Minggu, 29 Oktober 2023

Kekuatan

Kekuatan

Banyak orang tua yang menginginkan anaknya bahagia,

Banyak keputusan orang tua yang berbeda dengan anaknya,

Namun, setiap apa yang orang tuamu katakan,

Percayalah itu adalah hal terbaik

Itu berlaku terhadapmu

Apakah juga terhadapku?

--Ma’shum Thoyib--

----00000-----

“Nduk, yang kuat ya!”

          Kata yang sering diucapkan olehnya kala ia menepuk kedua pundakku, kala menggenggam tanganku, dan memelukku di waktu perpisahan sepulang bertugas menempuh persiapan akreditasi. Dipelukannya yang nyaman namun singkat, aku berpikir, aku kuat. Aku pasti bisa melewati semuanya. Di posisi yang sama, dalam cerita mengemban amanah sebagai kepala asrama, dengan tatanan kegiatan yang harus dijalankan dengan seksama, dan manajemen edukasi yang sudah tertata, aku pasti bisa menjalankan semuanya.

          Tapi ternyata, yang dimaksud bukan itu. Ada hal lain yang menjadi titik berat dalam kalimatnya. Dan baru kusadari, ternyata kalimat itu adalah tentang kita, tentang aku dan dia. Evi dan Ma’shum.

          Sejak sebelum aku membuka hati untuk berelasi denganmu, dengan sangat sadar aku tahu bahwa kelak akan ada resiko besar diantara kita. Aku mempertimbangkan banyak hal, terutama tentang jarak. Kita bertemu disatu titik dalam ranah klasifikasi pendidikan perguruan tinggi. Hal itu yang menjadikan kita tampak dekat dalam ruang dan waktu. Sehingga perlahan, semua titik memberitahukanku tentang siapa kamu, dan bagaimana dirimu. Dan pada akhirnya, dengan semua usaha kerasmu, dengan perjuanganmu, aku dapat meyakinkan diriku bahwa aku mencintaimu.

          Waktu demi waktu berlalu, hari demi hari aku semakin mencintaimu. Bahkan sampai di detik ini juga, aku sudah memutuskan dan mendeklarasikan pada rasa bahwa aku jatuh cinta padamu, jatuh sejatuh-jatuhnya. Dalam mimpi serta harap, kelak kau akan menjadi imamku, adalah angan yang menggelora dan melambung tinggi dalam bayanganku.

          Tak sekali atau dua kali, namun seringkali aku menceritakan hal-hal tentangmu pada keluargaku. Ayah, ibu, nenek, mbak, mas, tentang siapa itu Ma’shum Thoyib. Ada dukungan ada pertimbangan. Dan ternyata, semuanya tak semudah yang kita bayangkan.

          Dan sampai disini, semuanya benar-benar menjadi pertimbangan. Mungkin kita tidak, tapi orangtuaku dan orang tuamu memberikan banyak penggambaran yang diberatkan. Keluargamu mengharapkanmu untuk ada di Sumatera. Begitu juga denganku, keluargaku menginginkanku untuk ada di Bali. Beberapa waktu lalu, aku dan kamu sempat membahas ini. Tapi ternyata semua mengandung unsur yang menjadi ketakutan.

“Berat nduk…”

Iya, aku tahu. Diposisimu saat ini. Yang tengah menyandang amanah sebagai kepala asrama serta mustahiq Madina. Kamu, putra Tahfidzul Qur’an, putra kebanggaan ayah dan ibumu yang telah dinantikan perannya di Sumatera sana. Kamu yang saat ini masih memiliki mimpi untuk meraih gelar Megister S2, dan kamu yang ingin mendalami pengetahuan tentang penguasaan bahasa Arab dalam ranah berkalam. Namun cintamu yang begitu dalam menginginkan untuk segera berkeluarga dan hidup bersama. Dan saat ini, pasti kau berpikir bahwa semuanya berada difase yang bertentangan.

          Beberapa waktu lalu, kau mengajukan permintaan untuk melamarku. Kita menjalankan misi untuk bertanya terlebih dahulu pada kedua orang tua kita. Namun ternyata, beliau-beliau masih belum memberikan dukungannya pada kita. Kita dituntut untuk mengisi waktu lagi sebelum menjejak ke langkah pernikahan. Setahun, dua tahun, entah berapa tahun lagi waktu yang benar-benar harus diisi oleh tuntutan itu. Semua orang tua pasti menginginkan hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Sehingga banyak hal-hal yang tak pernah mereka pamerihkan demi anaknya. Dan jika disuatu waktu mereka mengutarakan satu permintaan saja, tidakkah kita sebagai anak harus memenuhi keinginan itu? Orang tuamu, beliaulah dua sosok yang kelak akan kau hadiahkan surga, orang tua yang jelas peran nya sejak kamu pertama kali ada didunia. Dan jika memang beliau mengutarakan permintaanya padamu, tidakkah kau akan menuruti keinginan mereka?

          Dibumi megah penuh keanekaragaman bernama Darussalam ini, aku bertemu denganmu. Sosok perwira dengan banyak talenta. Kita berada dalam klasifikasi yang sama dan perlahan dijatuhi rasa oleh sang pencipta. Harap demi harap, dengan asas cinta yang kian melekat mendalam, perlahan melahirkan doa yang kian terpanjat dalam sujud dan tadahan tangan.

          Sejak awal, aku sudah mengingatkanmu, bahwa aku adalah santri biasa. Yang tak memiliki banyak kelebihan seperti apa yang kamu miliki. Yang tak memiliki banyak peran seperti apa yang kau alami. Tak jarang aku berpikir, bagaimana bisa aku?, dan mengapa aku?, tidakkah kau salah memilih orang? Semua semakin tampak tak tersangka namun nyata. Karakter demi karakter telah kita pahami, pendekatan demi pendekatan telah kita lewati. Hingga akhirnya kita menjejakkan diri untuk berhadapan dengan kedua orang tua kita. Mungkin, berbeda dengan orang tua pada umumnya. Orang tuaku tak begitu mudah untuk membuka diri pada orang baru. Memang benar, ayah dan ibuku memilki jiwa yang sama-sama humoris. Namun, jika itu mengandung unsur perasaan maka beliau akan berhati-hati dalam menuntun putra-putrinya dalam belajar menyikapi rasa.

          Selama ini aku mencintaimu dengan hatiku. Aku menginginkanmu atas kehendakku, aku berangan setinggi-tingginya bersamamu dengan pemikiranku. Tanpa ada paksaan dari pihak manapun, aku mencintaimu karena diriku sendiri. Karenanya, aku siap dengan segala hal yang akan terjadi didepan sana. Apapun yang kelak akan kita lewati, aku siap menerima bagaimanapun keadaannya. Aku akan terima dalam bentuk kisah yang manis ataupun pahit, asalkan pemimpinku adalah dirimu.

          Namun, pertanyaannya... bisakah kita melangkah bersama? Bisakah kita membangun kisah yang telah terangkai dalam tingginya cita-cita kita?

          Sejauh ini, yang ku tahu, aku hanya mencintaimu. Aku mempelajari banyak hal tentangmu dan melatih kesabaran untuk kelak menjadi istrimu. Tanpa kusadari, bahwa ternyata perjalanan yang kita lewati selama ini mengandung banyak pertimbangan. Ada jarak, karir, pendidikan, orang tua, dan lain-lain.

          Aku menangis, membayangkan masa depan andaikata semua tak sesuai dengan espektasi kita. Dengan nada tulusmu, kau memintaku menjadi istrimu.

“Jadi istri mas ya nduk!”

Aku pasti mau. Aku sudah mengiyakan permintaan itu sejak dulu. Bahkan aku sudah siap dengan seluruh keadaan didepan sana.

“Apakah mas kuat nduk?” 

"Terkadang mas takut, jika suatu hari nanti ternyata kamu bukan istriku nduk. Siapakah kiranya laki-laki yang akan bersanding denganmu nduk?"

Bisa-bisanya kamu memiliki pemikiran seperti itu. Bahkan aku tak tahu, jika kamu bukan suamiku, dapatkah aku mencintai orang lain lagi?

Aku bukan perempuan yang mudah jatuh cinta. Mungkin interaksiku dengan laki-laki lain bisa tampak menarik karena sikapku, tapi hatiku tidaklah demikian. Aku sulit membuka hati, aku sulit mencintai. Dan jika itu bukan kamu, mungkinkah aku dapat mencintai orang lain seperti aku mencintaimu?

Kau tahukan, memepertahankan relasi itu bukanlah hal yang mudah. Aku masih ingat, dulu, kaulah yang telah banyak berjuang untuk dapat meraih hatiku, kamu berusaha keras bagaimana bisa meyakinkanku. Dengan usaha bertahun-tahun selama duduk dibangku perkuliahan memupuk tingginya harap hanya untuk mendapatkanku. Padahal, Aku manusia rendahan yang tak memiliki apapun untuk dibanggakan. Baiklah, dulu waktumu sudah banyak kau pertaruhkan untukku. Kini giliranku pula. Aku akan berjuang untuk cita-cita kita. dulu, aku pernah mengajukan pertanyaan padamu.

"Apakah mas bisa tinggal di Bali?"

Dan dulu, pada awalnya kamu pernah mengiyakan pertanyaanku kala itu. Tapi, diwaktu liburan Ramadhan lalu, kamu mempertimbangkan dirimu sendiri untuk meninggalkan Sumatera, untuk meninggalkan ayah dan ibu. Mengingat lagi, kamu adalah putra pertama kebanggaan mereka. Dan juga, banyak khalayak yang sudah menantimu disana. Mungkinkah kau akan sudi meninggalkan Sumatra? Kau bilang "Mas mau-mau aja nduk tinggal di Bali. Bali atau Sumatera itu gak jadi masalah buat mas, tapi kalau mas tinggal di Bali, apakah semuanya akan berkembang?"   

          Sebenarnya, jauh dihari sebelum kau pernah menanyakan tentang Bali, aku sudah memikirkan hal itu. Bahkan aku pernah mengutarakannya pada ibuku.

"Buk, Ma'shum niku anak pertama, dia pinter. Jiwa pendidik dan akademisnya tinggi, dia hafidz, dan dia punya banyak skill yang harus diregenerasikan. Di Sumatera sana, banyak yang menunggunya, kinten-kinten pripun buk?"

Aku menyatakan hal itu semata-mata untuk mengutarakan suatu alasan bahwa aku ingin ke Sumatere. Namun, ibuku tak menjawab. Mungkin beliau memposisikan diri saja. Aku juga tak tahu apa yang dipikirkan beliau. Bahkan aku pernah berbincang dengan bapak…

“Lek terah pingine karo Ma’shum, berarti kudune yo neng Bali”.  

“Kalau harus Evi yang ke Sumatera? Pripun pak?”

          Mental mana lagi yang harus ku pupuk untuk dapat mengatakan hal itu. Dan juga, tepat pada hari Rabu di tanggal 04 Oktober lalu, bapak mendatangiku di asrama. Aku dan bapak sempat berbincang. Tentang rencana boyong, rencana lamaran, dan rencana penataan masa depan. Ada kalimat yang sempat membuatku tercengang.

“Nopo kudu teng Bali pak?”

“Iyooo!”

Dengan tegas pertanyaanku dijawab oleh satu kata saja. Dan kata itu membuatku enggan melanjutkan pembicaraan lagi. Hingga aku berbohong pada bapak. Aku pamit dan undur diri.

“Nggeh pun pak, Evi mboten saget dangu-dangu”.

Aku pamit, mencium tangan bapak, bapak mencium pipi kanan dan kiriku. Aku tak tahan, tak ingin lebih lama lagi menatap bapak. Padahal aku masih ingin melihat dan bertemu beliau. Aku takut air mataku jatuh didepan bapak. Dan lagi, aku ingat di beberapa hari sebelumnya, mas pernah bilang..

“Kalau kamu gak bisa dibawa ke Sumatera, berarti suamimu bukan mas nduk”.

Lalu seketika itu, aku bertanya lagi pada hatiku. “Dapatkah kita bersama?”

“Nduk, yang kuat ya. Mas tahu nduk itu wanita kuat, nduk itu wanita paling hebat yang pernah mas kenal. Nduk pasti bisa melewati semuanya”. Dan masih banyak lagi kalimat penenang yang kamu ucapkan padaku untuk menguatkanku yang lemah ini.

          Aku memang kuat, menghadapi fenomena pesantren yang menjadi tanggung jawab dan amanah yang harus dipikul. Aku kuat menerima seluruh perintah yang diberikan oleh pihak pesantren walau kadang itu berat. Namun jika itu soal cinta, aku tidak akan kuat. Karena cinta itu rasa bukan logika. Haq, begitulah prinsip hatiku bekerja.  Hingga saat ini, aku mempelajari banyaknya situasi dan kondisi untuk dapat menyikapi rasa dengan sebijak-bijaknya. Melatih kedewasaan dan kesabaran walau kadang itu sulit kulakukan.

          Setelah perbincangan dengan bapak berakhir dihari itu, aku kembali kekamar dan lunglai dengan segala pikir yang tak terarah. Air mataku jatuh membasah. Aku tersenyum tanpa sebab, namun hatiku ngilu dan sendu. Beginikah perjalanan cintaku? Sesulit inikah alur yang harus kulewati?

          Malamnya, aku menceritakan hasil pembicaraanku dengan bapak pada mas Ma’shum. Tangisku memecah, rasaku memberat. Dan hal itu juga pasti mempengaruhi pikirannya saat ini. Mungkinkah ia juga menangis seperti sesenggukanku? Mungkinkah ia juga mengeluh bagai laraku?

Lagi-lagi ia menguatkanku. Jika harus menunggu, aku kuat. Tapi bagaimana dengan takdir? Akankah takdir menyertai penantian kita? Akankah takdir menjanjikan peristiwa indah didepan sana untuk kita? Hingga akhirnya, pertanyaan-pertanyaan darimu teruntai menghampiriku dan ternyata aku tak dapat menerkan jawabanku sendiri.

“Keputusan mana yang harus mas ambil nduk? Bisakah kita menjadi suami-istri? Apa jalan terbaik untuk kita nduk?

          Tangisku yang jatuh pasti membuatnya berpikir keras. Ma’shum Thoyib, Dialah laki-laki yang mudah berpikir dengan hal-hal demikian dengan cerdasnya. Namun saat ini, mungkinkah itu masih berlaku?  Tangisku pasti membebaninya, keadaan ini pasti sulit diterima olehnya. Dan pasti, aku juga memberatkan langkahnya. 

          Kamu laki-laki pemilik ketangguhan yang dituntut untuk professional dalam menyikapi keadaan. Posisimu saat ini sungguh berada ditimbangan yang semuanya berat. Hal yang harus kau hadapi tak hanya tentang rasa. Karenanya, kamu harus bisa memilih jalan terbaik untuk kedepannya. Aku ingin pasrah saja, menerima keadaan sepenuhnya yang kelak akan menjadi pilihanmu. Aku tak akan menuntut apapun. Karena aku tahu bahwa semuanya berat dan sulit bagimu. Kaulah pemilik pilihan itu. Keputusan tertinggi ada ditanganmu. Pilihlah jalan terbijak dan terbaik untuk langkahmu. Aku tak ingin menyakiti atau membebanimu. Terima kasih, maafkan aku.

“Apakah harus kita yang mengalah?” tiba-tiba saja kalimat itu meluncur dari ucapanku. Entah dari bisikan mana pikiran itu datang dan teruntai. Sungguh, aku tak ingin menyulitkanmu. Karena bebanmu terlalu berat untuk memikirkan seluruh hal yang membawa kita menuju kesana. Jika kita tak bersama, mungkin kita akan menjejak dilangkah masing-masing, kau juga takkan terganggu dengan kehadiranku yang menyulitkanmu.

Namun, sanggupkah aku menerima itu?

Aku tak dapat membayangkan, bagaimana jika ternyata suamiku bukan kamu. Aku tak tahu, adakah yang dapat mengobati rasaku?

“Nduk, mas pengen nduk yang jadi istri mas. Mas pengen punya anak dari rahimmu nduk. Mas pengen kamulah yang jadi ibu dari anak-anakku”.

Betapa tingginya harap dan mimpimu padaku mas. Akupun demikian, aku juga ingin kaulah yang menjadi suamiku, menjadi imam penuntun jalanku, dan menjadi ayah dari anak-anakku.

          Semalam pula, kau bercerita tentang hal-hal gambaran masa depan yang kau bincangkan dengan ibu tercintamu. Perdebatan dan pertimbangan juga teruntai disana. Lagi-lagi, muncul kebimbangan arah diantara kita. Akankah suatu hari nanti ada penolakan? larangan? persteruan? Atau kegagalan? Lagi-lagi air mataku menitik, mengalir dalam balutan nada yang masih kupertahankan untuk tetap stabil dipendengarannya. Namun ternyata, aku salah. Dia lebih tahu dan lebih paham. Entah dari pendengaran dan terkaan yang mana ia menebaknya. Aku tak dapat menyembunyikan tangisku. Dan lagi-lagi, semuanya sulit diterka.

“Andaikan suatu hari ibuk bilang, lak arek e gak iso dijak rene, gak usah ae wes!”

Mengapa kau mengutarakannya? aku mewanti-wanti sekuat raga agar bapak ibuk tak mengutarakan kalimat itu. Aku meredam pikiran sebaik-baiknya agar tak memikirkan hal itu. Ternyata semuanya sungguh sulit untuk kita. Kau menjelaskan tentang peranmu sebagai putra berpendidikan tinggi dan harapan keluarga. Aku tahu, dan sungguh paham akan hal itu tanpa harus kau beri tahu. Keputusan apa yang kiranya harus kau pilih sebagai seorang pemimpin seperti yang dikatakan ibumu?

“Wes nduk, ojo dipikir. Gak usah nangis”. Begitulah kalimatmu yang berusaha menenangkanku.

Dan sekarang, satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah berdoa. Kita berdoa sebanyak-banyaknya. Kita harus kuat, sekuat-kuatnya. Mas, kau harus ingat. Ujian kita masih banyak. Jangan bosan-bosan bersabar, karena kekuatan adalah ujian terberat. Jika kita tak memupuk kekuatan itu, kita tak akan dapat mempertahankan hubungan kita. Aku mencintaimu, berharap setinggi-tingginya kelak kau selalu ada disampingku. Bayangan terindah kelak kau akan mencium keningku saat anak kita terlahir kedunia, masih melambung tinggi dalam anganku. Mas, percayalah padaku. Aku akan menguatkan diri sebaik-baiknya. Kau tahu, dalam rintih wirid dan sajak doaku, aku tak pernah lupa menyebut namamu. Memohon takdir terbaik agar kelak kita akan menemukan jalan terindah. Jangan kalah sama doanya bapak-ibuk. Karena beliau-beliau juga pasti memunajatkan doa terbaik untuk kita. Kita harus kuat, demi cinta kita,

Evi Hidayatul Maghfiroh & Ma’shum Thoyib

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Akhir Delapan Januari

  Tanggal ulang tahunmu Pernah menjadi salah satu tanggal yang istimewa bagiku Aku juga pernah menjadi orang pertama yang mengucapkan ...