Hujan Menelisik Rindu
Mendung bergemuruh mengundang rintik
Jatuh membasah bersamaan, meriuhkan..
Hujan…
Aku suka hujan…
Kedatangannya meramaikan sekeliling yang tampak didepan mata
Siang itu, hiruk pikuk siswa-siswi berhamburan
Bersinggah meneduh, dan berkeliaran membasah
Aku berdiri diketinggian,
Darussalam yang permai tampak berkabut mengabu
Tampaklah sekian gedung bermandikan hujan
Pematang hijau diselatan sana juga basah
Gunung dan bukit pula tampak samar
Wahai hujan yang menyejukkan…
Kupandang jauh gedung di selatan sana…
Tiba-tiba saja aku teringat oleh sebagian memory
Saat aku dan dia duduk bersama,
Saat ia menggenggam tanganku,
Saat kita makan berhadapan,
Saat kita singkat berpelukan,
Dan saat kita bercengkerama dengan berbagai candaan
Aku rindu, akan semua itu…
Bahkan diketinggian sekalipun,
Yang kuingat adalah dirimu
Kapan kiranya aku dapat melihat dunia berdua denganmu
Aku rindu, rindu sekali…
Kapan kiranya kita bertemu lagi?
Kapan kiranya kita akan bercengkerama lagi?
Apa kabar kau disana?
Tidakkah kau juga merasakan hal yang sama?
Tidakkah kau juga memikirkan yang kupikirkan?
Rintik hujan semakin melebat
Tetesan demi tetesan melantunkan suara benturan
Riuh beramai mengkelebat
Aku bergeming dalam diam…
Terngiang suaramu kala mengucap kalimat..
“Apa Sayaaang??”JJ
Manja, lembut, penuh kasih, menyejukkan dada
Kapan kiranya aku dapat mendengarnya lagi?
Ditempatku berdiri saat ini,
Seluruh penjuru kusaksikan seksama
Namun hanya satu yang ada dalam lintasan benak jiwa
Kamu, Ma’shum Thoyib…
Wahai hujan anugerah langit
Andai kau bisa bicara
Ku ingin menyampaikan salam dan curahan rindu untuknya
Ku yakin kau pasti mendengar relung batinku yang menjerit saat ini
Ku yakin kau tahu gambaran angan dalam pikiranku kini
Wahai hujan pembasah bumi…
Kumohon, sampaikanlah padanya
Bahwa Aku merindukannya…
--Ma’shum Thoyib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar