Kamis, 28 Desember 2023

Hati dan Relasi

 

Hati dan Relasi

“Cinta perempuan itu tergantung bagaimana laki-lakinya”

------00000------

Coretan kalimat yang sempat kubaca dalam sebuah artikel ilmiah. Benarkah itu? Ku timbang-timbang lagi dengan cerna otak logis paling mendasar, dan sesuai dengan realita yang pernah kutemui. Namun, tak cukup dengan itu, aku mensurvei beberapa perempuan disekelilingku.

“Bagaimana menurut kalian?”

1.     “Yo iyolah mbak, aku kan sukanya di bujuk-bujuk kalo lagi marahan, aku harus didengerin kalo lagi cerita, pokok aku suka dimanja-manja”.

2.     “Iyo toh buk, jangankan cintanya. Bahkan cantik enggaknya istri aja lho bisa bergantung bagaimana suaminya”.

3.     “Perempuan itukan sukanya di ngertiin, digombalin, dipahamin, perempuan itu suka menang”

4.     “Dimana-mana, 80% relasi mencintai itu yang bisa memulai ya laki-laki bu. Nah, kalo laki-laki udah mulai, baru perempuan bisa ngimbangin cintanya”.

Hmm, baiklah. Ternyata benar, banyak perempuan yang sudah berpendapat positif tentang statement itu. Tapi ternyata, hal itu tak ada dalam prinsip berelasi dibenakku.

Aku telah melampaui banyak cerita dalam mempelajari hakikat berelasi. Memahami laki-laki adalah hal yang cukup menantang bagiku. Untuk menjadi perempuan yang dicintai oleh laki-laki pasanganku, ternyata akulah yang justru perlu banyak belajar menapaki langkah dalam jejak mencintai.

Bagiku, cinta itu lebih rumit daripada rumus fisika dan kimia. Aku telah memilih langkah untuk menetapkan relasi. Melabuhkan cintaku pada seseorang yang kupercaya. Karenanya, aku harus menerima segala konsekuensi yang telah menjadi pilihanku. Konsekuensi berelasi dengan asas mencintai.

Ada banyak fenomena dalam berelasi. Problematika demi problematika pasti berdatangan menghampiri. Menguji kekuatan diri untuk bertahan, dan menguji kekuatan hati untuk bersabar. Bagiku, cinta yang diwujudkan dalam relasi tak hanya tentang hal-hal yang menyenangkan saja. Melainkan hal-hal yang harus dipelajari dengan seksama demi kebahagiaan hakiki.

Kali ini, cintaku tengah berada difase yang sulit dikata. Entahlah, mungkin karena kesibukan masing-masing dan waktu yang limit. Aku tahu, bahwa saat ini kau sedang berjuang menempuh berbagai tujuan. Namun, entah mengapa, kadang rinduku padamu bertindak dengan egoisnya. Sehingga tak jarang, aku sakit sendiri menahan rindu itu. Aku sedih karena kesulitan mengetahui keadaanmu.

Beberapa waktu lalu, kau menghubungiku. Kau tahu, betapa berbunganya hatiku mendengar suaramu. Aku menyimpan banyak cerita yang sudah kusiapkan. Tapi ternyata, kala kau berbicara banyak dan menceritakan hal-hal tentangmu, Mengapa aku kehilangan keinginan untuk bercerita padamu. Aku memilih diam, mengiyakan seluruh ungkapan yang kau tuangkan, otakku mencerna dengan penuh pasrah. Dan air mataku memilih jatuh untuk pelepasan yang melegakan.

“Kok diem nduk?”

            Aku kesulitan menjawab pertanyaan itu. Pikiranku beradu dengan berbagai opini yang menerjang otakku. Aku memutar banyak memory dan memikirkan banyak hal.

Didunia ini, kebanyakan perempuan ingin di prioritaskan oleh lelakinya. Benarkah itu? Tapi, Mengapa ada kontradiksi dalam kalimat itu di otakku. Selain dari pengalaman, begitu pula pemikiran. Aku tak dapat menuntut apapun pada orang yang kucinta, dan tak pernah meminta untuk diprioritaskan oleh siapapun.    

            Baiklah, aku hanya perlu bersabar menghadapi waktu. Bersabar memahami keadaan yang terlaku diantara aku dan kamu. Walau rindu terkadang berseteru menggebu. Tapi tak apa, aku sudah terlatih. Berespektasi tinggi, mandiri menyikapi hati, dan merangkul bayang dalam sepi. Kuatlah, tak perlu permasalahkan hal yang tak rumit, beginilah perjalanan relasi. Penuh liku dan variasi.

            Belajar memahami waktu, ternyata juga bermain dengan hati. Dan benar juga, menceritakan hal yang sama dan setara tak selalu nyaman didengar. Terkadang aku memberanikan diri untuk menceritakan lelahku, tapi kau membandingkannya dengan lelahmu. Padahal tujuannya, aku ingin kau memberikan semangat dan motivasi untukku. Tapi kau malah membandingkannya. Dalam lelahku, aku membutuhkan nasehatmu, aku menginginkan pengertianmu. Tapi mengapa kau juga menceritakan hal yang sama? Kau sendiri kan yang bilang..

“Mas gak suka kalau pas mas lagi cerita nduk menceritakan hal yang sama”.

“Mas juga capek nduk, mas yo mumet iki. Capeknya mas gak neng awak tok, pikirannya juga capek nduk”.

Sudahlah, tak perlu diperpanjang. Tujuanku adalah mencari sandaran yang dapat mendengar keluh kesahku. Tapi ternyata sandaran itu membalikkannya. Bahkan saat sakit, aku tak sanggup berucap...

“Mas, nduk sakit….”

“Nduk butuh mas…”

Dingin, aku merindukan kehangatanmu, Aku mengimpikan pelukanmu. Tapi ternyata, Untuk merintih padamu saja, aku butuh pertimbangan. Mempertimbangkan waktu dan keadaanmu saat itu. Baiklah, untuk sementara ini mungkin tak perlu ada keluh kesah diantara kita. Aku akan kuat, meski sebenarnya aku ingin kaulah orang yang paling tahu tentang hatiku. Baiklah, kita bukan anak kecil lagi. Ternyata benar, tak perlu ada banyak drama diantara kita. Biarkan saja semuanya terlihat datar dan baik-baik saja. Hmm, terkadang aku juga membenci diriku. Saat kau butuh teman, aku berusaha ada untuk menemanimu sebisaku. Tapi, ketika aku membutuhkanmu, mengapa aku tak dapat memintanya padamu?

Beberapa waktu ini, Terkadang juga aku merenung sendiri. Aku iseng mencari kebenaran hakikat. Ada apa dengan kita? Kau yang jauh disana, padahal sebenarnya dekat dan ada. Disisi lain, kau yang menjadi orang terdekat ternyata tampak jauh juga. Kau itu nyata, namun bagai ada dan tiada yang membentang diantara jarak dan waktu. Mungkinkah kau sedang melatihku untuk jauh darimu? Agar aku kuat menunggumu kelak saat kita berpisah nanti dalam waktu yang lama?

Teringat pula akan ucapan penuh keyakinan kala itu. “Mas janji, akan melakukan yang terbaik buat nduk”.

Mungkin bukan sekarang waktunya. Aku percaya, ucapan itu tak sekedar kata. Aku hanya perlu menunggu pembuktian diwaktu yang tepat. Sudahlah, tak apa. Aku hanya perlu bersabar. Semua akan indah pada waktunya.

Oh iya, Selamat atas doa Khotmil Qur’an yang telah dibacakan beberapa hari lalu. Kau mendapat banyak ucapan dan doa dari orang-orang yang menyayangimu. Dunia telah tau dan menyebarkan story bahagia dengan haru tentangmu. Namun, apakah mereka juga tahu tentang lelah dan sakitmu? Apakah mereka juga mendengar rintih jiwa dan ragamu?

            Alhamdulillah, mungkin itu dulu. Kata hati yang tak bisa ku ucap lewat via atau nyata. Kutulis di media ini saja. Pesanku… Simpan rindumu baik-baik. Selesaikan semua yang menjadi tujuanmu. Aku selalu mendoakanmu, walau itu tak semustajab doa ibu tersayangmu. Aku akan menunggumu hingga kau kembali seperti Ma’shum yang kukenal dulu. Kau ingat bukan, satu permintaanku kala itu.. “Jadilah Ma’shum seperti yang kukenal saat ini”.  sudah, itu saja. Dan inilah tujuanku memberikan pesan itu sejak dulu. Jangan pernah berubah, aku selalu merindukanmu, kuharap kau mengerti.

Tentang hatiku yang mencintaimu,,,

Evi Hidayatul Maghfiroh

 

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Akhir Delapan Januari

  Tanggal ulang tahunmu Pernah menjadi salah satu tanggal yang istimewa bagiku Aku juga pernah menjadi orang pertama yang mengucapkan ...