisah manis dalam sejuta cerita
Terimakasih, atas pelajaran, mimpi, harapan, doa, dan kasih sayang yang pernah tercipta

Sanah hilwah, di 26 tahunnya

Selasa, 09 Juli 2024

Satu Syawal..

 Satu Syawal..


Ahlan wa Sahlan 1 Syawalku..


Masih seperti biasanya

Dimalam dan harinya,

Semua sudut menyambut dengan kemenangan yg dimilikinya

Senyum bahagia yang merata

Dan keceriaan yang ada dimana-mana


Sudah sekian purnama

Kita merajut cinta yang masih raharja

Selama itu pula,

Entah berapa kataku yg melukai hatimu,

Entah berapa sikapku yg menyakitimu,

Namun kau selalu membuka pintu maafmu

Terima kasih sayangku..

Kau selalu sabar menghadapiku


1 Syawal yang masih semarak..

Izinkan aku mengucapkan kata yg lain

Kata yg tak sekedar permohonan maaf

Bak ucapan yg menggema ditengah semesta


Duhai cintaku yang meraja,

1 Syawalmu telah tiba

Sanah Hilwah di versi Hijriah


Diselang latar yg jauh dari negeri kelahiran

Dijejak kaki yg berada di negeri orang

Aku tak tahu apa yg kamu pikirkan

Aku tak tau apa yg kamu rasakan

Bahagiakah? Atau harukah?


Namun...

Seolah merasakan apa yg kau rasakan

Seolah memikirkan apa yg kau pikirkan

Didalam kebersamaan, namun bagai kesendirian

Berselimut ketidak nyamanan yg ditutup senyuman

Namun, bertahanlah.. Kau harus kuat


Harapku, semoga tujuanmu terpenuhi

Semoga kau menemukan apa yg kau cari

Dan semoga, tak ada kesia-siaan saat kau pulang nanti

 

Tak lupa, dengan kerendahan hati...

Aku, memohon maaf yg sebesar dan sebanyak-banyaknya padamu

Dan juga,

Sanah Hilwah cintaku

Doaku selalu menyertaimu

Aku sayang kamu


Jembrana, Bali

10 April 2024 M, 01 Syawal 1445 H

_Vihima_

Minggu, 07 Januari 2024

Delapan Januari

 

Delapan Januari

Hai, delapan Januari

Kita berjumpa lagi

Dengan cinta dan rasa yang masih bersemi

Bagaimana kabarmu di tahun ini?

Semoga kau selalu dalam keadaan yang baik-baik saja

Sajak demi sajak telah tertulis

Menjejakkan noktah-noktah dengan ribuan kisah penuh drama

Delapan Januari…

Hari kebahagiaan yang bukan perayaan ataupun kemerdekaan

Melainkan sebuah kelahiran

Putra rupawan dengan penuh perwiranya

23 tahun telah terlewati hingga kini

Untukmu, selamat bertambah usia…

Semoga untuk kedepannya, semua kisah tentangmu akan lebih baik lagi

Dari seluruh segi dan setiap sudut kehidupan yang akan terjadi

Doa terbaikku selalu menyertaimu dalam tadah tanganku

Jangan pernah rapuh…

Tetaplah bercahaya bagai bintang dilangit malam

Tetaplah tersenyum dengan senyum manismu

Tetaplah teduh dengan tatapan lembutmu

Aku tak menyiapkan hadiah yang indah

Tak pula memberikan kejutan yang mewah

Maafkan aku…

Tapi percayalah, cinta terbaikku ada untukmu hingga detik ini

Dan semoga kan tetap begitu,

Percayalah pada hatiku, aku mencintaimu…

Barakallah fii Umrik sayang…

Semoga selalu dalam lindungan Allah..

 

Dariku, 28 April.. Teruntuk 08 Januari...

 

 

 

 

Kamis, 28 Desember 2023

Hati dan Relasi

 

Hati dan Relasi

“Cinta perempuan itu tergantung bagaimana laki-lakinya”

------00000------

Coretan kalimat yang sempat kubaca dalam sebuah artikel ilmiah. Benarkah itu? Ku timbang-timbang lagi dengan cerna otak logis paling mendasar, dan sesuai dengan realita yang pernah kutemui. Namun, tak cukup dengan itu, aku mensurvei beberapa perempuan disekelilingku.

“Bagaimana menurut kalian?”

1.     “Yo iyolah mbak, aku kan sukanya di bujuk-bujuk kalo lagi marahan, aku harus didengerin kalo lagi cerita, pokok aku suka dimanja-manja”.

2.     “Iyo toh buk, jangankan cintanya. Bahkan cantik enggaknya istri aja lho bisa bergantung bagaimana suaminya”.

3.     “Perempuan itukan sukanya di ngertiin, digombalin, dipahamin, perempuan itu suka menang”

4.     “Dimana-mana, 80% relasi mencintai itu yang bisa memulai ya laki-laki bu. Nah, kalo laki-laki udah mulai, baru perempuan bisa ngimbangin cintanya”.

Hmm, baiklah. Ternyata benar, banyak perempuan yang sudah berpendapat positif tentang statement itu. Tapi ternyata, hal itu tak ada dalam prinsip berelasi dibenakku.

Aku telah melampaui banyak cerita dalam mempelajari hakikat berelasi. Memahami laki-laki adalah hal yang cukup menantang bagiku. Untuk menjadi perempuan yang dicintai oleh laki-laki pasanganku, ternyata akulah yang justru perlu banyak belajar menapaki langkah dalam jejak mencintai.

Bagiku, cinta itu lebih rumit daripada rumus fisika dan kimia. Aku telah memilih langkah untuk menetapkan relasi. Melabuhkan cintaku pada seseorang yang kupercaya. Karenanya, aku harus menerima segala konsekuensi yang telah menjadi pilihanku. Konsekuensi berelasi dengan asas mencintai.

Ada banyak fenomena dalam berelasi. Problematika demi problematika pasti berdatangan menghampiri. Menguji kekuatan diri untuk bertahan, dan menguji kekuatan hati untuk bersabar. Bagiku, cinta yang diwujudkan dalam relasi tak hanya tentang hal-hal yang menyenangkan saja. Melainkan hal-hal yang harus dipelajari dengan seksama demi kebahagiaan hakiki.

Kali ini, cintaku tengah berada difase yang sulit dikata. Entahlah, mungkin karena kesibukan masing-masing dan waktu yang limit. Aku tahu, bahwa saat ini kau sedang berjuang menempuh berbagai tujuan. Namun, entah mengapa, kadang rinduku padamu bertindak dengan egoisnya. Sehingga tak jarang, aku sakit sendiri menahan rindu itu. Aku sedih karena kesulitan mengetahui keadaanmu.

Beberapa waktu lalu, kau menghubungiku. Kau tahu, betapa berbunganya hatiku mendengar suaramu. Aku menyimpan banyak cerita yang sudah kusiapkan. Tapi ternyata, kala kau berbicara banyak dan menceritakan hal-hal tentangmu, Mengapa aku kehilangan keinginan untuk bercerita padamu. Aku memilih diam, mengiyakan seluruh ungkapan yang kau tuangkan, otakku mencerna dengan penuh pasrah. Dan air mataku memilih jatuh untuk pelepasan yang melegakan.

“Kok diem nduk?”

            Aku kesulitan menjawab pertanyaan itu. Pikiranku beradu dengan berbagai opini yang menerjang otakku. Aku memutar banyak memory dan memikirkan banyak hal.

Didunia ini, kebanyakan perempuan ingin di prioritaskan oleh lelakinya. Benarkah itu? Tapi, Mengapa ada kontradiksi dalam kalimat itu di otakku. Selain dari pengalaman, begitu pula pemikiran. Aku tak dapat menuntut apapun pada orang yang kucinta, dan tak pernah meminta untuk diprioritaskan oleh siapapun.    

            Baiklah, aku hanya perlu bersabar menghadapi waktu. Bersabar memahami keadaan yang terlaku diantara aku dan kamu. Walau rindu terkadang berseteru menggebu. Tapi tak apa, aku sudah terlatih. Berespektasi tinggi, mandiri menyikapi hati, dan merangkul bayang dalam sepi. Kuatlah, tak perlu permasalahkan hal yang tak rumit, beginilah perjalanan relasi. Penuh liku dan variasi.

            Belajar memahami waktu, ternyata juga bermain dengan hati. Dan benar juga, menceritakan hal yang sama dan setara tak selalu nyaman didengar. Terkadang aku memberanikan diri untuk menceritakan lelahku, tapi kau membandingkannya dengan lelahmu. Padahal tujuannya, aku ingin kau memberikan semangat dan motivasi untukku. Tapi kau malah membandingkannya. Dalam lelahku, aku membutuhkan nasehatmu, aku menginginkan pengertianmu. Tapi mengapa kau juga menceritakan hal yang sama? Kau sendiri kan yang bilang..

“Mas gak suka kalau pas mas lagi cerita nduk menceritakan hal yang sama”.

“Mas juga capek nduk, mas yo mumet iki. Capeknya mas gak neng awak tok, pikirannya juga capek nduk”.

Sudahlah, tak perlu diperpanjang. Tujuanku adalah mencari sandaran yang dapat mendengar keluh kesahku. Tapi ternyata sandaran itu membalikkannya. Bahkan saat sakit, aku tak sanggup berucap...

“Mas, nduk sakit….”

“Nduk butuh mas…”

Dingin, aku merindukan kehangatanmu, Aku mengimpikan pelukanmu. Tapi ternyata, Untuk merintih padamu saja, aku butuh pertimbangan. Mempertimbangkan waktu dan keadaanmu saat itu. Baiklah, untuk sementara ini mungkin tak perlu ada keluh kesah diantara kita. Aku akan kuat, meski sebenarnya aku ingin kaulah orang yang paling tahu tentang hatiku. Baiklah, kita bukan anak kecil lagi. Ternyata benar, tak perlu ada banyak drama diantara kita. Biarkan saja semuanya terlihat datar dan baik-baik saja. Hmm, terkadang aku juga membenci diriku. Saat kau butuh teman, aku berusaha ada untuk menemanimu sebisaku. Tapi, ketika aku membutuhkanmu, mengapa aku tak dapat memintanya padamu?

Beberapa waktu ini, Terkadang juga aku merenung sendiri. Aku iseng mencari kebenaran hakikat. Ada apa dengan kita? Kau yang jauh disana, padahal sebenarnya dekat dan ada. Disisi lain, kau yang menjadi orang terdekat ternyata tampak jauh juga. Kau itu nyata, namun bagai ada dan tiada yang membentang diantara jarak dan waktu. Mungkinkah kau sedang melatihku untuk jauh darimu? Agar aku kuat menunggumu kelak saat kita berpisah nanti dalam waktu yang lama?

Teringat pula akan ucapan penuh keyakinan kala itu. “Mas janji, akan melakukan yang terbaik buat nduk”.

Mungkin bukan sekarang waktunya. Aku percaya, ucapan itu tak sekedar kata. Aku hanya perlu menunggu pembuktian diwaktu yang tepat. Sudahlah, tak apa. Aku hanya perlu bersabar. Semua akan indah pada waktunya.

Oh iya, Selamat atas doa Khotmil Qur’an yang telah dibacakan beberapa hari lalu. Kau mendapat banyak ucapan dan doa dari orang-orang yang menyayangimu. Dunia telah tau dan menyebarkan story bahagia dengan haru tentangmu. Namun, apakah mereka juga tahu tentang lelah dan sakitmu? Apakah mereka juga mendengar rintih jiwa dan ragamu?

            Alhamdulillah, mungkin itu dulu. Kata hati yang tak bisa ku ucap lewat via atau nyata. Kutulis di media ini saja. Pesanku… Simpan rindumu baik-baik. Selesaikan semua yang menjadi tujuanmu. Aku selalu mendoakanmu, walau itu tak semustajab doa ibu tersayangmu. Aku akan menunggumu hingga kau kembali seperti Ma’shum yang kukenal dulu. Kau ingat bukan, satu permintaanku kala itu.. “Jadilah Ma’shum seperti yang kukenal saat ini”.  sudah, itu saja. Dan inilah tujuanku memberikan pesan itu sejak dulu. Jangan pernah berubah, aku selalu merindukanmu, kuharap kau mengerti.

Tentang hatiku yang mencintaimu,,,

Evi Hidayatul Maghfiroh

 

           

Akhir Delapan Januari

  Tanggal ulang tahunmu Pernah menjadi salah satu tanggal yang istimewa bagiku Aku juga pernah menjadi orang pertama yang mengucapkan ...