Masjid Baitussalam, Karanganyar, Paiton-Probolinggo
Ahad, 28 Mei 2023
Hari-hariku di Nurul Jadid tiada nikmat. Detik demi detik tak dapat kusingkap dengan bahagia haqiqi karena rasa dan fikiran yang berkelebat. Aku memikirkanmu, aku merindukanmu, aku ingin segera keluar dari sini, aku ingin berbicara denganmu, aku ingin membenarkan pikirmu. Aku berjanji, jika aku sudah keluar dari sini, orang yang akan kuhubungi pertama kalinya adalah kamu.
Aku mencoba menghubugimu, kau tahu.. aku bergetar hebat sebelum mendengar suaramu. Aku siap menerima semua pertanyaanmu. Bahkan jika kamu harus menyalahkanku, jika kamu harus marah padaku.
“Assalamualaikum”
Masih diucapan salam, aku sudah bergetar hebat. Aku takut akan kecewamu. Aku takut akan runtuhnya rasa percayamu. Bahkan mendengar bahasamu saja aku menciut.
“Untuk saat ini, mas masih belum bisa nduk. Rasa percaya mas kayak hilang seketika”.
“Itu semua salahmu nduk. Kamu sendiri yang membuat ulah itu”.
Semua ucapanmu membuatku keluh. Hancurnya percayamu membuatku semakin terpuruk. Aku tak dapat mengelak, aku memang bersalah. Aku lalai membersihkan seluruh memory lamaku. Bahkan percakapan tak berarti apapun yang masih tersisa dan membekas dalam arsip chat whatsappku.
Aku bahkan tak ingat jika masih menyimpan foto-foto itu. Aku menghapusnya dalam kurun waktu yang belum lama. Itupun karena aku baru saja sadar setelah memeriksa galeryku bahkan ternyata masih ada yang tersisa. Tapi ternyata kau melihat riwayat yang telah kuhapus ditempat sampah media. Aku merasa bahwa aku sudah membersihkan semua tentang dia. Dan juga alasanku mengarsipkan chat itu, karena aku tak ingin chat itu tampak diberanda. Sengaja saja ku sembunyikan karena aku tak ingin terusik. Karena ketika ada pesan yang masuk darinya aku merasa tak nyaman. Sehingga aku menimbunnya di tumpukan arsip. Kenapa hanya dia? Karena memang hanya dia yang kurasa membuatku tak nyaman.
Pikiran kritismu terlalu jauh dan mendalam. Sehingga pertanyaan demi pertanyaan menghampiri kepalamu secara berkala. Dan muncul perspektif yang melunturkan rasa percayamu terhadapku. Semua pertanyaanmu benar secara logika. Namun, dihatiku hanya ada kamu seorang. Dihatiku, aku menyimpan beribu jawaban. Namun jika memang rasa tak percaya itu datang lebih dulu, apalah daya aku? Percuma, jawaban dan alasanku takkan kau terima.
“Sulit mengembalikannya nduk”
Baiklah, cukup, sudahlah. Rasa percaya muncul dari diri sendiri. Aku sudah menjelaskan tanpa adanya kebohongan. Hatiku sudah mengungkap jawaban dengan tindakan jujurnya. Jika memang ia tak percaya, aku tak harus memaksa. Aku punya hak dan kewajiban untuk menjawab. Urusan kepercayaan, aku tak boleh memaksakan kehendak.
Tangisku mengalir tanpa henti. Aku menstabilkan suaraku dengan sebaik-sebaiknya. Aku tak ingin ia tahu aku menangis. Aku sakit, sakit karena tak dipercaya. Dokumentasi masalah yang menjadi bukti ternyata lebih kuat dalam keyakinannya, ternyata isi HP-ku lebih akurat dari pada rasaku. Perjuangan dan ucapanku seolah tak ada harganya. Tangisku dalam mencintainya, doaku, ketulusanku, mungkin tak berarti untuk saat ini. Bagaimana selanjutnya? Aku pasrah saja.
Disini, aku sendiri. Didepan masjid Jami’ Baitissalam. Dipinggir jalan yang ramai dilintasi kendaraan. Panas, bagai pikiran dan hatiku yang berkecamuk tak karuan. Aku seolah kehilangan arah, tak tahu bagaimana harus pulang. Aku takut, aku sendiri tanpa teman. Dikejauhan, dinegeri orang, dengan rasa sakit yang getir bertabrakan. Aku diam, tanpa kata. Keramaian dan panasnya kecamatan Paiton seolah sebuah keheningan.
Kau bertanya.. “Gimana ya nduk?”. Masih saja tentang kepercayaan. Lalu, aku harus bagaimana? Jawabanku pun tiada artinya. Semakin kau tak percaya, semakin aku sakit pula. Dikejauhan, dikesendirian, dibawah teriknya mentari yang menyengat.
Aku menengadah ke langit yang cerah tanpa suara. Biru dan putih yang berpadu dengan mesra. Namun seolah semuanya meredup. Aku mengingat bagaimana bahagianya keberangkatanku sampai aku berpijak disini bersamamu. Dan sekarang aku harus pulang dengan kesedihanku sendiri yang juga tentangmu. Aku rindu ada disampingmu, menyandar dibahumu, memeluk lengan kekarmu, menatap wajah teduhmu, digenggam olehmu, dan melangkah bersamamu.
Aku beralasan, izin menutup telepon untuk mencari kendaraan. Padahal aku menangis sejadi-jadinya dikesendirian. Aku hanya ingin menjawab sekenanya saja. Aku tak ingin melawan, aku tak ingin membantah. Jawabanku sudah jujur, aku tak ingin kehilanganmu. Jangan percaya dengan isi HP-ku. Hatiku lebih jujur dari pada HP-ku. Aku menyimpan ketulusan untukmu. Aku tak pernah memiliki niatan untuk mempermainkanmu apalagi menyakitimu. Tapi, mengapa aku tak dapat berkata?
Ya Allah, tuntun langkahku, tunjukkan jalanku. Aku harus pulang, sembuhkan rasaku, kuatkan hatiku, tenangkan pikirku. Kupasrahkan semuanya pada-Mu. Hatiku milik-Mu, Cintaku milik-Mu, dan Ma’shum Thoyib juga milikmu.
Aku menarik nafas sedalam-dalamnya. Bismillahirrahmanirrahim…
Ya Allah, sampaikan rasaku, sampaikan kata hatiku, dalam derap langkahku, aku merintih merindukannya,
“Ma’shum Thoyib, aku mencintaimu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar