Selasa, 22 Agustus 2023

Kecewa dan Percaya

 Kecewa dan Percaya

Memoriez of, 30 July & 01 Agustus 2023

              Hari pengambilan foto ijazah itu meriuhkan. Antrian panjang dengan kerempongan mahasiswi membuat suasana terasa panas dan memuakkan. Berbeda dengan hari sebelumnya, pengambilan foto ijazah putra cepat dan sat-set tanpa basa-basi. Jadwal hari ini tak hanya pengambilan foto saja. Aku menunda penugasan akreditasi dari kampus untuk pelaksanaan foto tersebut. Tak luput pula aku dan teman-temanku berencana mengadakan bincang kecil seputar wisuda kelulusan untuk membahas penataan outfit. Sehingga semuanya terkesan rumit. Menjadi koordinator diwaktu yang sudah terbilang tak efektif sungguh menyebalkan. Ingin sebenarnya kutolak permintaan mereka. Tapi, ternyata berat juga. Ah! Sudahlah. Jalani saja.

              Waktu dijarum jam terus bergerak meningkat sesuai hitungan durasi. Penantian diantrian foto ijazah membuatku harus menunggu lama, membosankan sekali.  Namun, tak dapat kupungkiri, begitulah perempuan, Rempong!

              Pukul 10 lewat sekian menit. Sosok yang kucinta dengan kemeja putih dan sepeda yang dikayuhnya melintas dengan kecepatan ringan. Afifah, teman akademik yang juga teman cerita ngalor-ngidulku, memanggilnya dengan isyarat lambaian tangan. Dia yang kucinta, Ma’shum Thoyib namanya, ia menyadari lambaian tangan Afifah. Tak lama ia mengarahkan laju kayuh sepedanya kearah tempat kami duduk berdua. Sekilas berbincang tentang apa dan bagaimana. Tak lama juga, seorang lelaki tak kukenal menghampiriku dengan bingkisan ditangannya tanpa duga.

“Rizky, pasti arep titip gawe mbak Ainur yo!” seru Afifah mengalihkan suasana

“Mboten, damel mbak Evi” jawab laki-laki itu polos

“Haa!! Aku??” Reflek saja aku menyahut karena ia menyebut namaku.

“Njenengan mbak Evi?” tanyanya kemudian

“Oh, Nggeh. Pripun?”

              Pembicaraan seketika teralihkan atas penyampaian maksud kedatangan laki-laki tersebut. Tak lama, mas Ma’shum meninggalkan pembicaraan kami yang sempat terhenti. Ia berlalu tanpa meninggalkan patah kata. Aku menyadari kepergiannya, namun aku tak dapat menghentikannya, karena ku tahu, pasti hatinya sedang tak baik-baik saja.

              Aku masih ingat, dia pernah cerita bahwa jika melihatku yang sedang berbicara dengan laki-laki lain, maka hatinya akan tak baik. Entah konteks pembicaraan apapun yang didengarnya, dan siapapun lawan bicaraku yang dilihatnya, ia tak ingin peduli. Suasana yang sulit dibaca, dan pasti sulit dicerna oleh pikirnya. Aku faham betul, dari ekspresi dan lagak kepergiannya pasti dia menyimpan kecewa. Ya Tuhan! Kuatkan aku untuk menjelaskan padanya, bahwa apa yang baru saja terjadi tak sesuai dengan apa yang difikirkannya.

              Setelah kepergian mas Ma’shum, teman-teman PBA putri datang menghampiriku dan Afifah yang sudah menanti sejak lama. Kami berbincang, tentang outfit, OOTD, slempang, iuran, tumpengan, dan lain-lain. Dan disiitulah pentaukidan terakhir, koordinator slempang masih saja jatuh dinamaku. Hmm, sudahlah, tak apa..

Selepas berbincang, aku pulang bersama Afifah dengan banyak terkaan pikiran tentang mas Ma’shum. Aku menyiapkan hati untuk menjelaskan dengan sebaik-baiknya bahwa apa yang dilihatnya tak sesuai dengan fikirannya. Saat ini, hatinya pasti sedang berkecamuk tak karuan. Mungkinkah ia akan kecewa lagi untuk yang kesekian kalinya?

Panas mentari mengulai langkah menambah penat. Mas Ma’shum, sudahkah ia makan? Sudahkah ia tiba di asrama? Bagaimanakah perasaannya kini? Bagaimanakah keadaannya? Dan apakah yang kiranya ada dalam pikirannya saat ini? Sepulang dari kampus, aku sesegera mungkin menghubunginya. Aku tak tahu, dan bingung harus memulai meminta maaf dengan kata apa. Bingung pula memulai menjelaskan dengan cara bagaimana.

Aku terbata, menyusun kata demi kata dengan menguatkan hati untuk bertutur sebenar-benarnya. Sehingga ia mungkin muak mendengarku yang tak kunjung memberikan penjelasan. Pasti dia juga sedang malas bicara, bahkan tak percaya dengan apa yang menjadi penjelasanku.

“Chat aja wes, jangan telpon”.

Nada malasnya sudah terbaca. Hawa tak percayapun sudah ku terka. Ku yakin 1000% bahwa dia marah dan sedang tak ingin berbicara denganku. Tapi, aku tak boleh menyerah, aku harus tetap berusaha menjelaskan padanya bahwa apa yang ditangkapnya itu salah juga.

---------0000000---------

              Pembahasan berlanjut melalui via whatsapp. Dan semua yang sudah menjadi praduga benar-benar terjadi. Lagi-lagi ia runtuh percaya. Ditambah lagi dengan rasa kecewa.

“Mas nunggu dibangku luar sampek lama berharap nduk datang nyatanya nggak blass”.

“Yang mas gak nyangka lagi, pas mas turun ternyata nduk duduk dibawah sama Apip, terus mas bersikap biasa-biasa aja. Lah, pas mas hampiri, mas ajak ngobrol malah ngobrol sama orang lain, laki-laki lagi. Ya udah tak tinggal”.

              Salahkan saja aku. Kecewanya telah memuncak, amarahnya oktaf. Aku memberikan penjelasan perlahan demi perlahan. Namun, seolah percuma. Semuanya telah terbendung oleh hati dan pikirannya. Aku bingung pula.

“Mas diacuhkan lagi, kayak gak ada mas gitu yang ngajak ngobrol, kan mas dulu yang nyamperin nduk”.

              Bukannya aku mengacuhkan, bukannya aku tak peduli. Tapi memang situasi dan kondisi perlu dicerna. Jika ada seseorang datang bertanya ditengah perbincangan, secara otomatis perbincangan itu akan terhenti. Siapapun orangnya, dan seseru apapun pembahasannya. Apalagi jika kita saling tak mengenal. Mungkinkah kita tidak akan memberi respon sedikitpun?

“Yang paling mas kecewa, mas diacuhkan buat laki-laki lain, padahal mas disitu ngajak ngobrol mau Tanya-tanya”.

              Sebegitukah doktrin nya padaku? Aku tak sepenuhnya mengacuhkannya. Aku sangat bahagia dan senang hati saat ia datang mendekat menghampiriku.

              Aku berusaha menghubungimu sebisaku. Mencari cara supaya aku bisa mengerti keadaanmu. Dan ternyata, usahaku menghubungimu pun masih saja salah. Sebenarnya aku tidak tinggal diam, ditengah hiruk pikuknya kerumunan mahasiswi, pikiranku bercabang. Aku memikirkan outfit dan juga pembuatan slempang wisuda, serta memikirkanmu yang entah bagaimana keadaannya. Dan ternyata, akupun tak menyangka bahwa kamu datang dan ada disana. Maaf, aku masih saja salah dan belum benar dalam bertindak.

“Nduk.. nduk, mas lelah hari ini. Kecewa!”

              Baiklah, istirahatlah dulu. Aku tak tahu lagi apa yang harus ku utarakan. Aku kalah, aku sudah berkata dengan sebenar-benarnya. Istirahatkan raga lelahmu, istirahatkan pikiranmu, istirahatkan kecewamu.

--------000000--------

              Dimalam harinya, aku masih memikirkan perihal wisuda dan memikirkan amarahnya. Aku masuk forum chat grup kelas dengan rasa gugup yang masih takut. aku memulai mengirim chat padanya pula, dan mengutarakan rasaku yang masih merasa bersalah dan juga pikiranku yang berbenturan tentangnya. Namun, yang tak kusangka lagi ia berkata…

“Kepikiran tapi masih bisa senyum di grup”

              Astaghfirullah, ada apa dengannya? Mengapa semakin sulit diterima? Tidakkah ia ingin memahami bagaimana posisiku? Tidakkah ia ingin sedikit saja memikirkan apa yang sedang terjadi pada diriku?

              Kabut emosi telah menyelimuti pikirannya. Meng-abu memekat seolah menggelapkan rasa percayanya padaku. Sehingga semuanya menuai tak menentu. Aku berusaha lagi meminta maaf dengan sebaik-baiknya. Lalu, ia bertanya,

“Minta maaf gk mau langsung ngomong nih?”

Aku tahu, mungkin itu adalah siasatnya untuk menguji seberapa besar kesungguhanku. Hingga ia ingin mendengar langsung dari ucapanku. Baiklah, aku akan ungkapkan maafku. Dan ternyata, aku tak kuat. Air mata menitik bergantian jatuh menjadi tangis. Apakah ungkapan maafku masih berlaku untuknya? Sebegitukah besarnya rasa kecewanya padaku? Dan kenapa lagi, ungkapannya seolah semua adalah ketakutan dan keluh kesah, di via telpon...

“Takutnya ada masa dimana mas gak kuat nahan nduk”

“Kurang sabar piye toh mas nduk?”

“Nduk udah sering kaya gitu”

“Mas udah percaya banget ke nduk, tapi ujuk-ujuk dipatahkan!”

“Mas mikir nduk, apa sebenarnya nduk gak tenanan?”

“Yo weslah nduk, mas capek!”

              Ya Allah, aku sebagai perempuan, berusaha sekuat mungkin untuk bertahan ditengah badai apapun yang berkecamuk dihatiku. Aku tak pernah mengungkit rasa lelahku menghadapi problematika berelasi. Sebenarnya dia percaya atau tidak dengan hatiku? Bahkan aku selalu membentengi seluruh pikiran negatifku tentangnya dengan kepercayaanku terhadapnya. Apa yang dipikirkan olehnya? Aku sungguh tak tahu.

“Mas gak bisa bayangin nduk, kalau suatu hari akan ngerasain itu lagi”.

              Ya Allah, sudahlah. Aku juga lelah menjelaskan. Cukuplah, hentikan pembicaraan ini. Jika memang ia tak bisa percaya padaku, Sekuat manapun aku menjelaskan, seberapapun besar usahaku untuknya, tak mungkin ada titik terang dalam pikirnya.

“Udah, nggak papa, mas gak papa kok, udah biasa”.

              Astaghfirullah!! Seolah aku sudah terbiasa melakukan kesalahan berkali-kali saja. Aku lebih sedih lagi mendengar kalimat itu. Sakit, menjepit, menyesakkan dada. Ibarat seorang dokter, dia memeriksa pasien tanpa data penjelasan yang dialami pasien, ia tak bertanya tentang apa yang dialami pasien dan gejala apa yang dideritanya. Riwayat apa yang sudah terjadi sebelumnya… dia memainkan doktrin dengan otak dan memfonis dengan firasat hatinya. Sehingga terjadilah ketidak singkronan diagnosa dan gejala.

              Nggeh pun, aku juga lelah. Fikiranku sejak pagi tadi sudah kemana-mana. Hatiku juga berkecamuk tak karuan. Aku tak terima dengan semuanya, namun aku tak bisa melawan. Rasa sayangku padanya terlalu dalam. Sehingga untuk menjelaskan kebenaran padanya saja aku tak sanggup. Aku tak ingin berdebat, tak ingin terlalu lama berseteru. Aku hanya bisa meminta maaf sebisaku. Aku juga lelah, aku ingin istirahat. Sudahlah, aku lelah, maafkan aku. Kau bisa lelah, aku juga bisa lelah, hanya saja aku diam. Kuharap, kelak kau akan sadar dan kuharap kau akan segera sembuh dari kecewamu.

--------000000--------

              Dia memaafkanku. Tangisku tumpah dan juga hatiku resah. Aku tahu dia sosok yang pemaaf. Namun, rasa kecewa tak mudah sembuh hanya dengan kata maaf. Dan entah bagaimana saat ini keadaan hatinya, aku tak tahu lagi. Sehingga, keesokan dan esok harinya, perihal itu masih saja dibahas lagi…

M : Mas tanya hal² seperti itu gara² Mas kepikiran yang kemaren

E : Yg kemarin apa mas?

M : Pas mas langsung pulang itu

E : Apa yg mas pikirkan sekarang?

M : Tadi malem mas kepikiran, Sampek sekarang masih

E : Sekarang. masih keppikiran itu?

M : Masih bertanya² nduk ini serius atau enggak

E : berarti, penjelasannya nduk kemarin... mas masih belum percaya?

M : Mas takut

E : Apa yg harus nduk lakukan untuk menghilangkan ketakutan mas?

M : Nduk udah sering bikin mas takut

E : Ya Allah mas...

M : Maaf, mas takut nduk gitu lagi

E : Sekarang nduk gak tau harus bilang apa lagi mas

              Rasa kecewa telah memprovokasi menimbulkan ketakutan dalam dirinya. Sehingga muncul pertanyaan dalam benaknya, sebenarnya aku serius atau tidak? Rentetan penjelasan yang sudah ku utarakanpun tiada artinya. Jika memang sampai saat ini kecewa itu masih ada, dan merubah rebak menjadi rasa takut, Seolah aku akan mengulang kesalahan yang sama. Seolah aku berulah banyak dan merusak kepercayaannya. Sehingga justice kecewa dan rasa takutnya merajalela.

M : Mas itu punya pengalaman seperti ini nduk

E : Apa mas mau menyamakan nduk sama yg ada di pengalaman mas dulu?

M : Dulu njeh mas percaya sama yang katanya gak kenal, trus bukan siapa² nyatanya sebaliknya, mas gak mau terjadi lagi

E : Sekarang perasaannya masih sama?, Masih gak percaya juga sama yg nduk bilang kmrn?

M : Bukannya gak percaya, Tapi mas takut

              Pengalaman buruk yang pernah dialaminya kini menjadi ketakutan paling serius yang jatuh pada posisiku. Harusnya, ia tak perlu dan tak boleh menyamakanku dengan siapa yang dulu pernah menyakitinya, siapa yang dulu pernah mengecewakannya, dan siapa yang dulu pernah merusak kepercayaannya. Semua manusia memiliki cedera dan kesalahan melangkah dialurnya masing-masing. Dan pengalaman buruk yang terulangpun tak bisa disamakan dengan timbangan sepadan berdasarkan masa lalu.

E : Lalu, sampai kapan mas mau membiarkan rasa itu ada di dalam diri mas?

M : Awalnya sudah gak ada, Namun tiba² ada kembali setelah mas melihat hal itu didepan mata kepala mas sendiri

E : Sekarang.. apa yg ada di pikiran mas..

M : Gak tau, Mas pusing mikirnya

E : Nduk juga bingung mas,, kalau mas tetep gk percaya, kalau mas masih takut..  Nduk sudah berusaha, semua yg mas minta sudah nduk lakukan.. dan ternyata, ketidak sengajaan itu meruntuhkan semuanya..

M : Bagaimana mas bisa tau kalau itu tidak sengaja?

E : Kan nduk sudah jelaskan ke mas...     

              Kenapa kau harus berat memikirkan perihal semacam itu? Selama ini, aku sudah berusaha berjalan dan bertindak sesuai dengan langkah yang kau minta. Aku melakukan apa yang kau mau. Tapi mengapa kesalahanku yang notabene-nya adalah ketidak sengajaan membuatmu runtuh akan segala harap. Bahkan penjelasanku tentang ketidak sengajaan itupun masih belum bisa membuatmu percaya.

M : Apa nduk udah gak nyaman sama mas jane ?

E : Knp mas punya pikiran kaya gitu?

M : Mas sayang ke nduk, Tapi kalau nduk udah gak nyaman mas bisa apa ?

E : Nduk juga sayang ke mas.. Tapi kalau mas gk bisa percaya sama nduk,, nduk harus gmna mas...

M : Maafin mas ya

E : Mas gk perlu mnta maaf.. Mas gk salah. Nduk yg emang gk bisa dipercaya.. Maafin nduk ya mas

M : Mas mohon jangan gitu lagi

E : Nduk udah gak begitu mas.. kejadian kemarin bukan nduk yg mulai...Nduk gk ngerti apa2.. tiba2 disamperin orng yg nduk bner2 gak kenal

M : Iya mas udah percaya

Lalu, mengapa pula kau bertanya padaku  “Apa nduk udah gak nyaman sama mas jane?”

Bil Haq, Sungguh! Pikiran mana yang membuatmu harus memberikan dugaan seperti itu. Dia mengungkapkan rasa sayangnya, namun mengungkapkan pula pertimbangan bahwa aku sudah tak lagi menyandang posisi nyaman bersamanya.

E : Maaf nggeh mas,, menyakitkan juga ternyata... Orang yg nduk sayang gk percaya sama nduk.. Maafin nduk nggeh mas

              Sudahlah, aku lelah. Sungguh! Untuk apa ada relasi yang dipertahankan jika rasa percaya saja sudah tak ada. Untuk apa aku berdiri sekuat tenaga bertahan jika dasarnya sudah tidak kuat? Apa sebenarnya dia yang sudah tak nyaman bersamaku? Tidakkah ia ingin mengerti dan bertanya tentang posisiku hari itu...

“Kurang sabar piye toh mas nduk?”         

              Masih ku ingat kata itu, Tidakkah seharusnya aku yang berkata demikian? Aku sebagai perempuan yang selalu menerima apapun yang menjadi keputusannya, Perempuan yang sama sekali tak pernah membantahnya. Aku yang selalu menguatkan diri saat melihatnya duduk bersama perempuan lain, tersenyum dan tertawa untuk perempuan lain, menjadi sandaran cerita untuk perempuan lain, membantu perempuan lain, bahkan dipuji oleh perempuan lain.  Aku menghalau semua itu tanpa menghiraukan sedikitpun walau hatiku perih bak tergores serpihan kaca. Namun, aku selalu menguatkan hati dan percaya bahwa hanya ada aku di hatinya, hanya akulah perempuan yang dijatuhi kasih sayang setelah ibunya. Apapun terkaan buruk yang membalut pikirku, aku berusaha mengalihkannya untuk tetap baik-baik saja dan percaya akan dirinya. Dan jika saja, satu rasa percaya hilang, bagaimana semua akan berjalan ke depannya? Apakah semuanya masih dapat dipertahankan?

              Aku mencintaimu, dari seluruh segi yang kau miliki. Aku jatuh cinta padamu. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Hingga aku tak pernah peduli dengan apapun yang menjadi konsekuensi untukku. Aku menurut, aku manut, aku selalu menerima segalanya. Seluruh baik dan buruk yang ada dalam dirimu, tak kupeduli, karena satu, aku mencintaimu. Aku memiliki banyak ungkapan pikir dan kata hati selama berjalan bersamamu. Namun aku cenderung tak mengungkapkannya karena aku selalu percaya bahwa hanya aku dihatimu, seluruh perihal yang menjadi keputusanmu kuanggap baik karena aku harus menyadari bahwa engkaulah kelak tempat ta’dzim pertamaku.

              Selama ini, hanya kata maaf yang dapat ku untaikan dalam setiap sendi kesalahan yang terjadi diantara kita. Aku menyadari dengan sangat baik bahwa aku perempuan yang memiliki kedudukan rendah sebagai tingkatan pembelajaran seorang istri terhadap suami. Aku tak pernah menuntut lebih. Aku tak pernah meminta yang terbaik. Aku menyadari bahwa kita sama-sama manusia biasa yang memiliki banyak batasan. Sehingga, aku tak pernah berani untuk membantahmu, membalik kata untuk menjawab dan melawanmu. Aku meminta maaf, guna menyadari kesalahanku. Aku tak pernah merengek agar kamu harus menuruti apa yang ku mau. Aku selalu berusaha mengerti bahwa selama ini kau sedang mendidikku, melatih pola pikirku, melatih kesabaranku, melatih pemahamanku, dan melatih kekuatan hatiku. Sehingga apapun yang kelak terjadi didepan sana tak perlu ku terkejut lagi jika mendapati sifat dan sikap yang ada dalam dirimu.

              Sudahlah, jika memang rasa percayanya masih belum kembali, aku tak perlu memaksakan diri. Didepan tatap laptop yang masih berada di forum chat WA kala itu, aku menitikkan air mata. Tak ada orang yang menyadarinya. Aku diam, menahan nafas tersendat berbalut nyeri dihatiku. Mengapa begitu sakit, sungguh sakit. Orang yang kucinta tak mempercayaiku, ia tak melihat bagaimana perjuanganku, dan ia tak tahu pula bagaimana perasaanku.

              Apakah ia pernah terpengaruh oleh omongan orang tentangku? Ataukah ia pernah mendapati masa laluku yang pernah buruk dalam anggapannya? Ataukah karena dulu aku dan dia pernah berada dalam fase teman biasa, sehingga ia banyak tahu tentang bagaimana sifatku sebelumnya? Atau dia belum mengenal siapa aku yang sebenarnya? Sehingga dengan banyak pengalaman yang dimilikinya dalam menghadapi wanita, ia menyamakanku dengan mereka semua..

              Aku bergetar, kala itu tak sanggup berkata. Aku bangkit dan menuju ke kamar mandi. Berharap tak ada orang yang tahu. Di kamar mandi gedung kantor IAIDA Lt.3, Aku menangis sejadi-jadinya, memekik keheningan dengan dentuman suara pelampiasan hati. Mengapa sungguh sakit? Mengapa begitu getir...

              Mas, baru sampai disini. Masih di titik ini, mengapa banyak sekali ketakutan negatifmu tentangku? Lalu, bagaimana kelak semuanya akan terlaku? Jangan kau pikir bahwa kamulah orang yang paling tersakiti karena kesalahan yang tak disengaja itu. Kesalahan berelasi adalah hal yang perlu dievaluasi, dan diperbaiki. Jika kita menyerah dan mudah mendinamika ego, apakah semuanya akan baik-baik saja untuk menuju ke langkah selanjutnya?

              Tenangkan rasamu, Tenangkan fikirmu, tak ada orang lain dihatiku. Kamulah harapanku, kamu satu-satunya. Dan jika memang demikian pula sebaliknya, tolong, percayalah padaku. Jangan lunturkan kekuatanku untuk berjuang kedepannya. Jangan pupuskan harapku untuk mempertahankan komitmen kita berdua. Kumohon, pelajari aku sebenar-benarnya. Jangan samakan atau bandingkan aku dengan siapapun perempuan yang pernah singgah dihatimu dan hidupmu. Aku akan mencoba dan berusaha sekuat ragaku untuk dapat menjejakkan kaki melangkah bersamamu. Walau harus menerjang restu tersulit dan takdir terberat yang belum tertebak didepan sana. Dan merangkai cerita serta menggapai mimpi seindah imajinasi yang pernah terlukis dalam angan kita berdua. Kita harus saling percaya, kumohon, percayalah padaku, aku mencintaimu. Hanya kamu..

---Ma’shum Thoyib---

 

 

 

Akhir Delapan Januari

  Tanggal ulang tahunmu Pernah menjadi salah satu tanggal yang istimewa bagiku Aku juga pernah menjadi orang pertama yang mengucapkan ...