Jumat, 05 Mei 2023

Waktu dalam Serendipity

 

Waktu dalam Serendipity

Rupanya bumi dan mentari telah berotasi dan berevolusi pada porosnya masing-masing. Siang dan malam telah berlalu dengan dinamika yang berganti. Hari demi hari, waktu demi waktu menjadi saksi akan perjalanan yang terlewati.

              Bercerita tentang kamu, kamu sang dewa yang tak pernah kuduga akan menjadi bagian dari kisah hatiku. Ruang dan waktu telah mempertemukan kita dalam sebuah legenda. Kita bertemu dalam redaksi yang sama pada tahun 2019 dikelas PBA. Tanpa sangka, alur pendidikan menjadi gelora dari sebuah serendipity.

              Dan juga berbicara tentang rasa. Hei, bagaimana bisa kau memendam rasa untukku? Dari sekian kemungkinan yang terjadi dibumi ini, hal itulah yang paling sulit kunalar. “Aku suka sama kamu dari semester satu”. Kukira kata itu hanya sebatas ucapan budak cinta semata, yang teruntai oleh seorang kamu berdasarkan title playboy yang kau miliki dulu. Dan aku, mana percaya?

              Dan juga, berjuta ucapan manis yang kau berikan padaku hanya ku abaikan dengan ringannya. Aku tak ingin peduli dan tak ingin percaya dengan segalanya. Mengapa? Karena memang aku sulit mencinta. Banyak yang mendekatiku, mengungkapkan kata manis padaku, lalu pergi setelah aku mengungkapkan kata “tidak”. Tapi dirimu? Sungguh mengherankan, mengapa kau mempertahankan perasaanmu? Tidakkah ada beribu santri yang lebih baik dariku?

              Sejak pertama kali ku mengenalmu dibangku PBA 2019. Aku menilai bahwa kamu merupakan sosok perwira yang beraura kharismatik sehingga banyak wanita yang mudah tertangkap oleh bidikanmu. Terlebih, kamu memiliki banyak kemampuan yang belum tentu orang lain punya dan belum tentu orang lain bisa.

              Perlahan kupelajari, ternyata kamu memang menarik. Dengan pola pikir kritis dan intelektual, friendly, public dan komunikatif yang kau miliki, kamu dapat menciptakan keadaan yang dapat menimbulkan rasa. Dan juga mengolah keadaan menjadi berwarna.

              Tahun demi tahun berlalu, dikelas yang masih sama. Akupun menganggap semuanya masih biasa-biasa saja. Begitu banyak kata manis bak sindiran, kata tebak bak ramalan, kata mutiara bak perumpamaan yang kau lontarkan untuk meraih hatiku. Kau mempelajari cukup detail tentang siapa dan bagaimana aku, bahkan kau dapat menemukan titik dari sifat yang tak kusadari sekalipun.

              Semuanya sempurna, bahkan aku tak pernah dapat menolak semua perkataan-perkataan indah itu. Hanya terkadang aku mengelak, menghindar agar tak ada rasa yang tumbuh sedikitpun hanya karena perkataanmu. Setiap kali berbicara denganmu, entah itu di vc, telpon, atau langsung, Aku selalu menemukan hal dari dalam diriku yang belum kusadari. Karenanya, aku membentengi diri kuat-kuat, aku menjaga diri sebaik mungkin supaya aku tak jatuh dalam perangkapmu.

              Caramu mendekatiku sungguh berbeda. Bukan menggebu, bukan juga hal yang tampak. Dan benar saja, hanya aku yang merasakannya. Selama ini, kamu telah menampakkan kelebihanmu dimata banyak orang, tak lain juga dimataku. Namun aku menganggapnya biasa saja. Karena pada dasarnya aku memang tak ingin menganggap semuanya lebih dari sekedar teman.

              Waktu yang telah berputar tak memupuskan kekuatan hatimu. Terkadang aku bingung dan berpikir keras, mengapa kau membuang-buang waktumu untuk mengejarku. Padahal, disekitarmu  banyak perempuan yang lebih baik dari pada aku. Namun, dengan bijak kau bilang bahwa kamu suka dan kamu menunjukkan ketulusanmu. “Namanya suka ya suka, kan harus disampaikan”.

              Aku tahu, perasaan yang tumbuh didada bukanlah hal yang salah. Setiap orang akan menemukan rasa yang tepat sesuai kehendak hatinya masing-masing. Teori manapun yang kau pelajari, ia tak pernah salah. Rasa cinta tak pernah bisa disalahkan. Dan rasa suka akan jatuh pada orang yang tepat. Bahkan terkadang hal tak logispun bisa saja terjadi karena adanya cinta. Berkali-kali kau telah berada dalam fase menyatakan, kau memberi perhatian, dan mencari banyak pembahasan. Namun aku masih saja teguh dengan benteng pertahananku.

“Aku tuh sering diam-diam merhatiin kamu, tapi kamu gak sadar”

“Aku tuh ngerasa tenang gitu kalo deket kamu, rasanya semua beban, semua masalah hilang sejenak”

“Kenapa toh malu, sama calon suami sendiri aja lho”

Aku hanya menganggap kalimat-kalimat itu sebagai kata-kata buaya. 

“Wes toh, pantes-pantes aku jadi suamimu”

              Sebenarnya tingkat confident mana yang ada dalam dirimu sampai-sampai kamu bisa berkata demikian. Bagaimana bisa kamu sepercaya diri itu. Aku hanya tersenyum, terpana dengan kata-katamu. Entahlah, aku tak paham denganmu.

              Pernah, aku merasa kesal padamu. Mengapa kau selalu saja seperti itu. Aku bingung, harus dengan cara apa lagi aku menunjukkan padamu bahwa aku ingin kita berteman saja. Aku tidak ingin ada hubungan yang lebih diantara kita. Apalagi kita teman sekelas.

              “Selama ini aku berdoa, aku mengadu kepada penciptamu, pemilikmu. Karena aku sadar, sebelum aku bilang ke kamu, aku harus bilang ke penciptamu”.

              “Aku kangen sama kamu, Rasanya kalau denger suaramu tuh adem.. gitu”

              “Sebenernya hubunganmu sama pacarmu yang anak Bali itu gimana toh?”

              Hingga pada akhirnya kalimat yang dapat ku untaikan adalah… “Ma’shum, kamu tahukan sebenernya kalau selama ini aku udah deket sama orang. Kenapa kamu masih bersikeras kaya gini ke aku”

              Lalu jawabmu.. “Nggak ada salahnya kan kalau aku berharap. Menurut kamu, aku harus berhenti atau harus berjuang?”

              Dengan sangat yakin, aku menyatakan untuk menyuruhnya berhenti.

              “Alasannya apa?”

Seorang Ma’shum, pemilik pikiran kritis yang kukenal takkan kalah dengan keadaan. Dialah pembaca pikiran dan pembaca hati terbaik yang pernah ku kenal selama ini.

              Haruskah aku memberikan penjelasan lagi padanya bahwa aku sudah menjalin relasi dengan orang lain. Atau mungkinkah ia bisa membaca mataku dan mengerti dengan perasaanku yang sebenarnya? Aku yang tengah menjalin relasi dengan seseorang namun relasi itu seperti tak ada. Sehingga kata jaminanpun pernah terucap pula darimu.

              “Kalau kamu jadi istriku, penak-penak hidupmu”

              Keyakinan mana lagi yang kau berikan sehingga aku harus percaya. Tiada orang yang dapat menjamin kebahagiaan dan kemapanan masa depan. Aku sungguh tak tahu, ada apa sebenarnya denganmu.

              Dan suatu hari, mungkin kekuatanmu melemah, hatimu mulai lelah dengan sikapku yang acuh ini. Aku yang tak pernah percaya akan segala rasamu. Aku yang selalu mencoba untuk tak termakan kata-katamu, dan akulah orang yang melelahkanmu, bahkan menyakitimu. Beberapa waktu, kita pernah saling berdiam diri. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang aneh darimu. Aku merasa bahwa kamu menghindariku, kamu menjauhiku.

              Apakah aku salah? Mungkinkah ini hanya firasatku saja? Mungkinkah dia mebenciku? Mengapa tingkahnya berbeda terhadapku? Apakah dia bersikap sama kepada semua orang yang ada dikelas? Tidak!!! Aku mengamatinya, aku tahu dan aku benar, semuanya berbeda. Ada apa denganmu? Entahlah, aku hanya diam. Jika memang benar perubahan yang terjadi padamu itu karena aku, maafkan aku.

              Di penghujung tahun 2022, kuliah kita mulai disibukkan dengan banyak kegiatan diluar kampus. Kita terbengkalai dengan banyak tugas untuk menuju ke ranah kelulusan. Dan dengan tugas-tugas itu, kita berpisah selama beberapa bulan. Sehingga tiada pertemuan, yang ada hanya relasi melalui media saja. Kalibaru-Wongsorejo, ujung-penghujung kabupaten Banyuwangi. Kita melewati tahap Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang sangat melelahkan namun menyenangkan bagiku. Disaat itu, kau menghubungiku lagi. Sempat rasanya aku lega, ternyata kau tak benar-benar membenciku. Dan ternyata, satu bulan dihari-hari itu kamu masih memberikan perhatianmu. Kau yang selalu ingin mengetahui keadaanku, kegiatan dan kesibukanku. Namun, tak jarang pula aku menolaknya. Menolak untuk kau hubungi. Entah itu karena kegiatanku yang memang sedang sibuk atau aku yang sedang malas untuk bertukar media denganmu.

              Dan pasca satu bulan itu, kita dirihlahkan bersama dikota Madura tepatnya didaerah Sumenep. Perhatianmu tak luntur pula, bahkan kau memberikan banyak hal yang tak terduga, entah itu di kendaraan atau di lapangan. Protektifmu terhadapku sungguh terjaga. Dan sejak kala itu, aku merasakan hal yang aneh dalam diriku, Entah apa itu. Sejak saat itu aku merasakan kenyamanan yang tak biasa, aku merasa bahwa ada hal yang berbeda di hatiku. Gapura maqbarah Sunan Ampel menjadi saksi bahwa aku menemukan titik rasa yang tak biasa dalam diriku. Jepret gambar hasil foto bersama denganmu tak begitu bagus bagai espektasiku. Namun, sampai saat ini aku merasa tempat itu sungguh memberikan kenangan berkesan di memoryku. Aku merasakan ada sudut kehangatan yang tak biasa kala kita berjalan beriringan, dan entah mengapa didalam bus kala itu juga, aku tergetak ingin duduk disampingmu, bersandar dilenganmu, dan terlelap dibahumu.

              Dimalam terakhir PKL itu, tiba-tiba aku bertanya pada diriku, “Mungkinkah dia masih menyimpan rasa itu?”. Dan tiba-tiba haru berkabut menyelimuti hatiku. Mungkinkah ini detik terakhirku? Dan juga, aku merasa bahwa ini adalah detik-detik kebersamaan terakhir bersama mereka. Lagu “Buih Jadi Permadani” yang sempat kita senandungkan bersama sampai saat ini masih terngiang di telingaku. Semua perlakuan hangatmu itu hanya dapat kubalas dengan kata “Terima kasih”. Aku tak dapat membalas lebih dari itu.

              Di akhir bulan September 2022, kami bertugas lagi. Langkah PPL yang santai tapi melelahkan itu diam-diam membuka cerita antara aku dan kamu. Tak kalah pula perhatianmu merekah lagi. Terkadang aku merasa tak enak terlalu diperhatikan olehmu. Sampai aku pernah bertanya “Apakah kamu bersikap seperti ini kepada semua orang? Atau hanya kepadaku saja?”

              Dan pada suatu ketika, kita demam di hari yang sama. Tanpa niat dan tanpa sengaja aku tergetak ingin mengunjungi rumah kostmu. Ternyata keadaanmu sedang tidak baik-baik saja. Hari sebelumnya aku meminta tolong kepadamu untuk menitip uang saku kirimanku. Hal itu menjadikan alasanku untuk mendatangi kostmu dan mengambilnya. Padahal dihari sebelumnya kau menyatakan rasa menyerahmu dan keinginanmu untuk berhenti mengharapkanku. Aku sempat tak enak hati dengan pernyataanmu, sempat merasa bersalah dan sempat susah. Namun aku berusaha biasa saja untuk tetap menjadi teman yang baik. Maafkan aku yang nekat mendatangimu. Maafkan aku yang telah melukaimu. Kau tahu, aku merasa telah sangat merepotkanmu. Dan juga merasa bersalah padamu.

              Namun, saat kau mengusap puncak kepalaku, aku merasakan getar kehangatan yang luar biasa. Ada apa denganku?

              Entah mengapa diperjalananku hari itu, ditengah derasnya guyuran hujan yang membuatku basah kuyup, aku tak henti-hentinya memikirkanmu. Terlebih saat kau menyuruhku membeli obat untukmu. Kekhawatiranku meningkat, apa yang terjadi padamu? Bagaimana keadaanmu? Apa yang kau lakukan sekarang? Apa yang kau rasakan? Apa yang kau keluhkan? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar keras di otakku. Baiklah, aku akan segera pulang. Tunggu aku disana. Setibanya, aku melihatmu masih duduk tegar bersama mereka. Entah apa yang ada dalam pikiranmu, entah apa pula yang kau rasakan, namun aku merasa bahwa kau sedang tak baik-baik saja. Baiklah, setidaknya aku lega sudah melihatmu.

              Selepas perginya mereka, kita duduk berdua. Menikmati keheningan malam dalam balutan hawa dingin pasca derasnya hujan. Lirik lagu dalam nyanyianmu memanahku, rangkulan dan kecupan sekilasmu sempat menghangatkanku, kenangan meminum obat kala itu takkan terlupa, tak akan pernah. Aku akan selalu merindukan masa itu.

              Hari esok dan esok nya lagi, kita saling memantau keadaan satu sama lain. Perkembangan kesembuhan menjadi kekhawatiran, jadwal makan dan minum obat selalu menjadi pengingat. Dan kita dekat lagi. Masih dalam ikatan pertemanan yang baik.

              Kegiatan PPL berakhir, ujian dan ujianpun menunggu. Laporan dan laporan tersusun rapi walau dengan jiplakan referensi. Kita dekat lagi dan kamu masih sempat bertanya tentang rasaku.

“Kalau memang kamu gak merasakan itu, berarti di hati kamu ada orang lain”.

Entahlah, mengapa tiba-tiba aku sedih mendengar statement itu. Hingga pada suatu hari kamu memberiku lagu dengan ungkapan hati lelahmu..

              “Aku capek bun. Kenapa kamu gak percaya sama aku. Harus gimana lagi caranya aku bilang kekamu. Aku tuh beneran sayang sama kamu. Aku udah berkali-kali berusaha ngeluapin kamu, menjauhkan perasaanku dari kamu, menghindari kamu, tapi nggak tau kenapa mbalik e tetep ke kamu. Apa aku terlalu bodoh sudah mengejar dan mempertahankan perasaanku buat kamu sedangkan kamu nggak ngasih respon apa-apa.“

Dan selebihnya aku lupa tentang apa lagi yang kau katakana lebih lengkapnya.

              “Oh ya! Aku punya lagu buat kamu. Kamu lihat ya nanti. Lagu itu menceritakan tentang perjalanan kita”.

              Aku mencari dan mendengar lagu yang kau rekomendasikan denga seksama. Dan kurasa, lebih tepatnya lagu itu tak menceritakan tentang kita. Melainkan mewakili perasaanmu. Ku akui, semuanya benar. Lagu itu benar-benar sesuai dengan dalamnya sayangmu dan acuhnya diriku yang jahat ini.

              Padahal, dibalik itu aku menahan tangis selama ini. Andai aku bisa jujur, aku ingin menceritakan semuanya agar kau tahu bagaimana tertekannya aku selama ini. Aku pernah berada dalam fase mencintai terlalu dalam, sehingga aku berfikir bahwa aku bodoh karena terlalu jauh tenggelam dalam  rasa gelapnya cinta butaku. Aku tak peduli apa kata orang dan aku tak peduli bagaimana baik buruknya orang yang kucintai. Kala itu aku juga tengah berada dalam fase berelasi namun tak bahagia, tak mencinta, namun harus bertahan dengan paksa demi secercah rasa. Aku bingung, aku menangis, hati dan dadaku sesak dengan kata menyerahmu dan lagu sendumu, Aku resah.

              Hari demi hari setelahnya, entah apa lagi. Aku tak ingat. Aku menemukan lagi kehangatan dan kenyamanan darimu. Aku semakin tahu siapa sebenarnya dirimu. Aku mulai tahu tentang ketulusanmu. Aku mulai suka berbicara banyak hal denganmu, aku mulai suka mendengar suaramu, dan aku tenggelam. Aku selalu menunggu notifikasi pesan darimu, aku selalu mengupayakan cara bagaimana sebisa mungkin aku bertukar cerita melalui via telpon denganmu. Dan hari demi hari, aku kian nyaman denganmu, entah rasa itu timbul sejak kapan. Mungkinkah hatiku terbuka disini? Entah bagaimana pula, aku merindukanmu, hingga tumbuh benih-benih rasa aku sayang kamu, dan kian lama aku mecintaimu.

              “Bun, semisal aku Tanya. Apa kamu mau sama aku?”

              Aku berpikir keras dengan pertanyaan itu. Aku ingin berkata tidak, namun hatiku tak ingin berbohong. Menimbang-nimbang lagi, aku masih punya relasi dengan orang lain. Aku diam, dan jawabanku “Nggak tahu, aku masih punya hubungan sama orang”.

              “Tapi sebenernya kamu mau kan?”

              Cukup, aku tak ingin berbohong . belum tentu esok hari Ma’shum akan bertanya itu lagi. Dan dengan kehati-hatian aku menjawab “Iya, Mau”.

              Lisanku berkata demikian, hatiku juga tengah jujur, namun setelahnya aku berpikir keras.  Aku memiliki resiko besar tentang hubunganku yang lalu.

              Salahkah aku jika jujur padanya? Dibalik layar, aku masih punya dia. Namun hatiku mengikuti kata terus terangnya, hatiku memilih siapa yang lebih tepat, siapa yang dapat memberi kenyamanan, dan siapa yang bisa mengerti dengan aku yang bodoh ini.

              Dan juga, hatiku berkata aku butuh Ma’shum, dia yang bisa mengerti aku. Yang tak hanya menyayangi tapi juga mendidikku. Yang tak hanya sabar tapi juga lembut. Yang tak hanya membuatku tertawa tapi juga membuatku berpikir dengan alur yang diarahkannya.

              Dan aku memilih keputusan untuk mengakhiri relasi lamaku. Relasi yang kupertahankan selama bertahun-tahun, relasi yang membuatku melangkah dengan berat, dan relasi yang membuatku tak siap melangkah ke depan. Aku siap dengan semua resiko apapun untuk itu. Entah apa yang akan kukatakan untuk memutusnya. Aku akan mencari cara.

              Aku tahu, jika aku memilih jalan ini aku akan menjadi orang terjahat yang pernah singgah di hatinya dan menjadi sosok terburuk yang pernah ada di hidupnya. Namun aku juga tak ingin terlalu lama membohongi rasa, tak ingin terlalu lama menyakiti diri sendiri dan menyakitinya. Aku akan mencari cara, semoga aku bisa.

              Di ujung tahun 2022, tepat pada akhir masa berpijak di PBA. Aku menemukan orang paling tepat. Mengapa otak dan hatiku baru terbuka? Padahal selama ini dia ada didepan mata. Kamu yang hampir setiap hari ada didepan mataku. Kamu yang ada disekitarku, yang selalu ada melindungiku, yang pernah kusakiti dan kubuat lelah, kini menjadi orang yang selalu kurindu. Orang yang kusayang, dan orang yang kucinta.

              Sejak aku mencintaimu, aku merasa siap dengan segalanya. Aku akan berjuang demi cinta kita. Entah apa yang akan terjadi didepan sana. Aku percaya, kau dapat menuntunku menuju langkah yang lebih baik. Rasanya, aku percaya bahwa kamu adalah masa depan yang baik untuk menjadi pemimpinku. Dan ternyata, semua kisah di PBA 2019 akan menjadi cerita. Benar saja, karena DPM-nya adalah suamiku tercinta.

---Ma’shum Thoyib---

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Akhir Delapan Januari

  Tanggal ulang tahunmu Pernah menjadi salah satu tanggal yang istimewa bagiku Aku juga pernah menjadi orang pertama yang mengucapkan ...