Jumat, 23 Juni 2023

Sanam Teri Kasam

               Beberapa hari ini, suasana hati sedang tak stabil. Berkabut abu-abu dengan haru tak menentu. Pikir yang berkelana merajah resah memberat rasa. Lelah, ingin kukata. Namun hal itu tiada layak karena lembaran arunika tak bersuara merubah rana. Aku ingin berkeluh kesah, denganmu wahai Nirwana. Namun, kurasa hal itu tidaklah tepat untuk saat ini. Karena kita tengah berada difase yang sama. Diantara lelah dan resah, sakit dan keluh kesah, dan pusing yang menuntut rebah.

              Kemarin, kita bertukar suara. Setelah beberapa lama memahami waktu sibuk yang kita punya. Kamu bercerita, ditengah gundah yang penuh hara. Tentang perihal yang menjadi ketakutanmu selama ini. Masih di nada paling rendah dengan kata panggilan “Nduk…”, aku sudah bergetar.

Nada getirmu sudah memberikan isyarat tak baik-baik saja. Dan ternyata.. 

“Mas punya sakit yang sudah mas rasain dari lama. Rasa sakit itu sudah ada dari mas MTs. Mas pernah dirawat jalan, dan sekarang kadang masih ngerasain itu nduk”.

Mungkin bahasa lebih tepatnya bukan itu. Aku tak dapat mengulang kalimat persisnya. 

“Karena nduk calon istrinya mas, mas pengen ngomong ini nduk. Nduk harus tahu. Mas nggak mau ngecewain nduk. Mas butuh jawabannya nduk, nduk pikirkan baik-baik. Mas akan terima apapun yang jadi keputusannya nduk”.

              "Sanam Teri Kasam",,, tiba-tiba saja aku mengingat cerita itu. Entah mengapa, fikiranku berputar kesana. Pengorbanan kisah cinta yang penuh tantangan dan rasa yang datang secara serendipity, menumbuhkan kasih sayang mendalam.

“Mas cari orang yang bisa menerima mas apa adanya nduk”

Kau perlu tahu. Bahwa dimataku kamu itu sempurna. Dan jika memang kamu memiliki titik kelemahan, cukup sadari saja bahwa di dunia ini memang tak ada yang sempurna.

Aku tak pernah menuntut kesempurnaan apapun darimu. Cukup kamu dengan seluruh hal yang kamu miliki saja, dan kamu dengan semua hal yang ada pada dirimu saja. Aku bahagia, dengan seluruh yang pernah kau berikan. Aku bersyukur kau ada dan menjadi yang kucinta.

              Kita ingat-ingat lagi ya... Aku juga punya sakit yang sudah ada sejak lama. Telapak tanganku tak sehalus dan semulus perempuan pada umumnya. Namun kau tak pernah risih ataupun merasa jijik menyentuhnya, bahkan kau pernah menggenggamnya. Hariku didepan sana sudah pernah diramal akan berat pada jalannya. Namun, tanpa ragu kau memberiku ketenangan untuk tegar dan tidak takut untuk menghadapi itu semua.

“Mas selalu ada buat nduk”. Dan sekarang, akulah yang akan berkata demikian..

“Nduk akan ada untuk mas."  dan aku siap menerima semuanya.

Kau bertanya lagi….

“Mas punya penyakit yang nggak tau kapan sembuhnya nduk, apa nduk masih mau? Mas takut jadi beban buat nduk, nduk yakin gak menyesal nantinya?”

              Mas, jika nanti aku adalah istrimu, maka akulah yang harus merawatmu. Karena aku yang mengabdikan seluruhnya untukmu. Diriku, luluh dan lantahku untuk ada disampingmu. Sehingga, tak perlu ada penyesalan apapun. Sayang dan cinta akan menjadi asas paling mendasar untuk melewati semuanya. Aku sudah mencintaimu, aku sudah menyayangimu, aku sudah merangkai masa depan jauh bersamamu.  Walau aku tak tahu, semuanya akan benar terlaku atau hanya rancangan halu dan penataan waktu.

                Kita harus hadapi, walau sakit dan sulit. Kita harus lewati, walau banyak tantangan pemberi uji. Ujian kita sudah banyak. Jarak, waktu, pendidikan, karir, semuanya masih ambigu. Tapi kau selalu menenangkanku dengan kata  “Yang kuat ya nduk”.. kita harus jalani, apapun itu, kita harus lewati, bagaimnapun itu, hadapi…

              Kita berdoa saja, jangan bosan-bosan memohon. kau pernah bilang bahwa.. “Allah suka mendengar hambanya merintih”.  Itulah kita, hamba yang lemah. Sudahlah  sayang, jangan khwatirkan apapun, kita pasti bisa. Jangan bosan-bosan berdoa, Allah selalu tahu seberapa tinggi tingkat kemampuan  hambanya.  Kita pasrahkan saja, Allah akan memberikan jawaban dari doa kita diwaktu yang tepat. Semoga engkau selalu dalam lindungannya  dan semoga selalu diberi kesehatan. Amin Yaa Robbal ‘alamin…

Dariku, yang mencintaimu..

Untukmu, yang kucintai…

--Ma’shum Thoyib--

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Akhir Delapan Januari

  Tanggal ulang tahunmu Pernah menjadi salah satu tanggal yang istimewa bagiku Aku juga pernah menjadi orang pertama yang mengucapkan ...