Jum'at malam Sabtu, 02 Juni 2023
Katanya… “Di dunia ini, gak ada cewek yang gak bisa cemburu. Cemburu itu sifat yang mesti ada dalam diri perempuan”. Dulu, aku tak pernah bisa merasakan itu. Bahkan jika ada yang bilang begitu, aku adalah orang pertama yang menolak keras pernyataan itu.
Dimasa lalu yang pernah ada, aku selalu bisa merubah respon sensitive hatiku dan mengubahnya menjadi ranah yang rasional. Sehingga aku menganggap bahwa rasa cemburu tak harus dimiliki oleh semua orang dan tak harus ada dalam hubungan berpasangan.
Aku positive thinking saja. Aku menganggap bahwa jika orang yang kucinta sedang diposisi bersama perempuan lain, aku akan melihat apa yang sedang dilakukannya, apa yang dibutuhkannya, apa yang dibicarakan olehnya. Siapapun yang dekat dengannya aku tak peduli. Cukup kupercaya bahwa rasa yang dimilikinya hanya untukku saja. Cukup aku yakin bahwa dihatinya hanya ada aku saja.
Dulu aku menganggap bahwa rasa cemburu itu dapat diubah menjadi pelajaran menuju kedewasaan, aku menganggap bahwa siapapun yang memiliki rasa cemburu itu kekanak-kanakan. Bukan karena aku tak peduli, bukan karena aku tak mengerti , tapi jika itu sebuah kebutuhan maka tiada yang perlu dipermasalahkan.
Kamu… mengapa aku tak bisa menghalangi langkahmu untuk dekat dengan perempuan lain. Ku ingat-ingat lagi. Sejak dulu, aku tak pernah melarang siapapun orang yang berelasi denganku untuk dekat dengan perempuan lain jika hanya dalam ranah pertemanan. Aku hanya mengandalkan rasa percayaku untuk nya dan rasa yakinku akan komitmen yang terjalin. Dan mungkin begitu pula hal itu terjadi padamu.
Tapi, mengapa semuanya terasa berbeda jika kamu yang melakukannya. Dulu, aku dapat bersikap dengan sangat biasa-biasa saja walau harus terjadi didepan mata. Namun, mengapa aku merasa terluka jika dia adalah Ma’shum Thoyib? Aku bercermin berkali-kali, pantaskah jika aku menghadirkan rasa itu?
Kau pernah cerita tentang Mila, aku menerimanya. Kau pernah cerita tentang ima, aku menerimanya, tentang Faulina, akupun menerimanya. Atau tentang kakak yang bernama Layyin itu. Ku akui, kau memang perwira dengan segala sisi indahmu di mata banyak wanita. Tak heran pula jika kau memiliki banyak pemuja dan dicari banyak kaum hawa, aku sangat menyadari itu. Berkali-kali aku menetralisir rasa dan hatiku jika mendengar cerita-ceritamu. Aku memposisikan diri sebelum menjustice-mu. Dan juga, aku bukanlah perempuan yang mudah men-judge sesuatu.
Aku selalu bilang bahwa aku baik-baik saja, Aku tak apa. Tapi maaf, jika itu adalah mbak-mbak an dan adek-adek an, kenapa aku sulit menerimanya? Padahal aku sadar bahwa relasi itu sudah ada sejak lama sebelum aku hadir di duniamu. Dan itulah mengapa aku tak bisa melarangmu untuk jauh dari relasi itu. Akupun tak ingin merusak hubunganmu dengan mbak Layyin.
Aku sakit melihatmu tertawa dengannya, aku sakit melihat spam chatnya untukmu, aku sakit mendengar ceritamu tentangnya saat makan bersama, jalan bersama, dan bertukar sesuatu dengannya. Perlu kau ketahui, bahwa relasi yang demikian itu tak menutup kemungkinan untuk menciptakan rasa nyaman dan suka. Mungkin bagimu semua akan terkesan biasa-biasa saja. Tapi bagi perempuan manapun yang berada di posisiku ia akan terluka, tidakkah begitu menurutmu? Itulah mengapa aku sakit menerimanya. Karena pertemanan biasa tak sama dengan relasi adek-adek an atau mbak-mbak an.
Maaf, jika selama ini aku selalu sensitive kala mendengar cerita tentangnya. Bahkan mungkin semuanya lebih kentara saat kamu menceritakan kedekatanmu dengan mbak Layyin dari pada teman-teman yang lain. Aku tak apa, sungguh tak apa jika itu hanya teman tanpa rasa. Namun jika status yang demikian itu, seperti mas dan mbak Layyin pasti akan lebih mengkhawatirkan.
Hmm.. tak apa. Aku akan tetap baik-baik saja. Tak apa, aku akan kuat. Tetap jaga rasa dan hatimu saja. Aku percaya denganmu, aku percaya hatimu. Terkadang aku berpikir, apakah aku berhak melarang jika statusnya adalah mbak-mbak an dan adek-adek an? Padahal jika hanya teman biasa kau selalu bertanya dan meminta izin untuk melakukan sesuatu. Sedangkan dalam ranah mbak-mbak an kau tak pernah bertanya. Kau mengujiku dengan kata “wani pora? Gelem pora?”. Tidakkah kau berpikir bagaimana hatiku?
Sejak dulu hingga kini, dan dari sini, aku baru bisa menyimpulkan bahwa Evi cemburu itu hal yang langka. Jika memang Evi bisa cemburu, berarti karena cintanya mendalam. Aku baru ingat, ternyata.. dulu.. aku pernah cemburu. Sakit hatiku mendalam hingga fikiranku kalut, hingga kondisiku drop dan down, aku jatuh sakit, aku opname, aku dirawat dirumah sakit karena overthinking yang berlebihan dan itu bermula dari sakitnya rasa cemburu. Itulah mengapa aku menghindari jauh-jauh apa itu rasa cemburu. Karena jika itu terjadi maka aku akan menyakiti diri sendiri pula. Sungguh, aku masih bertanya, sedemikian itukah rasa cemburuku? Sudahlah, akan lebih menyakitkan jika diingat-ingat lagi.
Dan kini, rasa cemburu itu hadir lagi, mungkinkah itu karena dalamnya cintaku padamu?
Sudahlah, Aku hanya harus mengetahui, bahwa hatimu ada untukku dan aku mencintaimu.
--Ma’shum Thoyib--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar